alexametrics
20.7 C
Malang
Monday, 23 May 2022

Rekor, Balekambang Pernah Dikunjungi 20 Ribu Wisatawan Dalam Sehari

KABUPATEN – Ritual maut yang menelan 11 korban jiwa di Jember menjadi perhatian serius pengelola wisata pantai di Malang Selatan. Untuk mengantisipasi korban jiwa, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Jasa Yasa berkomitmen akan mengawal ritual di Pantai Balekambang, Desa Srigonco, Kecamatan Bantur.

Untuk diketahui, Pantai Balekambang merupakan wisata yang dikelola oleh Perumda Jasa Yasa. Selama ini, Balekambang kerap dijadikan ritual hari besar keagamaan. Misalnya, ritual Jalanidi Puja atau melasti yang digelar umat Hindu.

Direktur Perumda Jasa Yasa Husnul Hakim Syadad mengatakan, ritual di wilayah pantai Selatan Kabupaten Malang harus dalam pengawasan pengelola. Jika ada ritual di Pantai Balekambang misalnya, Husnul menegaskan akan mengawalnya.

”Kalau di Pantai Balekambang dan Pantai Ngliyep, selalu ada SAR dan Polairud (yang mengawasi). Ketika ada ritual keagamaan, harus ada izin pengelola. Di titik-titik pantai yang tidak boleh ada kegiatan, kami pasti peringatkan,” ujar Husnul, kemarin (15/2)

Untuk diketahui, Pantai Balekambang dalam pengelolaan Perumda Jasa Yasa. Menurut Husnul, ritual agama Hindu berlangsung secara rutin di Balekambang. Tiap tahun, ritual Jalanidi Puja atau melasti mengundang cukup banyak pengunjung. Begitu juga ritual larung sesaji tiap satu sura.

Namun, pria yang pernah menjabat Ketua GP Ansor Kabupaten Malang itu menyebut selama ini tak pernah ada insiden saat ritual berlangsung. ”Karena kami selalu antisipasi dan mengawal. Apalagi ada ritual hari besar Hindu, SAR dan Polairud, serta pengelola pasti menjaga,” tambahnya.

Husnul menerangkan, selama ini Pantai Balekambang maupun Ngliyep tidak terkenal dengan ombak tinggi. Sehingga tidak membahayakan pengunjung. Lagi pula, pada awal 2022 ini jumlah pengunjung di Balekambang maupun Ngliyep sepi.

Tiap akhir pekan, Balekambang maupun Ngliyep kedatangan sekitar 500 pengunjung. Jika sepekan bisa 1.000 pengunjung, Husnul menyebut itu sudah bagus. Rekor kunjungan tertinggi adalah saat tahun baru sebelum pandemi. “Bisa sampai 20 ribu orang. Tapi itu sebelum pandemi,” kata dia.(fin/dan)

KABUPATEN – Ritual maut yang menelan 11 korban jiwa di Jember menjadi perhatian serius pengelola wisata pantai di Malang Selatan. Untuk mengantisipasi korban jiwa, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Jasa Yasa berkomitmen akan mengawal ritual di Pantai Balekambang, Desa Srigonco, Kecamatan Bantur.

Untuk diketahui, Pantai Balekambang merupakan wisata yang dikelola oleh Perumda Jasa Yasa. Selama ini, Balekambang kerap dijadikan ritual hari besar keagamaan. Misalnya, ritual Jalanidi Puja atau melasti yang digelar umat Hindu.

Direktur Perumda Jasa Yasa Husnul Hakim Syadad mengatakan, ritual di wilayah pantai Selatan Kabupaten Malang harus dalam pengawasan pengelola. Jika ada ritual di Pantai Balekambang misalnya, Husnul menegaskan akan mengawalnya.

”Kalau di Pantai Balekambang dan Pantai Ngliyep, selalu ada SAR dan Polairud (yang mengawasi). Ketika ada ritual keagamaan, harus ada izin pengelola. Di titik-titik pantai yang tidak boleh ada kegiatan, kami pasti peringatkan,” ujar Husnul, kemarin (15/2)

Untuk diketahui, Pantai Balekambang dalam pengelolaan Perumda Jasa Yasa. Menurut Husnul, ritual agama Hindu berlangsung secara rutin di Balekambang. Tiap tahun, ritual Jalanidi Puja atau melasti mengundang cukup banyak pengunjung. Begitu juga ritual larung sesaji tiap satu sura.

Namun, pria yang pernah menjabat Ketua GP Ansor Kabupaten Malang itu menyebut selama ini tak pernah ada insiden saat ritual berlangsung. ”Karena kami selalu antisipasi dan mengawal. Apalagi ada ritual hari besar Hindu, SAR dan Polairud, serta pengelola pasti menjaga,” tambahnya.

Husnul menerangkan, selama ini Pantai Balekambang maupun Ngliyep tidak terkenal dengan ombak tinggi. Sehingga tidak membahayakan pengunjung. Lagi pula, pada awal 2022 ini jumlah pengunjung di Balekambang maupun Ngliyep sepi.

Tiap akhir pekan, Balekambang maupun Ngliyep kedatangan sekitar 500 pengunjung. Jika sepekan bisa 1.000 pengunjung, Husnul menyebut itu sudah bagus. Rekor kunjungan tertinggi adalah saat tahun baru sebelum pandemi. “Bisa sampai 20 ribu orang. Tapi itu sebelum pandemi,” kata dia.(fin/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/