alexametrics
32 C
Malang
Saturday, 15 May 2021

Gempa Malang Ternyata Sudah Diprediksi Guru Besar Geofisika UB

MALANG KOTA – Bencana gempa bumi yang melanda Kabupaten Malang Sabtu lalu (10/4) ternyata sudah diprediksi Guru Besar Bidang Geofisika Universitas Brawijaya (UB), Prof Adi Susilo PhD. Prediksinya itu dituangkan dalam tulisan di media nasional berjudul ’Kapan Gempa dan Tsunami di Jawa Timur’. Artikel tersebut ditulis merespon adanya kejadian bencana tsunami di Aceh tahun 2004 silam.

Di akhir tulisannya, Prof Adi memprediksi antara tahun 2010 hingga 2020 akan terjadi gempa yang cukup besar di bagian selatan Jawa Timur. Dan diketahui akhir pekan lalu, Kabupaten Malang dilanda gempa yang menyebabkan ribuan rumah rusak dan juga menelan korban jiwa.

Hal itu diungkapkan Prof Adi dalam podcast TikTalk bersama Mas Kum di Studio Jawa Pos Radar Malang hari ini (14/4). “Saat itu tahun 2006, ada begitu banyak kejadian gempa dan tsunami. Ada gempa Jogja, tsunami Pangandaran dan tsunami di Aceh tahun 2004. Masyarakat saat itu sangat panik dan phobia dengan gempa,” kata Guru Besar Bidang Geofisika UB itu.

Berawal dari situlah, Prof Adi langsung membuka-buka kembali data-data yang ia miliki. Termasuk data dari United States Geological Survey (USGS) Indonesia. ”Itu saya kumpulkan ribuan data dari Jawa Timur. Dari situ saya coba cari riwayat gempa dengan kisaran 4-5 SR (Skala Richter),” lanjut Ketua Pusat Studi Kebumian dan Kebencanaan UB itu.

Dia lantas memilih besaran skala di kisaran tersebut karena jika titik gempanya berada di laut akan cukup untuk menyebabkan tsunami. Dan jika terjadi di darat akan cukup menyebabkan kerusakan. “Akhirnya ketemulah beberapa titik gempa. Yaitu tahun 1967 juga terjadi gempa di Malang Selatan,” lanjutnya.

Namun, saat itu teknologi belum secanggih sekarang sehingga tidak diketahui dimana titik tepatnya. Dan skala yang digunakan masih skala Mercalli. Hanya saja dilihat dari kerusakan terparah gempa tahun 1967 berada di daerah Dampit. Tercatat ada 1.539 bangunan rusak, 14 orang meninggal dan 72 orang luka-luka.

Sementara di Gondanglegi, ada 9 orang tewas, 49 orang luka-luka, 119 rumah roboh, 402 rumah retak dan 5 bangunan masjid roboh. Gempa bahkan terasa hingga Kabupaten Trenggalek yang menyebabkan 33 rumah rusah dan beberapa rumah bergeser. ”Di Besuki Timur, terasa goncangannya 3-4 skala Mercalli. Bahkan di Cilacap dan Banyumas juga terasa. Itu patokan saya yang pertama,” ungkapnya. Selain itu, di tahun 1972 juga ada gempa di Gandusari dengan kekuatan 6 Skala Richter.

Prof Adi menambahkan, patokan yang kedua adalah gempa 6,7 SR yang kemudian menimbulkan bencana tsunami tahun 1994 di Banyuwangi hingga mengakibatkan lebih dari 100 orang meninggal. “Di situ saya cepat menghitung tahun 1967 ke 1994 hampir 30 tahun. Disitu saya memprediksi tsunami akan terjadi di rentang 20 hingga 30 tahun siklusnya,” kata akademisi yang juga ketua Laboratorium Geofisika Fakultas MIPA UB ini.

Dengan kata lain, tsunami siklusnya antara 20 hingga 30 tahun. Sedangkan gempa besar siklusnya adalah 10 hingga 20 tahun. “Tsunami terakhir tahun 1994, ini tahun 2021. Berarti tinggal tunggu 3 tahun lagi. Ya mudah-mudahan tidak. Tulisan saya dulu tujuannya untuk menenangkan masyarakat,” ungkapnya.

Pewarta: Intan Refa Septiana

MALANG KOTA – Bencana gempa bumi yang melanda Kabupaten Malang Sabtu lalu (10/4) ternyata sudah diprediksi Guru Besar Bidang Geofisika Universitas Brawijaya (UB), Prof Adi Susilo PhD. Prediksinya itu dituangkan dalam tulisan di media nasional berjudul ’Kapan Gempa dan Tsunami di Jawa Timur’. Artikel tersebut ditulis merespon adanya kejadian bencana tsunami di Aceh tahun 2004 silam.

Di akhir tulisannya, Prof Adi memprediksi antara tahun 2010 hingga 2020 akan terjadi gempa yang cukup besar di bagian selatan Jawa Timur. Dan diketahui akhir pekan lalu, Kabupaten Malang dilanda gempa yang menyebabkan ribuan rumah rusak dan juga menelan korban jiwa.

Hal itu diungkapkan Prof Adi dalam podcast TikTalk bersama Mas Kum di Studio Jawa Pos Radar Malang hari ini (14/4). “Saat itu tahun 2006, ada begitu banyak kejadian gempa dan tsunami. Ada gempa Jogja, tsunami Pangandaran dan tsunami di Aceh tahun 2004. Masyarakat saat itu sangat panik dan phobia dengan gempa,” kata Guru Besar Bidang Geofisika UB itu.

Berawal dari situlah, Prof Adi langsung membuka-buka kembali data-data yang ia miliki. Termasuk data dari United States Geological Survey (USGS) Indonesia. ”Itu saya kumpulkan ribuan data dari Jawa Timur. Dari situ saya coba cari riwayat gempa dengan kisaran 4-5 SR (Skala Richter),” lanjut Ketua Pusat Studi Kebumian dan Kebencanaan UB itu.

Dia lantas memilih besaran skala di kisaran tersebut karena jika titik gempanya berada di laut akan cukup untuk menyebabkan tsunami. Dan jika terjadi di darat akan cukup menyebabkan kerusakan. “Akhirnya ketemulah beberapa titik gempa. Yaitu tahun 1967 juga terjadi gempa di Malang Selatan,” lanjutnya.

Namun, saat itu teknologi belum secanggih sekarang sehingga tidak diketahui dimana titik tepatnya. Dan skala yang digunakan masih skala Mercalli. Hanya saja dilihat dari kerusakan terparah gempa tahun 1967 berada di daerah Dampit. Tercatat ada 1.539 bangunan rusak, 14 orang meninggal dan 72 orang luka-luka.

Sementara di Gondanglegi, ada 9 orang tewas, 49 orang luka-luka, 119 rumah roboh, 402 rumah retak dan 5 bangunan masjid roboh. Gempa bahkan terasa hingga Kabupaten Trenggalek yang menyebabkan 33 rumah rusah dan beberapa rumah bergeser. ”Di Besuki Timur, terasa goncangannya 3-4 skala Mercalli. Bahkan di Cilacap dan Banyumas juga terasa. Itu patokan saya yang pertama,” ungkapnya. Selain itu, di tahun 1972 juga ada gempa di Gandusari dengan kekuatan 6 Skala Richter.

Prof Adi menambahkan, patokan yang kedua adalah gempa 6,7 SR yang kemudian menimbulkan bencana tsunami tahun 1994 di Banyuwangi hingga mengakibatkan lebih dari 100 orang meninggal. “Di situ saya cepat menghitung tahun 1967 ke 1994 hampir 30 tahun. Disitu saya memprediksi tsunami akan terjadi di rentang 20 hingga 30 tahun siklusnya,” kata akademisi yang juga ketua Laboratorium Geofisika Fakultas MIPA UB ini.

Dengan kata lain, tsunami siklusnya antara 20 hingga 30 tahun. Sedangkan gempa besar siklusnya adalah 10 hingga 20 tahun. “Tsunami terakhir tahun 1994, ini tahun 2021. Berarti tinggal tunggu 3 tahun lagi. Ya mudah-mudahan tidak. Tulisan saya dulu tujuannya untuk menenangkan masyarakat,” ungkapnya.

Pewarta: Intan Refa Septiana

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru