alexametrics
26.5 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Kisah Para Mualaf Menjalani Kehidupan Barunya (2)

Ikhlas Tidak Diterima Keluarga hingga Berjuang Tinggalkan Miras

Keputusan Ketut Sukertia masuk Islam sejak tiga minggu lalu sudah bulat. Dia siap menerima segala risikonya. Termasuk tidak diterima keluarga hingga teman-temannya menjauhinya.
—————————-

Suaranya tegas, menjurus keras. Logat Bali-nya juga masih kental. Itulah kesan pertama yang tertangkap wartawan koran ini saat bertemu dengan Ketut Sukertia di markas Mualaf Center Malang (MCM) di Gang Kamboja, Bandungrejosari, Kecamatan Sukun. Eks anggota Brimob itu mengaku baru saja mengucapkan kalimat syahadat dan memeluk agama Islam. ”Sekitar tiga minggu yang lalu saya sah masuk Islam dengan ditandai baca dua kalimat syahadat,” jelas Ketut kepada Jawa Pos Radar Malang kemarin sore (13/4).

Perjalanan menjadi seorang mualaf diakui Ketut bukan sebuah hal yang gampang. Ada banyak pergolakan batin dan spiritual yang harus dilalui. Seperti salah satunya adalah ketika dirinya terkena tipu puluhan juta rupiah di awal tahun lalu. Saat itu dua mobil dan satu motornya hilang tidak berbekas. Beberapa usaha juga macet. Akibatnya, bapak dua anak sempat berada dalam kondisi ekonomi minus. ”Semua harta benda ludes. Saya seperti dinolkan oleh Allah SWT,” paparnya.

Dia mengisahkan, kondisi saat itu diakui Ketut membuatnya sangat frustrasi. Sampai-sampai ingin ”balik badan” dan tidak melanjutkan keinginan menjadi seorang mualaf. Namun, di tengah kondisi kacau itu takdir menjadi muslim tidak bisa ditolaknya. Jalan masuk Islam terbuka lebar, sementara keputusan balik badan terus meredup dari hatinya. ”Saat itu seperti mendapatkan hidayah. Bantuan-bantuan tiba-tiba datang, membuat beban yang ditanggung lebih ringan,” ungkapnya.

Seperti salah satunya tiba-tiba ada orang membayar utangnya. Lalu, dia dipertemukan dengan orang-orang baik yang dengan sukarela mengulurkan bantuan untuk dirinya bangkit dan mendapatkan pekerjaan.

Usai kejadian itu, menurut Ketut, dia semakin yakin kalau Islam memang takdirnya. Sebelumnya, meski mulai tertarik dengan Islam sejak tahun 2018-an dan belajar pada 2019-an, baru saat itu Islam benar-benar mengetuk hatinya. Dia menggambarkan relung hatinya benar-benar merasakan bagaimana besarnya Allah SWT.

Meski begitu, ujian kepada Ketut rupanya belum selesai. Kebiasaan minum-minuman beralkohol rupanya punya efek tidak kecil pada tubuhnya. Apabila tidak minum, tubuhnya berontak. Perasaan dan emosinya jadi tidak keruan. ”Karena minum (minuman keras) merupakan hal wajib dulunya, jadi tubuh gemetar kalau tidak kemasukan alkohol,” jelas pria asal Buleleng, Bali, itu.

Berada dalam kondisi itu diakuinya sangat tidak enak. Perasaannya dihadapkan pada pergolakan batin antara minum kembali atau tetap menjaga diri dari hal-hal yang dilarang agama. ”Pokoknya sebisa mungkin saat itu tidak minum lagi. Saya melawan hal itu dengan membaca zikir sebanyak-banyaknya,” jelas dia

Lebih lanjut, kebiasaan dzikir tersebut rupanya juga membuat Ketut jadi lebih tenang. Dia mengakui, dirinya perlahan juga bisa mengendalikan emosinya yang kerap meledak-ledak. ”Saya dulu itu orang temperamen, mudah tersinggung, pokoknya rasanya ingin ngajak orang berkelahi saja,” jelasnya. Namun, setelah rajin salat lima waktu, salat Tahajud, lalu perbanyak zikir serta salawat, hal tersebut hilang.

”Hati seperti terbentengi dengan melakukan hal-hal tersebut (salat, zikir, dan salawat),” kata dia. Pikiran juga seperti terprogram ulang dengan tidak takut dengan hal-hal yang berkaitan dengan dunia. Dia mengatakan sudah tidak memikirkan harta, tahta, dan status. Sebab, bagi dia, hal tersebut tidak dibawa mati.

Karena hal itulah, Ketut mengaku tidak mempermasalahkan mereka yang tidak mendukungnya masuk Islam. Dia menyebut, pilihan tersebut membuatnya tidak hanya dijauhi beberapa teman. Lebih lanjut, itu membuat dia tidak diterima keluarga besarnya hingga saat ini. ”Sampai-sampai karena saya masuk Islam, saya dikeluarkan dari banyak grup pertemanan,” tuturnya.

Keluarga, dia melanjutkan, mungkin sudah mencoret saya dari anggota keluarga. Meski dijauhi banyak orang, Ketut mengaku tetap bersyukur dan tidak memusuhi perbuatan orang-orang itu. Dia ikhlas.

Khususnya kepada kedua orang tuanya. Walaupun ada jurang perbedaan yang besar, dia mengaku bakal terus menjalin ikatan batin dan silaturahmi. ”Kalau ada rezeki saya ingin pulang. Bagaimanapun tetap ada rasa rindu kepada mereka (bapak dan ibu),” ucapnya dengan tenang sembari menghela napas. (rmc/lih/c1/abm)

Keputusan Ketut Sukertia masuk Islam sejak tiga minggu lalu sudah bulat. Dia siap menerima segala risikonya. Termasuk tidak diterima keluarga hingga teman-temannya menjauhinya.
—————————-

Suaranya tegas, menjurus keras. Logat Bali-nya juga masih kental. Itulah kesan pertama yang tertangkap wartawan koran ini saat bertemu dengan Ketut Sukertia di markas Mualaf Center Malang (MCM) di Gang Kamboja, Bandungrejosari, Kecamatan Sukun. Eks anggota Brimob itu mengaku baru saja mengucapkan kalimat syahadat dan memeluk agama Islam. ”Sekitar tiga minggu yang lalu saya sah masuk Islam dengan ditandai baca dua kalimat syahadat,” jelas Ketut kepada Jawa Pos Radar Malang kemarin sore (13/4).

Perjalanan menjadi seorang mualaf diakui Ketut bukan sebuah hal yang gampang. Ada banyak pergolakan batin dan spiritual yang harus dilalui. Seperti salah satunya adalah ketika dirinya terkena tipu puluhan juta rupiah di awal tahun lalu. Saat itu dua mobil dan satu motornya hilang tidak berbekas. Beberapa usaha juga macet. Akibatnya, bapak dua anak sempat berada dalam kondisi ekonomi minus. ”Semua harta benda ludes. Saya seperti dinolkan oleh Allah SWT,” paparnya.

Dia mengisahkan, kondisi saat itu diakui Ketut membuatnya sangat frustrasi. Sampai-sampai ingin ”balik badan” dan tidak melanjutkan keinginan menjadi seorang mualaf. Namun, di tengah kondisi kacau itu takdir menjadi muslim tidak bisa ditolaknya. Jalan masuk Islam terbuka lebar, sementara keputusan balik badan terus meredup dari hatinya. ”Saat itu seperti mendapatkan hidayah. Bantuan-bantuan tiba-tiba datang, membuat beban yang ditanggung lebih ringan,” ungkapnya.

Seperti salah satunya tiba-tiba ada orang membayar utangnya. Lalu, dia dipertemukan dengan orang-orang baik yang dengan sukarela mengulurkan bantuan untuk dirinya bangkit dan mendapatkan pekerjaan.

Usai kejadian itu, menurut Ketut, dia semakin yakin kalau Islam memang takdirnya. Sebelumnya, meski mulai tertarik dengan Islam sejak tahun 2018-an dan belajar pada 2019-an, baru saat itu Islam benar-benar mengetuk hatinya. Dia menggambarkan relung hatinya benar-benar merasakan bagaimana besarnya Allah SWT.

Meski begitu, ujian kepada Ketut rupanya belum selesai. Kebiasaan minum-minuman beralkohol rupanya punya efek tidak kecil pada tubuhnya. Apabila tidak minum, tubuhnya berontak. Perasaan dan emosinya jadi tidak keruan. ”Karena minum (minuman keras) merupakan hal wajib dulunya, jadi tubuh gemetar kalau tidak kemasukan alkohol,” jelas pria asal Buleleng, Bali, itu.

Berada dalam kondisi itu diakuinya sangat tidak enak. Perasaannya dihadapkan pada pergolakan batin antara minum kembali atau tetap menjaga diri dari hal-hal yang dilarang agama. ”Pokoknya sebisa mungkin saat itu tidak minum lagi. Saya melawan hal itu dengan membaca zikir sebanyak-banyaknya,” jelas dia

Lebih lanjut, kebiasaan dzikir tersebut rupanya juga membuat Ketut jadi lebih tenang. Dia mengakui, dirinya perlahan juga bisa mengendalikan emosinya yang kerap meledak-ledak. ”Saya dulu itu orang temperamen, mudah tersinggung, pokoknya rasanya ingin ngajak orang berkelahi saja,” jelasnya. Namun, setelah rajin salat lima waktu, salat Tahajud, lalu perbanyak zikir serta salawat, hal tersebut hilang.

”Hati seperti terbentengi dengan melakukan hal-hal tersebut (salat, zikir, dan salawat),” kata dia. Pikiran juga seperti terprogram ulang dengan tidak takut dengan hal-hal yang berkaitan dengan dunia. Dia mengatakan sudah tidak memikirkan harta, tahta, dan status. Sebab, bagi dia, hal tersebut tidak dibawa mati.

Karena hal itulah, Ketut mengaku tidak mempermasalahkan mereka yang tidak mendukungnya masuk Islam. Dia menyebut, pilihan tersebut membuatnya tidak hanya dijauhi beberapa teman. Lebih lanjut, itu membuat dia tidak diterima keluarga besarnya hingga saat ini. ”Sampai-sampai karena saya masuk Islam, saya dikeluarkan dari banyak grup pertemanan,” tuturnya.

Keluarga, dia melanjutkan, mungkin sudah mencoret saya dari anggota keluarga. Meski dijauhi banyak orang, Ketut mengaku tetap bersyukur dan tidak memusuhi perbuatan orang-orang itu. Dia ikhlas.

Khususnya kepada kedua orang tuanya. Walaupun ada jurang perbedaan yang besar, dia mengaku bakal terus menjalin ikatan batin dan silaturahmi. ”Kalau ada rezeki saya ingin pulang. Bagaimanapun tetap ada rasa rindu kepada mereka (bapak dan ibu),” ucapnya dengan tenang sembari menghela napas. (rmc/lih/c1/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/