alexametrics
29 C
Malang
Saturday, 15 May 2021

Kenapa Gempa Bumi Malang Merusak di Daerah Tertentu?

GEMPA bumi dengan magnitudo 6,1 SR terjadi di selatan/barat daya Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (10/4) pukul 14.00 WIB, dengan lintang/bujur 8,83 LS dan 112,5 BT. Gempa ini adalah diakibatkan oleh aktivitas subduksi atau tumbukan antara kerak/lempeng samudra (Indo-Australia) yang masuk/menunjam ke kerak/lempeng benua (Eurasia).

Memang, pusat gempa adalah sepanjang jalur tumbukan tersebut. Sepanjang jalur tumbukan yang dimulai dari sebelah barat Sumatra, terus berbelok ke sebelah selatan Jawa, Bali, Flores, dan belok ke daerah Maluku, merupakan jalur dari gempa. Tidak hanya gempa, potensi terjadinya tsunami juga sangat mungkin terjadi jika patahan yang terjadi adalah patahan turun dan kekuatan gempa sekitar 7 SR ke atas. Penulis pernah mempublikasikan tulisannya di harian Kompas, tanggal 25 Juli 2006, dengan judul ”Kapan Gempa atau Tsunami di Jawa Timur?”

Baca juga:
Update Gempa Malang: 5.010 Rumah Warga Rusak
Gempa Malang, Presiden Jokowi Minta Penanganan Korban Disegerakan

Kali ini penulis tidak akan membahas mengenai terjadinya gempa dan tsunami, tapi akan lebih spesifik mengenai kenapa gempa bumi yang terjadi tanggal 10 April 2021 tersebut memberikan kerusakan yang parah pada Kecamatan Dampit dan sekitarnya.

Sebelum membahasnya, penulis akan menyajikan suatu data, yaitu gempa bumi pada tanggal 19 Februari 1967 di Malang yang episentrumnya (pusat gempa) 8,5 LS-113,5 BT, kedalaman H: 80 km, dan kekuatan M: 6.2 SR memberikan kerusakan yang sangat dahsyat. Menurut catatan, kerusakan dan korban adalah kerusakan terberat terjadi di Kecamatan Dampit sejumlah 1.539 bangunan, 14 orang meninggal, dan 72 orang luka-luka. Di Kecamatan Gondanglegi 9 orang tewas, 49 orang luka-luka, 119 rumah roboh, 402 bangunan retak-retak, dan 5 buah masjid runtuh. Di Kabupaten Trenggalek 33 rumah kayu rusak dan beberapa rumah berpindah/bergeser. Di Besuki terasa dengan intensitas III-IV MMI. Di Kecamatan Tanggul bangunan berayun dan terjadi kerusakan kecil, bahkan goncangan terasa sampai Banyumas (Cilacap), namun dilaporkan tidak terjadi tsunami. Kalau melihat sejarah dan data ini, daerah Dampit dan sekitarnya, sepertinya rawan sekali terhadap gempa, terutama gempa yang pusatnya di sekitar Malang.

Suatu gempa akan memberikan efek yang besar terhadap suatu infrastruktur, jika amplifikasi (Ao) atau penguatan gelombang besar adalah besar. Daerah atau lapisan batuan/soil seperti apa yang bisa memberikan amplifikasi cukup besar. Batuan lunak adalah batuan yang memberikan amplifikasi besar. Contoh dari batuan lunak adalah sedimen hasil endapan dari sungai (lumpur, dll), lapisan lempung, daerah-daerah bekas rawa yang mana sedimennya belum sepenuhnya keras.

Penulis bersama mahasiswa pernah penelitian, yaitu ketika pembangunan jembatan di suatu tempat tertentu, ketika paku bumi dipukul dengan peralatan mesin, maka daerah sekitarnya merasakan getaran yang cukup besar. Bahkan rumah-rumah di sekitarnya terjadi retak-retak. Diketahui bahwa daerah tersebut merupakan daerah dari hasil endapan sungai yang bagian hampir hilir sehingga bukan pasir dan kerikil yang diendapkan, namun merupakan sedimen lembut (lumpur dan lempung) yang banyak diendapkan. Ditambah lagi dari segi geologi, umurnya belumlah terlalu tua.

Kasus yang lain adalah ketika penulis bersama dengan mahasiswa pascasarjana mengadakan kuliah lapangan geologi di daerah Kabupaten Lumajang bagian selatan, di sekitar Pantai Bambang. Didapati suatu daerah yang memang subur, persawahan, yang merupakan hasil dari pengendapan sungi di bagian hilir dan juga bekas rawa. Ketika kita menghantamkan kaki ke tanah, maka tempat di sekitarnya merasakan getaran tersebut. Sehingga, perlu kehati-hatian dari masyarakat bila ingin membangun bangunan di daerah sedimen lunak. Saran dan bimbingan dari para ahli dan pemerintah sangat diperlukan untuk mengatasi hal ini. Daerah seperti Dampit dan lebih ke selatan lagi yaitu di daerah yang saat ini cukup parah kerusakannya, sepertinya juga beberapa masuk daerah yang penulis sebutkan di atas.

Hal selanjutnya yang sangat mungkin adalah masyarakat desa, pada zaman dahulu ketika membangun rumah belum terbiasa dengan adanya besi bangunan yang dipasang di pojok-pojok rumah/bangunan. Penulis teringat cerita orang tua dan melihat sendiri bahwa retakan yang terjadi di rumah orang tua penulis (Malang Selatan) adalah akibat gempa bumi pada tahun 1967. Maka dari itu, Malang adalah suatu daerah yang termasuk banyak patahan lokal dan juga di sebelah selatan (jalur tumbukan) merupakan daerah gempa.

Sehingga, sangatlah perlu sekali, bimbingan dari pemerintah dan peneliti dalam hal mendirikan rumah/infrastruktur. Hal yang tidak kalah penting adalah adanya patahan-patahan lokal. Meskipun sepertinya tidak aktif, tetapi bisa juga dilihat, khususnya pada saat musim hujan, apakah ada sesuatu hal membahayakan yang terjadi di rumah masyarakat. Hal membahayakan tersebut di antaranya adalah tiba-tiba pintu rumah atau kamar tidak bisa dibuka, lantai rekah, tembok juga rekah. Di luar rumah, jika ada tiang listrik, maka kabel tiang listrik tersebut, ada yang tegang dan juga ada yang kendor. Hal seperti ini menandakan adakah patahan aktif ataupun gerakan tanah pada daerah tersebut.

Kembali ke gempa bumi yang merusak. Amplifikasi ini bisa dihitung dengan menelitinya, yaitu dengan peralatan seismometer (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mempunyai peralatan ini). Untuk itu, sosialisasi, latihan, dan peringatan dini perlu selalu diupayakan untuk dilakukan. Pentahelix dalam penanggulan bencana terus dilakukan dan diaktifkan. Semoga bencana alam yang merusak dampaknya bisa dikurangi dengan pengetahuan yang semakin bertambah.

* Penulis adalah Ketua Laboratorium Geofisika FMIPA Universitas Brawijaya, Ketua Pusat Studi Kebumian dan Mitigasi Bencana Universitas Brawijaya, Pengurus Pusat Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)ge

GEMPA bumi dengan magnitudo 6,1 SR terjadi di selatan/barat daya Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (10/4) pukul 14.00 WIB, dengan lintang/bujur 8,83 LS dan 112,5 BT. Gempa ini adalah diakibatkan oleh aktivitas subduksi atau tumbukan antara kerak/lempeng samudra (Indo-Australia) yang masuk/menunjam ke kerak/lempeng benua (Eurasia).

Memang, pusat gempa adalah sepanjang jalur tumbukan tersebut. Sepanjang jalur tumbukan yang dimulai dari sebelah barat Sumatra, terus berbelok ke sebelah selatan Jawa, Bali, Flores, dan belok ke daerah Maluku, merupakan jalur dari gempa. Tidak hanya gempa, potensi terjadinya tsunami juga sangat mungkin terjadi jika patahan yang terjadi adalah patahan turun dan kekuatan gempa sekitar 7 SR ke atas. Penulis pernah mempublikasikan tulisannya di harian Kompas, tanggal 25 Juli 2006, dengan judul ”Kapan Gempa atau Tsunami di Jawa Timur?”

Baca juga:
Update Gempa Malang: 5.010 Rumah Warga Rusak
Gempa Malang, Presiden Jokowi Minta Penanganan Korban Disegerakan

Kali ini penulis tidak akan membahas mengenai terjadinya gempa dan tsunami, tapi akan lebih spesifik mengenai kenapa gempa bumi yang terjadi tanggal 10 April 2021 tersebut memberikan kerusakan yang parah pada Kecamatan Dampit dan sekitarnya.

Sebelum membahasnya, penulis akan menyajikan suatu data, yaitu gempa bumi pada tanggal 19 Februari 1967 di Malang yang episentrumnya (pusat gempa) 8,5 LS-113,5 BT, kedalaman H: 80 km, dan kekuatan M: 6.2 SR memberikan kerusakan yang sangat dahsyat. Menurut catatan, kerusakan dan korban adalah kerusakan terberat terjadi di Kecamatan Dampit sejumlah 1.539 bangunan, 14 orang meninggal, dan 72 orang luka-luka. Di Kecamatan Gondanglegi 9 orang tewas, 49 orang luka-luka, 119 rumah roboh, 402 bangunan retak-retak, dan 5 buah masjid runtuh. Di Kabupaten Trenggalek 33 rumah kayu rusak dan beberapa rumah berpindah/bergeser. Di Besuki terasa dengan intensitas III-IV MMI. Di Kecamatan Tanggul bangunan berayun dan terjadi kerusakan kecil, bahkan goncangan terasa sampai Banyumas (Cilacap), namun dilaporkan tidak terjadi tsunami. Kalau melihat sejarah dan data ini, daerah Dampit dan sekitarnya, sepertinya rawan sekali terhadap gempa, terutama gempa yang pusatnya di sekitar Malang.

Suatu gempa akan memberikan efek yang besar terhadap suatu infrastruktur, jika amplifikasi (Ao) atau penguatan gelombang besar adalah besar. Daerah atau lapisan batuan/soil seperti apa yang bisa memberikan amplifikasi cukup besar. Batuan lunak adalah batuan yang memberikan amplifikasi besar. Contoh dari batuan lunak adalah sedimen hasil endapan dari sungai (lumpur, dll), lapisan lempung, daerah-daerah bekas rawa yang mana sedimennya belum sepenuhnya keras.

Penulis bersama mahasiswa pernah penelitian, yaitu ketika pembangunan jembatan di suatu tempat tertentu, ketika paku bumi dipukul dengan peralatan mesin, maka daerah sekitarnya merasakan getaran yang cukup besar. Bahkan rumah-rumah di sekitarnya terjadi retak-retak. Diketahui bahwa daerah tersebut merupakan daerah dari hasil endapan sungai yang bagian hampir hilir sehingga bukan pasir dan kerikil yang diendapkan, namun merupakan sedimen lembut (lumpur dan lempung) yang banyak diendapkan. Ditambah lagi dari segi geologi, umurnya belumlah terlalu tua.

Kasus yang lain adalah ketika penulis bersama dengan mahasiswa pascasarjana mengadakan kuliah lapangan geologi di daerah Kabupaten Lumajang bagian selatan, di sekitar Pantai Bambang. Didapati suatu daerah yang memang subur, persawahan, yang merupakan hasil dari pengendapan sungi di bagian hilir dan juga bekas rawa. Ketika kita menghantamkan kaki ke tanah, maka tempat di sekitarnya merasakan getaran tersebut. Sehingga, perlu kehati-hatian dari masyarakat bila ingin membangun bangunan di daerah sedimen lunak. Saran dan bimbingan dari para ahli dan pemerintah sangat diperlukan untuk mengatasi hal ini. Daerah seperti Dampit dan lebih ke selatan lagi yaitu di daerah yang saat ini cukup parah kerusakannya, sepertinya juga beberapa masuk daerah yang penulis sebutkan di atas.

Hal selanjutnya yang sangat mungkin adalah masyarakat desa, pada zaman dahulu ketika membangun rumah belum terbiasa dengan adanya besi bangunan yang dipasang di pojok-pojok rumah/bangunan. Penulis teringat cerita orang tua dan melihat sendiri bahwa retakan yang terjadi di rumah orang tua penulis (Malang Selatan) adalah akibat gempa bumi pada tahun 1967. Maka dari itu, Malang adalah suatu daerah yang termasuk banyak patahan lokal dan juga di sebelah selatan (jalur tumbukan) merupakan daerah gempa.

Sehingga, sangatlah perlu sekali, bimbingan dari pemerintah dan peneliti dalam hal mendirikan rumah/infrastruktur. Hal yang tidak kalah penting adalah adanya patahan-patahan lokal. Meskipun sepertinya tidak aktif, tetapi bisa juga dilihat, khususnya pada saat musim hujan, apakah ada sesuatu hal membahayakan yang terjadi di rumah masyarakat. Hal membahayakan tersebut di antaranya adalah tiba-tiba pintu rumah atau kamar tidak bisa dibuka, lantai rekah, tembok juga rekah. Di luar rumah, jika ada tiang listrik, maka kabel tiang listrik tersebut, ada yang tegang dan juga ada yang kendor. Hal seperti ini menandakan adakah patahan aktif ataupun gerakan tanah pada daerah tersebut.

Kembali ke gempa bumi yang merusak. Amplifikasi ini bisa dihitung dengan menelitinya, yaitu dengan peralatan seismometer (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mempunyai peralatan ini). Untuk itu, sosialisasi, latihan, dan peringatan dini perlu selalu diupayakan untuk dilakukan. Pentahelix dalam penanggulan bencana terus dilakukan dan diaktifkan. Semoga bencana alam yang merusak dampaknya bisa dikurangi dengan pengetahuan yang semakin bertambah.

* Penulis adalah Ketua Laboratorium Geofisika FMIPA Universitas Brawijaya, Ketua Pusat Studi Kebumian dan Mitigasi Bencana Universitas Brawijaya, Pengurus Pusat Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)ge

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru