alexametrics
29 C
Malang
Saturday, 15 May 2021

2 Tahun, 102 Kasus Kriminal di Malang Jerat Anak di Bawah Umur

MALANG KOTA – Ini bisa menjadi alarm bagi para orang tua yang mempunyai anak di bawah umur. Sudah sepatutnya pengawasan terhadap pergaulan mereka dilakukan lebih ketat. Sebab ketika salah pergaulan, kemungkinan sang anak terlibat kasus kriminal kian terbuka lebar.

Contohnya sudah banyak. Dari rekapitulasi data di 3 polres di Malang Raya, ada trend peningkatan kasus kejahatan dengan pelaku anak di bawah umur. Bila ditotal, selama 2 tahun ada 102 kasus yang usia pelakunya masih di bawah 18 tahun. Terbanyak terjadi di Kabupaten Malang.

Pada tahun 2019 lalu, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Malang mencatat ada 30 kasus kriminal dengan pelakunya anak di bawah umur.

Kasus kekerasan seksual paling mendominasi. Rinciannya 11 kasus persetubuhan, 2 kasus pencabulan, 6 kasus pencurian, 2 kasus penganiayaan, 3 kasus penyalahgunaan narkoba dan 1 kasus pencurian dalam rumah tangga. ”Selain itu ada 4 kasus membawa lari anak orang, serta 1 kasus penipuan,” kata Kasat Reskrim Polres Malang, AKP Donny Kristian Bara Langi.

Angkanya naik di tahun 2020 lalu menjadi 42 kasus. Kasus kekerasan seksual juga masih mendominasi. Saat itu, Polres Malang mencatat ada 10 kasus persetubuhan, 5 kasus pencabulan, 6 kasus penganiayaan anak, 1 kasus curanmor, 1 kasus bullying, 4 kasus pencurian, 1 kasus pengeroyokan dan 1 kasus penemuan bayi. Selain itu, juga ada 1 kasus perampasan, 1 kasus penganiayaan yang menyebabkan kematian, 1 kasus membawa lari anak orang. ”Kemudian ada 9 kasus pencurian dengan pemberatan,” imbuh Donny. Beberapa diantara kasus yang tercatat itu masih dalam proses penyelidikan.

Di Kota Batu, meski jumlah kasusnya lebih sedikit, juga terlihat ada trend kenaikan. Pada tahun 2019 lalu, ada 4 perkara yang melibatkan anak sebagai pelakunya. Sementara tahun 2020, Polres Batu mencatat jumlahnya mengalami peningkatan menjadi 7 perkara.

Kanit PPA Reskrim Polres Batu, Aipda Priyanto Puji Utomo mengatakan bila dari 7 kasus di tahun 2020 lalu, 5 diantaranya sudah P-21, atau berkas perkaranya sudah dinyatakan lengkap. Sementara 2 kasus lainnya masuk kategori restorative justice, atau diselesaikan dengan jalur mediasi. Sedangkan pada tahun 2019, dari total perkara yang ada, 1 perkara diketahui sudah P-21. Lalu 2 perkara lainnya sudah restorative justice dan 1 perkara diversi, atau penyelesaian di luar peradilan pidana.

Sementara itu, di Kota Malang, jumlah kasus kriminal dengan anak sebagai pelakunya terpantau mengalami penurunan. Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Malang Kota, Iptu Tri Nawang Sari, menyebut bila di tahun 2020 lalu ada 9 anak yang menjadi pelaku tindak kriminal kejahatan. Dari total itu, 5 pelaku sudah dilimpahkan ke kejaksaan. Sementara sisanya, ada 4 anak yang kasus diselesaikan secara diversi, atau di luar peradilan pidana. ”Itu mereka semua anak-anak yang usianya di bawah 18 tahun,” kata Nawang.(ulf/fik/nug/by)

MALANG KOTA – Ini bisa menjadi alarm bagi para orang tua yang mempunyai anak di bawah umur. Sudah sepatutnya pengawasan terhadap pergaulan mereka dilakukan lebih ketat. Sebab ketika salah pergaulan, kemungkinan sang anak terlibat kasus kriminal kian terbuka lebar.

Contohnya sudah banyak. Dari rekapitulasi data di 3 polres di Malang Raya, ada trend peningkatan kasus kejahatan dengan pelaku anak di bawah umur. Bila ditotal, selama 2 tahun ada 102 kasus yang usia pelakunya masih di bawah 18 tahun. Terbanyak terjadi di Kabupaten Malang.

Pada tahun 2019 lalu, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Malang mencatat ada 30 kasus kriminal dengan pelakunya anak di bawah umur.

Kasus kekerasan seksual paling mendominasi. Rinciannya 11 kasus persetubuhan, 2 kasus pencabulan, 6 kasus pencurian, 2 kasus penganiayaan, 3 kasus penyalahgunaan narkoba dan 1 kasus pencurian dalam rumah tangga. ”Selain itu ada 4 kasus membawa lari anak orang, serta 1 kasus penipuan,” kata Kasat Reskrim Polres Malang, AKP Donny Kristian Bara Langi.

Angkanya naik di tahun 2020 lalu menjadi 42 kasus. Kasus kekerasan seksual juga masih mendominasi. Saat itu, Polres Malang mencatat ada 10 kasus persetubuhan, 5 kasus pencabulan, 6 kasus penganiayaan anak, 1 kasus curanmor, 1 kasus bullying, 4 kasus pencurian, 1 kasus pengeroyokan dan 1 kasus penemuan bayi. Selain itu, juga ada 1 kasus perampasan, 1 kasus penganiayaan yang menyebabkan kematian, 1 kasus membawa lari anak orang. ”Kemudian ada 9 kasus pencurian dengan pemberatan,” imbuh Donny. Beberapa diantara kasus yang tercatat itu masih dalam proses penyelidikan.

Di Kota Batu, meski jumlah kasusnya lebih sedikit, juga terlihat ada trend kenaikan. Pada tahun 2019 lalu, ada 4 perkara yang melibatkan anak sebagai pelakunya. Sementara tahun 2020, Polres Batu mencatat jumlahnya mengalami peningkatan menjadi 7 perkara.

Kanit PPA Reskrim Polres Batu, Aipda Priyanto Puji Utomo mengatakan bila dari 7 kasus di tahun 2020 lalu, 5 diantaranya sudah P-21, atau berkas perkaranya sudah dinyatakan lengkap. Sementara 2 kasus lainnya masuk kategori restorative justice, atau diselesaikan dengan jalur mediasi. Sedangkan pada tahun 2019, dari total perkara yang ada, 1 perkara diketahui sudah P-21. Lalu 2 perkara lainnya sudah restorative justice dan 1 perkara diversi, atau penyelesaian di luar peradilan pidana.

Sementara itu, di Kota Malang, jumlah kasus kriminal dengan anak sebagai pelakunya terpantau mengalami penurunan. Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Malang Kota, Iptu Tri Nawang Sari, menyebut bila di tahun 2020 lalu ada 9 anak yang menjadi pelaku tindak kriminal kejahatan. Dari total itu, 5 pelaku sudah dilimpahkan ke kejaksaan. Sementara sisanya, ada 4 anak yang kasus diselesaikan secara diversi, atau di luar peradilan pidana. ”Itu mereka semua anak-anak yang usianya di bawah 18 tahun,” kata Nawang.(ulf/fik/nug/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru