alexametrics
26.5 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

Menguak “Bisnis Hitam” Penjualan Dokumen Covid 19 Jelang Mudik Lebaran (2)

SATU KASUS MASUK PENGADILAN

CELAH atau kelemahan dalam aplikasi PeduliLindungi memang bisa dimanfaatkan orang untuk mendulang uang. Di Malang, satu kasus sudah masuk ke pengadilan dan sudah diputus oleh majelis hakim. Pelaku jual beli surat keterangan atau sertifikat vaksin dan hasil tes PCR itu adalah karyawan sebuah klinik kesehatan di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Dia diganjar hukuman satu tahun enam bulan penjara.

Asti Kusumastuti, begitu nama orang yang telah dijatuhi hukuman pidana oleh hakim Pengadilan Negeri Kepanjen pada 5 April lalu. Perempuan 25 tahun kelahiran Jawa Barat itu menawarkan jasa pembuatan sertifikat vaksinasi Covid-19 dan surat keterangan negatif hasil tes PCR lewat facebook. Tarifnya beragam. Untuk hasil PCR negatif Rp 250 ribu, untuk surat keterangan vaksin dosis 1 Rp 100 ribu, dan untuk surat keterangan vaksin dosis 2 hanya Rp 50 ribu. Sedangkan surat keterangan sehat Rp 35 ribu. Tarif itu berlaku pada Desember 2021 lalu. Harga surat keterangan hasil tes PCR dibanderol paling mahal karena saat itu memang paling dibutuhkan untuk mobilitas lintas daerah.

Asti memproses dokumen-dokumen asli tapi palsu itu dengan sangat sederhana. Dia cukup datang ke warnet dan membuka soft file surat hasil negatif tes PCR seseorang dari file-file di klinik kesehatan tempat dia bekerja. Soft file itu kemudian diambil kop, tanda tangan, dan hasil tes negatifnya saja untuk digunakan sebagai bahan input data pemohon lain ke server klinik. Setelah itu tinggal mencetak dan diserahkan ke pembeli.

Sebagaimana diberitakan, saat stok vaksin sedang menipis, atau ada orang yang memang takut dan tidak mau divaksin ternyata bisa membuka peluang bagi oknum tertentu untuk jualan sertifikat asli tapi palsu (aspal). Keberadaan sertifikat vaksin aspal ini jelas bukan isapan jempol. Jawa Pos Radar Malang pernah menjumpai orang yang mengaku mendapat tawaran untuk membelinya. Dan ternyata berhasil. Sertifikat itu bisa digunakan untuk membeli tiket moda transportasi massal.  Bahkan di aplikasi PeduliLindungi, nama orang tersebut terdata sudah divaksin. Padahal yang bersangkutan tidak pernah disuntik vaksin Covid-19 merek apa pun. (fif/ adn/biy/lid/fat)

SATU KASUS MASUK PENGADILAN

CELAH atau kelemahan dalam aplikasi PeduliLindungi memang bisa dimanfaatkan orang untuk mendulang uang. Di Malang, satu kasus sudah masuk ke pengadilan dan sudah diputus oleh majelis hakim. Pelaku jual beli surat keterangan atau sertifikat vaksin dan hasil tes PCR itu adalah karyawan sebuah klinik kesehatan di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Dia diganjar hukuman satu tahun enam bulan penjara.

Asti Kusumastuti, begitu nama orang yang telah dijatuhi hukuman pidana oleh hakim Pengadilan Negeri Kepanjen pada 5 April lalu. Perempuan 25 tahun kelahiran Jawa Barat itu menawarkan jasa pembuatan sertifikat vaksinasi Covid-19 dan surat keterangan negatif hasil tes PCR lewat facebook. Tarifnya beragam. Untuk hasil PCR negatif Rp 250 ribu, untuk surat keterangan vaksin dosis 1 Rp 100 ribu, dan untuk surat keterangan vaksin dosis 2 hanya Rp 50 ribu. Sedangkan surat keterangan sehat Rp 35 ribu. Tarif itu berlaku pada Desember 2021 lalu. Harga surat keterangan hasil tes PCR dibanderol paling mahal karena saat itu memang paling dibutuhkan untuk mobilitas lintas daerah.

Asti memproses dokumen-dokumen asli tapi palsu itu dengan sangat sederhana. Dia cukup datang ke warnet dan membuka soft file surat hasil negatif tes PCR seseorang dari file-file di klinik kesehatan tempat dia bekerja. Soft file itu kemudian diambil kop, tanda tangan, dan hasil tes negatifnya saja untuk digunakan sebagai bahan input data pemohon lain ke server klinik. Setelah itu tinggal mencetak dan diserahkan ke pembeli.

Sebagaimana diberitakan, saat stok vaksin sedang menipis, atau ada orang yang memang takut dan tidak mau divaksin ternyata bisa membuka peluang bagi oknum tertentu untuk jualan sertifikat asli tapi palsu (aspal). Keberadaan sertifikat vaksin aspal ini jelas bukan isapan jempol. Jawa Pos Radar Malang pernah menjumpai orang yang mengaku mendapat tawaran untuk membelinya. Dan ternyata berhasil. Sertifikat itu bisa digunakan untuk membeli tiket moda transportasi massal.  Bahkan di aplikasi PeduliLindungi, nama orang tersebut terdata sudah divaksin. Padahal yang bersangkutan tidak pernah disuntik vaksin Covid-19 merek apa pun. (fif/ adn/biy/lid/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/