alexametrics
26.1 C
Malang
Sunday, 29 May 2022

Pemkab Malang Gratiskan Rapid Test, Ini Syaratnya

TAJINAN – Bupati Malang Drs HM Sanusi MM membuat kebijakan baru untuk menekan angka penyebaran Covid-19. Di antaranya dengan menggratiskan biaya rapid test.
Hal ini disampaikan Sanusi usai meresmikan dua kampung tangguh di Kecamatan Tajinan kemarin (14/7).
Rapid test gratis, tidak ada tarikan (pungutan) dari kabupaten, kalau ada itu tidak benar. Di Kabupaten Malang semua pelayanan yang terkait dengan Covid-19 gratis, tidak ada biaya yang dibebankan kepada masyarakat,” tegas Sanusi.
Pernyataan ini sekaligus menjawab isu yang beredar di lapangan bahwa rapid test dijadikan bisnis oleh oknum tertentu guna mencari keuntungan sepihak.
Namun, yang menjadi penekanan, rapid test tersebut hanya diperuntukkan bagi mereka yang memang memiliki riwayat kontak atau gejala yang mirip dengan Covid-19. ”Kalau tidak punya gejala atau riwayat kontak dengan pasien positif, ya buat apa dites, kan tidak ada manfaatnya,” sambungnya.
Selain itu, pria asal Gondanglegi itu menuturkan bahwa pihaknya juga akan memperluas jangkauan tracing terhadap orang-orang yang pernah kontak dengan pasien positif. ”Kepada satu orang yang positif, minimal 20 orang yang masuk radius di sekitarnya harus di-rapid test. Jika reaktif kami uji lagi dengan rapid test untuk kali kedua, baru setelah itu di-swab,” beber Sanusi.
Pewarta: Farik Fajarwati
Editor: Indra M

TAJINAN – Bupati Malang Drs HM Sanusi MM membuat kebijakan baru untuk menekan angka penyebaran Covid-19. Di antaranya dengan menggratiskan biaya rapid test.
Hal ini disampaikan Sanusi usai meresmikan dua kampung tangguh di Kecamatan Tajinan kemarin (14/7).
Rapid test gratis, tidak ada tarikan (pungutan) dari kabupaten, kalau ada itu tidak benar. Di Kabupaten Malang semua pelayanan yang terkait dengan Covid-19 gratis, tidak ada biaya yang dibebankan kepada masyarakat,” tegas Sanusi.
Pernyataan ini sekaligus menjawab isu yang beredar di lapangan bahwa rapid test dijadikan bisnis oleh oknum tertentu guna mencari keuntungan sepihak.
Namun, yang menjadi penekanan, rapid test tersebut hanya diperuntukkan bagi mereka yang memang memiliki riwayat kontak atau gejala yang mirip dengan Covid-19. ”Kalau tidak punya gejala atau riwayat kontak dengan pasien positif, ya buat apa dites, kan tidak ada manfaatnya,” sambungnya.
Selain itu, pria asal Gondanglegi itu menuturkan bahwa pihaknya juga akan memperluas jangkauan tracing terhadap orang-orang yang pernah kontak dengan pasien positif. ”Kepada satu orang yang positif, minimal 20 orang yang masuk radius di sekitarnya harus di-rapid test. Jika reaktif kami uji lagi dengan rapid test untuk kali kedua, baru setelah itu di-swab,” beber Sanusi.
Pewarta: Farik Fajarwati
Editor: Indra M

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/