alexametrics
22.6 C
Malang
Thursday, 19 May 2022

Kisah Para Mualaf Menjalani Kehidupan Barunya (4)

Enam Bulan Masuk Islam, Dapat ”Teror” hingga Cibiran Teman

Kehidupan Wahyu Salman berubah pasca memeluk Islam 2016 lalu. Yang paling menonjol jiwa sosialnya menjadi tinggi. Dia rajin berbagi, mulai makanan sampai Alquran. Dia mantap menjadi muslim meski dulu kerap dapat ”teror”.

__________________

Wahyu Salman terlihat begitu khusyuk dengan gadget di tangannya. Mulutnya terpantau komat-kamit seperti tengah membaca sesuatu. Hampir sekitar lima menit pria asal Bengkulu itu tidak mengubah posisi duduknya. ”Sebentar ya Mas, saya lanjut membaca Alquran dulu. Tanggung, sudah ayat-ayat terakhir surat,” ujarnya sembari mempersilakan duduk wartawan koran ini kemarin sore (15/4).

Semenjak menjadi mualaf pada 2016 yang lalu, Wahyu mengaku memang rajin membaca Alquran di sela tidak ada kerjaan. Selain memperlancar bacaan, menambah ilmu, aktivitas itu juga digunakannya untuk menyegarkan hati dan juga pikirannya. ”Membaca Alquran membuat tenang, apalagi saat Ramadan, juga sarat akan pahala,” papar pria yang baru saja melepas masa lajang itu sembari tertawa.

Untuk bulan puasa di tahun 2021 ini, Wahyu menargetkan bisa untuk khatam Alquran beberapa kali. Bagi dia, Ramadan adalah sebuah kesempatan untuk mendulang sebanyak-banyak pahala. Sebab, banyak amalan yang dikalikan berkali-kali lipat saat bulan suci seperti saat ini.
Wahyu mengisahkan, melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT adalah cara menangkal hal negatif saat pertama-pertama menjadi muslim. Di mana disebutnya selama berbulan-bulan pasca masuk Islam, banyak sekali cibiran yang dirasakannya. Utamanya berasal dari teman-temannya.

”Enam bulan awal setelah masuk Islam banyak dijauhi teman. Mereka selalu memandang saya sinis dan berkata: ’Jangan dekat-dekati kami itu orang najis, kamu orang suci’,” kenangnya. Meski menjadi hal yang tidak mengenakkan, pria kelahiran 1994 itu mengaku tetap keukeuh dengan pilihannya. Menurut dia, Islam memang menjadi jalannya.

Efek dia masuk Islam tidak hanya dirasakan Wahyu sendiri. Menurut dia, kedua orang tua angkatnya di Bengkulu juga terkena dampak. ”Sampai-sampai orang tua di sana tidak didaftarkan mendapatkan bantuan sosial karena saya Islam,” ucapnya. Namun, sekarang sudah lebih baik. Diskriminasi itu sudah hilang.

Wahyu menjelaskan, keyakinan Islam tumbuh di hatinya secara natural. Di mana dia yang seorang pemeluk agama Buddha selalu senang melihat teman-temannya di asrama pergi ke masjid. Lantunan suara azan disebutnya membuat hatinya tenang meski tidak mengetahui artinya. ”Sampai-sampai dulu saat ada kajian ikut. Juga kepengin ikut salat,” jelas mahasiswa S-2 Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Tidak berhenti di situ, Wahyu mengaku saat di asmara juga sering membersihkan musala tempat teman-temannya melakukan kegiatan agama. Mulai dari salat, kajian agama, sampai membaca Alquran. ”Jujur ketika itu teman-teman tidak ada yang mengajak saya untuk lakukan hal itu (bersih-bersih asrama). Tapi, kaki ini seperti tergerak saja,” ucap pria berusia 27 tahun itu.

Sering bergaul dengan teman dan kerap hadir di aktivitas agama Islam membuat Wahyu pada 2016 memutuskan masuk Islam. Ada dua momen yang menjadi titik balik akhirnya dia mantap untuk memeluk agama Islam. Yang pertama adalah karena bermimpi. Dalam mimpi itu, Wahyu mendapatkan pesan kalau tempat terbaik dirinya adalah di sini (Islam). ”Jadi semakin mantap lagi setelah sering ikut pengajian Riyadlul Jannah,” jelasnya.

Setiap salawat dia merasakan pergolakan batin yang tidak pernah dirasakannya. Wahyu merasa damai dan tiba-tiba kerap mengucurkan air mata sendiri. Wahyu mengingat kedua orang tuanya yang sejatinya adalah seorang muslim.

Sebagai informasi, Wahyu memang lahir dari keluarga muslim. Namun, karena kedua orang tuanya meninggal, dia harus mengikuti agama yang dianut keluarga angkatnya yang saat itu kebetulan adalah Buddha. Dia diadopsi setelah beberapa tahun hidup di panti asuhan.

”Jiwa seperti terpanggil untuk kembali ke Islam,” paparnya. Karena itu, setelah mengucapkan dua kalimat syahadat di 2016, Wahyu langsung masuk sebuah pondok yang ada di Malang. Di sana dia belajar sungguh-sungguh mengenai Islam. Seiring berjalannya waktu, dia menemukan banyak hal istimewa terkait agama tersebut.

Salah satunya adalah Islam merupakan agama yang benar-benar istimewa. Maksudnya, segala hal diatur sebaik mungkin yang mana membuat penganut bisa mendapatkan banyak hal positif. Misalnya adalah larangan minum-minuman keras. ”Lalu salat. Membuat orang jadi punya waktu terstruktur,” paparnya. Sebab, seseorang diatur kehidupan untuk seimbang antara bekerja dan menjalankan kegiatan agama. Karena semua harus seimbang dalam Islam, diakui jiwa sosial dari owner Dapur_Nikiae ini meningkat. Pasalnya, setiap perbuatan baik dicatat sebagai amal saleh.

Dalam perjalanannya, Wahyu mengaku membentuk komunitas muslim yang mempunyai misi sosial yang dia sebut kegiatannya ada banyak hal. ”Komunitas yang kami bentuk, biasanya membagi-bagi makanan, lalu juga sumbang Alquran di masjid-masjid,” ucapnya.

Untuk berbagi Alquran, dia menyebut, dilakukan setiap bulan. Kegiatan itu menyasar masjid yang ada di pinggiran Malang. ”Kami ingin membudayakan kegiatan membaca Alquran,” jelasnya. Sebab, segala hal tentang Islam ada di dalam kitab suci tersebut. Selain itu, dia melanjutkan lanjut, dirinya juga ingin menghidupkan dakwah-dakwah di Nusantara. (rmc/lih/c1/abm)

Kehidupan Wahyu Salman berubah pasca memeluk Islam 2016 lalu. Yang paling menonjol jiwa sosialnya menjadi tinggi. Dia rajin berbagi, mulai makanan sampai Alquran. Dia mantap menjadi muslim meski dulu kerap dapat ”teror”.

__________________

Wahyu Salman terlihat begitu khusyuk dengan gadget di tangannya. Mulutnya terpantau komat-kamit seperti tengah membaca sesuatu. Hampir sekitar lima menit pria asal Bengkulu itu tidak mengubah posisi duduknya. ”Sebentar ya Mas, saya lanjut membaca Alquran dulu. Tanggung, sudah ayat-ayat terakhir surat,” ujarnya sembari mempersilakan duduk wartawan koran ini kemarin sore (15/4).

Semenjak menjadi mualaf pada 2016 yang lalu, Wahyu mengaku memang rajin membaca Alquran di sela tidak ada kerjaan. Selain memperlancar bacaan, menambah ilmu, aktivitas itu juga digunakannya untuk menyegarkan hati dan juga pikirannya. ”Membaca Alquran membuat tenang, apalagi saat Ramadan, juga sarat akan pahala,” papar pria yang baru saja melepas masa lajang itu sembari tertawa.

Untuk bulan puasa di tahun 2021 ini, Wahyu menargetkan bisa untuk khatam Alquran beberapa kali. Bagi dia, Ramadan adalah sebuah kesempatan untuk mendulang sebanyak-banyak pahala. Sebab, banyak amalan yang dikalikan berkali-kali lipat saat bulan suci seperti saat ini.
Wahyu mengisahkan, melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT adalah cara menangkal hal negatif saat pertama-pertama menjadi muslim. Di mana disebutnya selama berbulan-bulan pasca masuk Islam, banyak sekali cibiran yang dirasakannya. Utamanya berasal dari teman-temannya.

”Enam bulan awal setelah masuk Islam banyak dijauhi teman. Mereka selalu memandang saya sinis dan berkata: ’Jangan dekat-dekati kami itu orang najis, kamu orang suci’,” kenangnya. Meski menjadi hal yang tidak mengenakkan, pria kelahiran 1994 itu mengaku tetap keukeuh dengan pilihannya. Menurut dia, Islam memang menjadi jalannya.

Efek dia masuk Islam tidak hanya dirasakan Wahyu sendiri. Menurut dia, kedua orang tua angkatnya di Bengkulu juga terkena dampak. ”Sampai-sampai orang tua di sana tidak didaftarkan mendapatkan bantuan sosial karena saya Islam,” ucapnya. Namun, sekarang sudah lebih baik. Diskriminasi itu sudah hilang.

Wahyu menjelaskan, keyakinan Islam tumbuh di hatinya secara natural. Di mana dia yang seorang pemeluk agama Buddha selalu senang melihat teman-temannya di asrama pergi ke masjid. Lantunan suara azan disebutnya membuat hatinya tenang meski tidak mengetahui artinya. ”Sampai-sampai dulu saat ada kajian ikut. Juga kepengin ikut salat,” jelas mahasiswa S-2 Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Tidak berhenti di situ, Wahyu mengaku saat di asmara juga sering membersihkan musala tempat teman-temannya melakukan kegiatan agama. Mulai dari salat, kajian agama, sampai membaca Alquran. ”Jujur ketika itu teman-teman tidak ada yang mengajak saya untuk lakukan hal itu (bersih-bersih asrama). Tapi, kaki ini seperti tergerak saja,” ucap pria berusia 27 tahun itu.

Sering bergaul dengan teman dan kerap hadir di aktivitas agama Islam membuat Wahyu pada 2016 memutuskan masuk Islam. Ada dua momen yang menjadi titik balik akhirnya dia mantap untuk memeluk agama Islam. Yang pertama adalah karena bermimpi. Dalam mimpi itu, Wahyu mendapatkan pesan kalau tempat terbaik dirinya adalah di sini (Islam). ”Jadi semakin mantap lagi setelah sering ikut pengajian Riyadlul Jannah,” jelasnya.

Setiap salawat dia merasakan pergolakan batin yang tidak pernah dirasakannya. Wahyu merasa damai dan tiba-tiba kerap mengucurkan air mata sendiri. Wahyu mengingat kedua orang tuanya yang sejatinya adalah seorang muslim.

Sebagai informasi, Wahyu memang lahir dari keluarga muslim. Namun, karena kedua orang tuanya meninggal, dia harus mengikuti agama yang dianut keluarga angkatnya yang saat itu kebetulan adalah Buddha. Dia diadopsi setelah beberapa tahun hidup di panti asuhan.

”Jiwa seperti terpanggil untuk kembali ke Islam,” paparnya. Karena itu, setelah mengucapkan dua kalimat syahadat di 2016, Wahyu langsung masuk sebuah pondok yang ada di Malang. Di sana dia belajar sungguh-sungguh mengenai Islam. Seiring berjalannya waktu, dia menemukan banyak hal istimewa terkait agama tersebut.

Salah satunya adalah Islam merupakan agama yang benar-benar istimewa. Maksudnya, segala hal diatur sebaik mungkin yang mana membuat penganut bisa mendapatkan banyak hal positif. Misalnya adalah larangan minum-minuman keras. ”Lalu salat. Membuat orang jadi punya waktu terstruktur,” paparnya. Sebab, seseorang diatur kehidupan untuk seimbang antara bekerja dan menjalankan kegiatan agama. Karena semua harus seimbang dalam Islam, diakui jiwa sosial dari owner Dapur_Nikiae ini meningkat. Pasalnya, setiap perbuatan baik dicatat sebagai amal saleh.

Dalam perjalanannya, Wahyu mengaku membentuk komunitas muslim yang mempunyai misi sosial yang dia sebut kegiatannya ada banyak hal. ”Komunitas yang kami bentuk, biasanya membagi-bagi makanan, lalu juga sumbang Alquran di masjid-masjid,” ucapnya.

Untuk berbagi Alquran, dia menyebut, dilakukan setiap bulan. Kegiatan itu menyasar masjid yang ada di pinggiran Malang. ”Kami ingin membudayakan kegiatan membaca Alquran,” jelasnya. Sebab, segala hal tentang Islam ada di dalam kitab suci tersebut. Selain itu, dia melanjutkan lanjut, dirinya juga ingin menghidupkan dakwah-dakwah di Nusantara. (rmc/lih/c1/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/