alexametrics
24.1 C
Malang
Tuesday, 15 June 2021

Dosen UM Kampanyekan Kesetaraan Gender Lewat Buku Cerita Rakyat

MALANG – Dosen Universitas Negeri Malang (UM) Prof Madya Dr Norhayati Ab. Rahman punya cara tersendiri untuk mengampanyekan kesetaraan gender dan inklusi sosial, lewat buku cerita rakyat yang berjudul Kisah Ketangguhan Putri Nusantara.

Ada empat cerita rakyat yang terangkum dalam buku tersebut, yaitu Kebijaksanaan Nyi Dasima, Akulah Dewi Samboja, Kisah Putri Tandampalik dan Pangeran Bone, Danau Toba dan Pulau Samosir.

Salah satu tokoh yang diceritakan adalah Nyi Dasima. Tokoh perempuan ini digambarkan sebagai pemimpin desa yang sangat prihatin dan empati terhadap penduduk yang dihimpit kemiskinan dan kesusahan hidup.

“Dari tokoh tersebut, bisa dilihat perempuan memiliki kesempatan untuk berperan sebagai seorang pemimpin, sebagaimana laki-laki. Termasuk bisa berperan aktif dalam berbagai aktivitas ekonomi sosial-budaya, pendidikan, dan juga organisasi,” katanya.

Selain itu juga, Nyi Dasima dideskripsikan sebagai seorang perempuan yang mempunyai pendirian teguh, berprinsip, dan terlibat aktif dalam memutuskan nasibnya sendiri.

“Karena di cerita tersebut Nyi Dasima secara tegas menolak lamaran Juk Seng yang baru dikenalnya, dan pada bagian ini perempuan mempunyai kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri, sama seperti laki-laki,” tambahnya.

Hal terakhir yang bisa dipelajari melalui Nyi Dasima ini adalah kesetaraan gender. Karena, tokoh-tokoh protagonis, baik laki-laki maupun perempuan, dalam kisah tersebut dideskripsikan sama derajatnya dan tidak ada yang lebih unggul dari yang lain.

Ada pula tokoh Dewi Samboja, Putri Sunda yang Tangguh. Sebagai putri kerajaan yang memilih untuk mandiri, Dewi Samboja membekali dirinya dengan ilmu bela diri, belajar memasak, filsafat, dan belajar tentang pemerintahan.

“Hal itu mengisyaratkan bahwa perempuan juga memiliki komitmen, kesungguhan, dan kemampuan yang setara seperti laki-laki,” katanya.

Norhayati menjelaskan, cerita rakyat selalu membawa banyak pesan. Sebagai produk masa lampau, folklore yang harus dipahami konteksnya secara mendalam, dan kemudian dihadirkan kembali melalui pembaharuan.

Pewarta :Roisyatul Mufidah

MALANG – Dosen Universitas Negeri Malang (UM) Prof Madya Dr Norhayati Ab. Rahman punya cara tersendiri untuk mengampanyekan kesetaraan gender dan inklusi sosial, lewat buku cerita rakyat yang berjudul Kisah Ketangguhan Putri Nusantara.

Ada empat cerita rakyat yang terangkum dalam buku tersebut, yaitu Kebijaksanaan Nyi Dasima, Akulah Dewi Samboja, Kisah Putri Tandampalik dan Pangeran Bone, Danau Toba dan Pulau Samosir.

Salah satu tokoh yang diceritakan adalah Nyi Dasima. Tokoh perempuan ini digambarkan sebagai pemimpin desa yang sangat prihatin dan empati terhadap penduduk yang dihimpit kemiskinan dan kesusahan hidup.

“Dari tokoh tersebut, bisa dilihat perempuan memiliki kesempatan untuk berperan sebagai seorang pemimpin, sebagaimana laki-laki. Termasuk bisa berperan aktif dalam berbagai aktivitas ekonomi sosial-budaya, pendidikan, dan juga organisasi,” katanya.

Selain itu juga, Nyi Dasima dideskripsikan sebagai seorang perempuan yang mempunyai pendirian teguh, berprinsip, dan terlibat aktif dalam memutuskan nasibnya sendiri.

“Karena di cerita tersebut Nyi Dasima secara tegas menolak lamaran Juk Seng yang baru dikenalnya, dan pada bagian ini perempuan mempunyai kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri, sama seperti laki-laki,” tambahnya.

Hal terakhir yang bisa dipelajari melalui Nyi Dasima ini adalah kesetaraan gender. Karena, tokoh-tokoh protagonis, baik laki-laki maupun perempuan, dalam kisah tersebut dideskripsikan sama derajatnya dan tidak ada yang lebih unggul dari yang lain.

Ada pula tokoh Dewi Samboja, Putri Sunda yang Tangguh. Sebagai putri kerajaan yang memilih untuk mandiri, Dewi Samboja membekali dirinya dengan ilmu bela diri, belajar memasak, filsafat, dan belajar tentang pemerintahan.

“Hal itu mengisyaratkan bahwa perempuan juga memiliki komitmen, kesungguhan, dan kemampuan yang setara seperti laki-laki,” katanya.

Norhayati menjelaskan, cerita rakyat selalu membawa banyak pesan. Sebagai produk masa lampau, folklore yang harus dipahami konteksnya secara mendalam, dan kemudian dihadirkan kembali melalui pembaharuan.

Pewarta :Roisyatul Mufidah

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru