alexametrics
32 C
Malang
Saturday, 15 May 2021

Kisah Para Mualaf Menjalani Kehidupan Barunya (7)

Batin Tenteram, Merasa Lebih Bugar Setelah Rajin Salat

Beberapa pembatasan yang diterapkan pemerintah untuk mengurangi penyebaran Covid-19 telah membuka pintu hidayah bagi Sumarlien. Akhir 2020 lalu dia menjadi seorang mualaf. Dia merasa lebih damai dan tenteram ketika salat. Berikut liputan wartawan Jawa Pos Radar Malang, Galih R. Prasetyo.

—————-

Obrolan dengan Sumarlien tersaji beberapa hari yang lalu di rumah anaknya yang berada di Perumahan Springhill Garden, di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis. Ibu 3 anak itu banyak bercerita tentang perubahan-perubahan dalam hidupnya setelah menjadi mualaf akhir 2020 lalu.

Pada 3 bulan awal menjadi muslim, dia menyebut bila salat adalah salah satu hal yang sangat istimewa. Sebab, dari ibadah itu dirinya bisa mendapatkan kenyamanan yang sebelumnya tidak pernah dirasakannya. ”Batin ini rasanya tenteram saat menunaikan salat,” jelas perempuan berusia 75 tahun itu.

Saking tenteramnya, Sumarlien mengaku kerap meneteskan air mata secara tiba-tiba ketika menjalankan salat. Karena itulah, sampai saat ini dia selalu berusaha untuk menjaga salatnya. Sebab, ketika dia kelewatan waktu salat, perempuan asal Jombang itu mengaku ada kegelisahan yang dirasakannya. ”Hati saya itu selalu terpanggil saat ada lantunan suara azan,” paparnya.

Selain membuatnya lebih tenteram, perempuan kelahiran 13 September 1945 itu juga mengaku bila rajin salat membuat tubuhnya terasa lebih bugar. ”Badan saya juga tidak sakit-sakitan lagi,” kata dia. Setiap harinya, berkat rajin salat, kesepian yang sempat dirasakannya sebelum menjadi mualaf kini tidak dirasakan lagi. Ya, itulah salah satu faktor terbesar yang memang mendorong dia untuk memeluk Agama Islam.

Sumarlien mengisahkan, pergolakan batin dirasakannya pada pertengahan 2020 lalu. Tepatnya ketika pemerintah menetapkan beberapa aturan pembatasan untuk menekan penyebaran Covid-19. ”Rasanya ketika itu merasa asing dan seperti tidak punya siapa-siapa,” kenangnya sembari mengusap air matanya. Pada titik tersebut, nenek tiga cucu itu juga mengatakan kalau teman-temannya seperti menjauh. Di tengah rasa sepi itulah Sumarlien banyak merenung.

Suasana hatinya sering gelisah. Seperti mencari sesuatu, tapi ketika itu dia tidak mengetahui apa yang dicarinya. Pintu hidayahnya muncul setelah mendengar ada cucunya yang mondok di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Malang. ”Dorongan menjadi mualaf muncul setelah itu,” jelas dia.

Dia menggambarkan, saat itu batinnya seperti berucap kenapa dirinya takut masuk Islam, sedangkan cucunya sangat mantap untuk mendalami agama Islam. Pasca itu, keinginannya menjadi mualaf semakin tinggi.

Usai niat memeluk agama Islam, Sumarlien hanya butuh waktu tiga minggu untuk teguh dan sungguh-sungguh mengucapkan dua kalimat syahadat. Menurut dia, kembali memeluk agama Islam setelah meninggalkannya kurang lebih 20 tahun menjadi momen yang tidak bisa digambarkannya dengan kata-kata.

Dia merasa hatinya seperti plong dan langsung ada keinginan besar untuk segera bisa mengenal Islam. ”Saya bersyukur di usia yang sudah segini diizinkan menjadi mualaf. Saat ini saya menitipkan diri saya kepada Allah SWT,” jelasnya.

Saat ini, selain rajin salat, Sumarlien kini intensif belajar membaca Alquran. Dia memulainya dengan mengenal huruf-huruf hijaiyah. Di bulan Ramadan saat ini ibadah puasa atau salah Tarawih juga dijalaninya. Sumarlien menyebut bila dua ibadah itu makin membuatnya lebih bugar. (rmc/c1/by)

Beberapa pembatasan yang diterapkan pemerintah untuk mengurangi penyebaran Covid-19 telah membuka pintu hidayah bagi Sumarlien. Akhir 2020 lalu dia menjadi seorang mualaf. Dia merasa lebih damai dan tenteram ketika salat. Berikut liputan wartawan Jawa Pos Radar Malang, Galih R. Prasetyo.

—————-

Obrolan dengan Sumarlien tersaji beberapa hari yang lalu di rumah anaknya yang berada di Perumahan Springhill Garden, di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis. Ibu 3 anak itu banyak bercerita tentang perubahan-perubahan dalam hidupnya setelah menjadi mualaf akhir 2020 lalu.

Pada 3 bulan awal menjadi muslim, dia menyebut bila salat adalah salah satu hal yang sangat istimewa. Sebab, dari ibadah itu dirinya bisa mendapatkan kenyamanan yang sebelumnya tidak pernah dirasakannya. ”Batin ini rasanya tenteram saat menunaikan salat,” jelas perempuan berusia 75 tahun itu.

Saking tenteramnya, Sumarlien mengaku kerap meneteskan air mata secara tiba-tiba ketika menjalankan salat. Karena itulah, sampai saat ini dia selalu berusaha untuk menjaga salatnya. Sebab, ketika dia kelewatan waktu salat, perempuan asal Jombang itu mengaku ada kegelisahan yang dirasakannya. ”Hati saya itu selalu terpanggil saat ada lantunan suara azan,” paparnya.

Selain membuatnya lebih tenteram, perempuan kelahiran 13 September 1945 itu juga mengaku bila rajin salat membuat tubuhnya terasa lebih bugar. ”Badan saya juga tidak sakit-sakitan lagi,” kata dia. Setiap harinya, berkat rajin salat, kesepian yang sempat dirasakannya sebelum menjadi mualaf kini tidak dirasakan lagi. Ya, itulah salah satu faktor terbesar yang memang mendorong dia untuk memeluk Agama Islam.

Sumarlien mengisahkan, pergolakan batin dirasakannya pada pertengahan 2020 lalu. Tepatnya ketika pemerintah menetapkan beberapa aturan pembatasan untuk menekan penyebaran Covid-19. ”Rasanya ketika itu merasa asing dan seperti tidak punya siapa-siapa,” kenangnya sembari mengusap air matanya. Pada titik tersebut, nenek tiga cucu itu juga mengatakan kalau teman-temannya seperti menjauh. Di tengah rasa sepi itulah Sumarlien banyak merenung.

Suasana hatinya sering gelisah. Seperti mencari sesuatu, tapi ketika itu dia tidak mengetahui apa yang dicarinya. Pintu hidayahnya muncul setelah mendengar ada cucunya yang mondok di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Malang. ”Dorongan menjadi mualaf muncul setelah itu,” jelas dia.

Dia menggambarkan, saat itu batinnya seperti berucap kenapa dirinya takut masuk Islam, sedangkan cucunya sangat mantap untuk mendalami agama Islam. Pasca itu, keinginannya menjadi mualaf semakin tinggi.

Usai niat memeluk agama Islam, Sumarlien hanya butuh waktu tiga minggu untuk teguh dan sungguh-sungguh mengucapkan dua kalimat syahadat. Menurut dia, kembali memeluk agama Islam setelah meninggalkannya kurang lebih 20 tahun menjadi momen yang tidak bisa digambarkannya dengan kata-kata.

Dia merasa hatinya seperti plong dan langsung ada keinginan besar untuk segera bisa mengenal Islam. ”Saya bersyukur di usia yang sudah segini diizinkan menjadi mualaf. Saat ini saya menitipkan diri saya kepada Allah SWT,” jelasnya.

Saat ini, selain rajin salat, Sumarlien kini intensif belajar membaca Alquran. Dia memulainya dengan mengenal huruf-huruf hijaiyah. Di bulan Ramadan saat ini ibadah puasa atau salah Tarawih juga dijalaninya. Sumarlien menyebut bila dua ibadah itu makin membuatnya lebih bugar. (rmc/c1/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru