alexametrics
22.4 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

Rusak, Alat Plasma PMI Kota Malang Masih Diperbaiki

MALANG KOTA – Informasi tentang rusaknya alat plasma konvalesen dibenarkan Kepala Unit Transfusi Darah PMI Kota Malang Enny Sekar Rengganingati. Ia menyatakan saat ini alat tersebut masih dalam proses perbaikan. ”Kalau sudah selesai, besok atau Senin (21/12) sudah bisa difungsikan lagi,” kata Enny, Sabtu (19/12).

Menurutnya, sejumlah pasien yang membutuhkan golongan darah O langsung dimintakan bantuan ke PMI daerah lain. Bahkan pihaknya juga sampai menghubungi PMI Surabaya. ”Kami selalu lakukan komunikasi dengan PMI daerah lain. Tapi ini tadi di Surabaya informasinya (plasma konvalesen darah O) kosong juga,” jelas dia.

Lebih lanjut Enny menyatakan, alat plasma tersebut memang relatif mahal, harganya mencapai miliaran rupiah. Sehingga, di Jatim hanya beberapa daerah saja yang memiliki alat tersebut. ”Ya memang mahal, sampai miliaran harganya per unit,’ ungkap dia.

Tak hanya itu, masih kata dia, sebelum Covid-19 melanda, permintaan plasma relatif sedikit. Sehingga sejumlah daerah mengandalkan daerah lain yang memiliki alat tersebut. ”Karena nggak ada yang memprediksi akan ada wabah, jadi daerah jarang punya alatnya,” terangnya.

Pewarta: Imam N

MALANG KOTA – Informasi tentang rusaknya alat plasma konvalesen dibenarkan Kepala Unit Transfusi Darah PMI Kota Malang Enny Sekar Rengganingati. Ia menyatakan saat ini alat tersebut masih dalam proses perbaikan. ”Kalau sudah selesai, besok atau Senin (21/12) sudah bisa difungsikan lagi,” kata Enny, Sabtu (19/12).

Menurutnya, sejumlah pasien yang membutuhkan golongan darah O langsung dimintakan bantuan ke PMI daerah lain. Bahkan pihaknya juga sampai menghubungi PMI Surabaya. ”Kami selalu lakukan komunikasi dengan PMI daerah lain. Tapi ini tadi di Surabaya informasinya (plasma konvalesen darah O) kosong juga,” jelas dia.

Lebih lanjut Enny menyatakan, alat plasma tersebut memang relatif mahal, harganya mencapai miliaran rupiah. Sehingga, di Jatim hanya beberapa daerah saja yang memiliki alat tersebut. ”Ya memang mahal, sampai miliaran harganya per unit,’ ungkap dia.

Tak hanya itu, masih kata dia, sebelum Covid-19 melanda, permintaan plasma relatif sedikit. Sehingga sejumlah daerah mengandalkan daerah lain yang memiliki alat tersebut. ”Karena nggak ada yang memprediksi akan ada wabah, jadi daerah jarang punya alatnya,” terangnya.

Pewarta: Imam N

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/