alexametrics
21.6 C
Malang
Sunday, 3 July 2022

Tambah Lahan Makam, Pemkot Malang Anggarkan Rp 5 Miliar

MALANG KOTA – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang serius menambah lahan makam. Selain karena lahan makam yang ada terus berkurang, penambahan area makam anyar juga bertujuan menambah ruang terbuka hijau (RTH) baru.

Rencana penambahan lahan makam tersebut sudah masuk dalam pembahasan APBD-P (Perubahan) Tahun 2020. Anggarannya sekitar Rp 5 miliar. Sekretaris Daerah Kota Malang Wasto mengatakan, pembelian lahan sudah bisa dilakukan dalam waktu dekat. ”Masih disusun master plan-nya. Lahannya sendiri masih belum ditentukan,” kata dia. Meski, ada usulan lahan di kawasan Kedungkandang, kepastian lahan tersebut masih akan dibahas lebih lanjut.

Menurut Wasto, selama ini sudah ada kewajiban bagi para pengembang perumahan untuk menyediakan lahan makam. Sayangnya aturan tersebut belum berjalan semestinya. Kebanyakan pengembang memilih membayar kewajiban membayar kas pengadaan lahan makam. Terutama untuk perumahan tipe klaster kecil. Sedangkan bagi klaster besar, pengembang telah menyediakan lahan makam sesuai dengan ketentuan yang dibuat. ”Kalau bayar ke kas daerah, hitungannya dua persen kali luas lahan kali nilai jual objek pajak (NJOP),”terangnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Malang I Made Riandiana Kartika mengatakan, dewan sepakat dengan rencana pembelian lahan tersebut. Sebab, RTH di Kota Malang juga perlu ditambah. ”Dengan adanya pengadaan makam, minimal bisa menambah RTH. Jadi, fungsinya ganda,” ucapnya.

Made menyebut, kawasan Kecamatan Kedungkandang menjadi kawasan yang tepat untuk menyediakan lahan makam baru. ”Idealnya Pemkot Malang bisa sediakan 10 hektare lahan pemakaman di kawasan itu,” ujarnya.

Pria kelahiran Pulau Dewata itu menyampaikan, urusan makam juga bukan perkara lahan terbatas atau mencari lokasi baru untuk pemakaman khusus Covid-19. Sempat ada konsep makam bernuansa wisata religi. Sehingga makam tidak hanya digunakan untuk pemakaman, melainkan juga sebagai destinasi wisata.

Konsepnya pun bukan seperti pemakaman seperti sekarang, melainkan menjadi makam untuk semua umat beragama. Artinya, dalam satu lokasi pemakaman itu, terdapat makam untuk umat Muslim, Kristen, Hindu, Buddha, hingga Khonghucu. ”Tapi proses pemakaman tak boleh bersinggungan dan semua diserahkan kepada kepercayaan masing-masing,” ungkap Made.

Pemkot Malang sebelumnya juga menyampaikan kepada pihak legislatif untuk membangun makam bagi tokoh-tokoh di Kota Malang. Yakni makam para mantan wali kota Malang, mantan wakil wali kota Malang, hingga pimpinan DPRD Kota Malang. ”Jadi juga sebagai makam bagi pahlawan dan tokoh-tokoh terkini di Kota Malang,” jelasnya.

Pewarta: Sandra DC

MALANG KOTA – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang serius menambah lahan makam. Selain karena lahan makam yang ada terus berkurang, penambahan area makam anyar juga bertujuan menambah ruang terbuka hijau (RTH) baru.

Rencana penambahan lahan makam tersebut sudah masuk dalam pembahasan APBD-P (Perubahan) Tahun 2020. Anggarannya sekitar Rp 5 miliar. Sekretaris Daerah Kota Malang Wasto mengatakan, pembelian lahan sudah bisa dilakukan dalam waktu dekat. ”Masih disusun master plan-nya. Lahannya sendiri masih belum ditentukan,” kata dia. Meski, ada usulan lahan di kawasan Kedungkandang, kepastian lahan tersebut masih akan dibahas lebih lanjut.

Menurut Wasto, selama ini sudah ada kewajiban bagi para pengembang perumahan untuk menyediakan lahan makam. Sayangnya aturan tersebut belum berjalan semestinya. Kebanyakan pengembang memilih membayar kewajiban membayar kas pengadaan lahan makam. Terutama untuk perumahan tipe klaster kecil. Sedangkan bagi klaster besar, pengembang telah menyediakan lahan makam sesuai dengan ketentuan yang dibuat. ”Kalau bayar ke kas daerah, hitungannya dua persen kali luas lahan kali nilai jual objek pajak (NJOP),”terangnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Malang I Made Riandiana Kartika mengatakan, dewan sepakat dengan rencana pembelian lahan tersebut. Sebab, RTH di Kota Malang juga perlu ditambah. ”Dengan adanya pengadaan makam, minimal bisa menambah RTH. Jadi, fungsinya ganda,” ucapnya.

Made menyebut, kawasan Kecamatan Kedungkandang menjadi kawasan yang tepat untuk menyediakan lahan makam baru. ”Idealnya Pemkot Malang bisa sediakan 10 hektare lahan pemakaman di kawasan itu,” ujarnya.

Pria kelahiran Pulau Dewata itu menyampaikan, urusan makam juga bukan perkara lahan terbatas atau mencari lokasi baru untuk pemakaman khusus Covid-19. Sempat ada konsep makam bernuansa wisata religi. Sehingga makam tidak hanya digunakan untuk pemakaman, melainkan juga sebagai destinasi wisata.

Konsepnya pun bukan seperti pemakaman seperti sekarang, melainkan menjadi makam untuk semua umat beragama. Artinya, dalam satu lokasi pemakaman itu, terdapat makam untuk umat Muslim, Kristen, Hindu, Buddha, hingga Khonghucu. ”Tapi proses pemakaman tak boleh bersinggungan dan semua diserahkan kepada kepercayaan masing-masing,” ungkap Made.

Pemkot Malang sebelumnya juga menyampaikan kepada pihak legislatif untuk membangun makam bagi tokoh-tokoh di Kota Malang. Yakni makam para mantan wali kota Malang, mantan wakil wali kota Malang, hingga pimpinan DPRD Kota Malang. ”Jadi juga sebagai makam bagi pahlawan dan tokoh-tokoh terkini di Kota Malang,” jelasnya.

Pewarta: Sandra DC

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/