alexametrics
32 C
Malang
Saturday, 15 May 2021

Di Balik Meningkatnya Kasus Kriminal Anak

Vonis Untuk Pelaku Bocah Tak Selalu Penjara, Asal….

MALANG – Meningkatnya kasus kriminal melibatkan pelaku anak di bawah umur di Malang Raya juga berdampak pada penggunaan dasar hukumnya. Payung aturannya berbeda saat pelakunya orang dewasa. Tahapan serta proses penanganan perkaranya juga tak sama.

Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang Wahyu Hidayatullah SH MH mencatat bila selama 2020 lalu pihaknya sudah menangani 5 perkara kriminal dengan pelaku anak. Sedangkan pada tahun sebelumnya, ada 6 perkara yang ditangani.

Namun sejak awal 2021 ini, tercatat sudah ada 4 anak yang menjadi pelaku kejahatan. Salah satunya yakni tindak pencurian. Untuk proses peradilannya, Wahtu menyebut bila pihaknya mendasarkan langkah hukum pada UU nomor 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan anak. ”Jadi tidak mengikuti KUHAP (Kitab Undang- undang Hukum Acara Pidana), dan masa penahanannya pun ada sendiri, berbeda dengan orang dewasa,” kata dia.

Ayah 3 anak itu juga menguraikan bila masa penahanan bocah yang terlibat tindak kriminal adalah 7 hari. Dan bisa diperpanjang 8 hari, sehingga totalnya hanya 15 hari.

Sedangkan di tahapan Jaksa Penuntut Umum (JPU), masa penahanannya adalah 5 hari dan dapat diperpanjang selama 5 hari. Sehingga totalnya 10 hari. Begitupun di tahapan hakim, yang masa penahanan maksimalnya adalah 25 hari. ”Itu jelas jauh berbeda sekali dengan pelaku dewasa,” tambah pria asal Lumajang itu.

Dia juga menyebut bila pelaku kriminal anak tidak harus dijatuhi hukuman penjara. Ada opsi penahanan dengan sanksi sosial. Ada juga upaya diversi, jika ancaman hukumannya kurang dari 7 tahun. Diversi bisa dikatakan berhasil jika ada kesepakatan damai antara pelaku dan korban. ”Biasanya (langkah) itu karena (ada) permintaan tersangka,” imbuhnya.(rmc/ulf/by)

MALANG – Meningkatnya kasus kriminal melibatkan pelaku anak di bawah umur di Malang Raya juga berdampak pada penggunaan dasar hukumnya. Payung aturannya berbeda saat pelakunya orang dewasa. Tahapan serta proses penanganan perkaranya juga tak sama.

Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang Wahyu Hidayatullah SH MH mencatat bila selama 2020 lalu pihaknya sudah menangani 5 perkara kriminal dengan pelaku anak. Sedangkan pada tahun sebelumnya, ada 6 perkara yang ditangani.

Namun sejak awal 2021 ini, tercatat sudah ada 4 anak yang menjadi pelaku kejahatan. Salah satunya yakni tindak pencurian. Untuk proses peradilannya, Wahtu menyebut bila pihaknya mendasarkan langkah hukum pada UU nomor 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan anak. ”Jadi tidak mengikuti KUHAP (Kitab Undang- undang Hukum Acara Pidana), dan masa penahanannya pun ada sendiri, berbeda dengan orang dewasa,” kata dia.

Ayah 3 anak itu juga menguraikan bila masa penahanan bocah yang terlibat tindak kriminal adalah 7 hari. Dan bisa diperpanjang 8 hari, sehingga totalnya hanya 15 hari.

Sedangkan di tahapan Jaksa Penuntut Umum (JPU), masa penahanannya adalah 5 hari dan dapat diperpanjang selama 5 hari. Sehingga totalnya 10 hari. Begitupun di tahapan hakim, yang masa penahanan maksimalnya adalah 25 hari. ”Itu jelas jauh berbeda sekali dengan pelaku dewasa,” tambah pria asal Lumajang itu.

Dia juga menyebut bila pelaku kriminal anak tidak harus dijatuhi hukuman penjara. Ada opsi penahanan dengan sanksi sosial. Ada juga upaya diversi, jika ancaman hukumannya kurang dari 7 tahun. Diversi bisa dikatakan berhasil jika ada kesepakatan damai antara pelaku dan korban. ”Biasanya (langkah) itu karena (ada) permintaan tersangka,” imbuhnya.(rmc/ulf/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru