alexametrics
21.4 C
Malang
Saturday, 28 May 2022

Catatan 22 Tahun Jawa Pos Radar Malang

Ikhtiyar Menjaga Tiga Kepercayaan

BELANJA iklan pun ternyata juga mengalami kenaikan, meski di era pandemi covid-19. Masih merujuk pada survey Nielsen, belanja iklan di TV, media cetak, radio, dan media digital pada 2019 total nilainya Rp 182 Triliun. Pada 2020 meningkat menjadi Rp 229 Triliun. Dan tren belanja iklan ke media selama pandemi covid-19 mulai stabil sejak semester kedua 2020.

Bagaimana fenomena ini bisa dijelaskan?
Meningkatnya jumlah pembaca berita, bisa jadi, karena efek dari WFH (work from home) akibat pandemi. Ketika banyak orang harus bekerja dari rumah, otomatis akan banyak waktu luang di rumah. Dan ketika banyak waktu luang itu, salah satu pilihannya adalah lebih banyak mengkonsumsi berita dari berbagai platform media, sambil terus mencari informasi terbaru seputar pandemi dan dampak-dampak yang terjadi di berbagai sektor akibat pandemi.

Jadi, akibat dari serangan pandemi covid-19, jika berpijak pada hasil survei di atas, media massa ternyata mendapatkan “blessing”nya. Jumlah pembaca beritanya naik. Dan juga mendapatkan lebih banyak jatah iklan.

Meningkatnya belanja iklan untuk media (TV, media cetak, radio, dan media digital), bisa jadi menunjukkan bahwa para pelaku bisnis semakin menyadari, bahwa roda akan terus berputar. Di satu sisi tidak jelas kapan pandemi covid 19 akan berakhir, di sisi lain jika pelaku bisnis terus-terusan tiarap, maka mereka akan rugi sendiri. Makanya, mereka lebih memilih untuk terus bergerak. ”The show must go on,”. Dan salah satu indikator yang menunjukkan aktifnya dunia usaha, bisa dilihat dari seberapa mereka gencar dalam beriklan. Seberapa mereka pro aktif dalam mem-branding dan memasarkan produk-produknya kepada masyarakat. Dan untuk aktivitas ini, sangat dibutuhkan media.

Pertanyaannya: Ketika kelak sudah tidak ada pandemi covid-19, atau pandemi-nya mereda, apakah jumlah pembaca berita juga akan terus naik, ataukah bakal sebaliknya? Apakah belanja iklan untuk media juga akan terus naik, ataukah bakal sebaliknya? Tentu kami sangat berharap, trennya akan terus meningkat.

Bagaimana dengan Radar Malang? Hari ini, tepat 22 tahun kami berkiprah. Harus diakui, selama 22 tahun berkiprah, ujian terberat yang kami hadapi sebagai sebuah media adalah pada tahun ini.

Awalnya, setidaknya dalam 3-5 tahun terakhir, kami diuji oleh banyaknya media online dan semakin masiv-nya media sosial dengan berbagai macam ragamnya. Untuk ujian ini, kami sempat dibikin repot. Tapi, Alhamdulillah tidak cukup lama repotnya. Karena dengan waktu relatif cepat, kami bisa beradaptasi dengan banyaknya media online dan masiv-nya media sosial. Kami punya media online. Dan kami pun terus membenahi media online kami. Kami pun semakin eksis di media sosial di berbagai macam ragamnya. Bahkan, yang terbaru, kami bikin sebuah platform bernama e-paper. Platform ini bukan koran Radar Malang. Bukan saja karena platformnya digital. Tapi, secara konten, 60-70 persen benar-benar berbeda dengan koran Radar Malang. Platform digital berbasis aplikasi ini dibikin menyesuaikan selera milenial yang diasumsikan semakin berkurang minat membaca koran. Mereka boleh tidak baca koran Radar Malang. Tapi, mereka harus tetap membaca Radar Malang, meski dengan platform yang berbeda. Yakni melalui e-paper Radar Malang.

Jadi, di tengah gencarnya media online dan masiv-nya media sosial, kami justeru banyak mendapatkan blessing. Inovasi demi inovasi pun terus kami lakukan. Seiring berjalannya waktu, platform media online dan juga media sosial kami terus mengalami kemajuan yang signifikan.

Tapi, ketika kami harus diuji oleh serangan pandemi covid 19, ini lah ujian terberatnya. Jika pandemi covid 19 diibaratkan gempa bumi, guncangannya atau skala richter-nya dirasa paling besar dibandingkan yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Alhamdulillah, meski guncangannya paling besar dibandingkan sebelum-sebelumnya, jika kami diibaratkan adalah sebuah bangunan, bangunan itu masih berdiri kokoh. Alias tidak sampai ambruk. Atau, tidak sampai rontok. Mungkin, kalau pun ada kerusakan, skalanya tak cukup signifikan. Tak butuh biaya besar untuk merenovasinya.

Ketika sebuah bangunan tidak sampai roboh meski diguncang gempa bumi, ada dua kemungkinannya. Pertama, bangunannya memang didesain sangat kuat dan anti gempa. Kedua, guncangan gempanya yang bisa jadi tidak terlalu besar.
Semoga, masih kokohnya kami sebagai sebuah bangunan meski diguncang gempa pandemi covid 19, itu karena desain bangunan kami memang kuat. Sehingga, sebesar apa pun guncangan gempanya, sebagai bangunan, kami tetap lah kokoh. Insya Allah.

Kuat-tidaknya media sebagai sebuah bangunan, setidaknya sangat ditentukan oleh tiga pilar. Pertama, dipercaya masyarakat. Kedua, dipercaya pemerintah atau institusi formal. Ketiga, dipercaya Tuhan.

Agar dipercaya masyarakat, di antaranya media harus akurat, faktual dan aktual. Harus independen dan obyektif. Harus bermanfaat. Dan harus adaptif terhadap perubahan yang sedang terjadi dan yang akan terjadi.

Agar dipercaya pemerintah atau institusi formal, media harus berkualitas dan harus mampu menjadi referensi. Harus bisa diajak bekerjasama, untuk menangani kasus atau masalah apa pun yang sedang terjadi. Media harus menjadi bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan yang terjadi.

Nah, kaitannya dengan menjaga kepercayaan masyarakat dan pemerintah (dalam hal ini pemerintah daerah di Malang Raya), pada momentum ulang tahun ke 22 hari ini, kami melaunching sebuah inovasi bernama Radius.

Ini adalah sebuah sistem informasi dan komunikasi berbasis aplikasi yang bertujuan sebagai platform untuk berbagi informasi dengan publik. Masyarakat bisa saling memberikan informasi dan bisa saling membantu melalui platform tersebut. Platform ini pada akhirnya bisa dimanfaatkan sebagai media kontrol, demi meningkatkan kualitas pelayanan publik di berbagai instansi pelayanan publik, baik di lingkungan pemerintah daerah di Malang Raya maupun instansi vertikal.
Selain itu platform ini juga akan menjadi aksesoris pelengkap sebuah daerah yang akan atau sudah menerapkan konsep smart city (kota cerdas).

Ini adalah bagian dari ikhtiyar, agar keberadaan kami terus bermanfaat bagi masyarakat dan juga pemerintah. Sehingga, pada akhirnya kami terus dipercaya.

Ketiga, agar dipercaya Tuhan, media harus banyak-banyak menebar kebaikan. Media harus menjadi ladang ibadah dan ladang amal soleh bagi para kru, staf atau pun wartawan yang berada di dalamnya. Dan salah satu tanda bahwa media itu dipercaya Tuhan, adalah berkah. Salah satu tanda berkah adalah: pertumbuhan yang terjadi, linier dengan kebaikan dan kemanfaatan yang dilakukan.

Pembaca yang budiman, 22 tahun kami berkiprah, tentu kami ingin terus dipercaya oleh masyarakat. Kami ingin terus dipercaya oleh pemerintah dan institusi formal. Dan kami juga ingin dipercaya Tuhan. Doakan kami, agar kami mampu menjaga tiga kepercayaan itu.(*)

BELANJA iklan pun ternyata juga mengalami kenaikan, meski di era pandemi covid-19. Masih merujuk pada survey Nielsen, belanja iklan di TV, media cetak, radio, dan media digital pada 2019 total nilainya Rp 182 Triliun. Pada 2020 meningkat menjadi Rp 229 Triliun. Dan tren belanja iklan ke media selama pandemi covid-19 mulai stabil sejak semester kedua 2020.

Bagaimana fenomena ini bisa dijelaskan?
Meningkatnya jumlah pembaca berita, bisa jadi, karena efek dari WFH (work from home) akibat pandemi. Ketika banyak orang harus bekerja dari rumah, otomatis akan banyak waktu luang di rumah. Dan ketika banyak waktu luang itu, salah satu pilihannya adalah lebih banyak mengkonsumsi berita dari berbagai platform media, sambil terus mencari informasi terbaru seputar pandemi dan dampak-dampak yang terjadi di berbagai sektor akibat pandemi.

Jadi, akibat dari serangan pandemi covid-19, jika berpijak pada hasil survei di atas, media massa ternyata mendapatkan “blessing”nya. Jumlah pembaca beritanya naik. Dan juga mendapatkan lebih banyak jatah iklan.

Meningkatnya belanja iklan untuk media (TV, media cetak, radio, dan media digital), bisa jadi menunjukkan bahwa para pelaku bisnis semakin menyadari, bahwa roda akan terus berputar. Di satu sisi tidak jelas kapan pandemi covid 19 akan berakhir, di sisi lain jika pelaku bisnis terus-terusan tiarap, maka mereka akan rugi sendiri. Makanya, mereka lebih memilih untuk terus bergerak. ”The show must go on,”. Dan salah satu indikator yang menunjukkan aktifnya dunia usaha, bisa dilihat dari seberapa mereka gencar dalam beriklan. Seberapa mereka pro aktif dalam mem-branding dan memasarkan produk-produknya kepada masyarakat. Dan untuk aktivitas ini, sangat dibutuhkan media.

Pertanyaannya: Ketika kelak sudah tidak ada pandemi covid-19, atau pandemi-nya mereda, apakah jumlah pembaca berita juga akan terus naik, ataukah bakal sebaliknya? Apakah belanja iklan untuk media juga akan terus naik, ataukah bakal sebaliknya? Tentu kami sangat berharap, trennya akan terus meningkat.

Bagaimana dengan Radar Malang? Hari ini, tepat 22 tahun kami berkiprah. Harus diakui, selama 22 tahun berkiprah, ujian terberat yang kami hadapi sebagai sebuah media adalah pada tahun ini.

Awalnya, setidaknya dalam 3-5 tahun terakhir, kami diuji oleh banyaknya media online dan semakin masiv-nya media sosial dengan berbagai macam ragamnya. Untuk ujian ini, kami sempat dibikin repot. Tapi, Alhamdulillah tidak cukup lama repotnya. Karena dengan waktu relatif cepat, kami bisa beradaptasi dengan banyaknya media online dan masiv-nya media sosial. Kami punya media online. Dan kami pun terus membenahi media online kami. Kami pun semakin eksis di media sosial di berbagai macam ragamnya. Bahkan, yang terbaru, kami bikin sebuah platform bernama e-paper. Platform ini bukan koran Radar Malang. Bukan saja karena platformnya digital. Tapi, secara konten, 60-70 persen benar-benar berbeda dengan koran Radar Malang. Platform digital berbasis aplikasi ini dibikin menyesuaikan selera milenial yang diasumsikan semakin berkurang minat membaca koran. Mereka boleh tidak baca koran Radar Malang. Tapi, mereka harus tetap membaca Radar Malang, meski dengan platform yang berbeda. Yakni melalui e-paper Radar Malang.

Jadi, di tengah gencarnya media online dan masiv-nya media sosial, kami justeru banyak mendapatkan blessing. Inovasi demi inovasi pun terus kami lakukan. Seiring berjalannya waktu, platform media online dan juga media sosial kami terus mengalami kemajuan yang signifikan.

Tapi, ketika kami harus diuji oleh serangan pandemi covid 19, ini lah ujian terberatnya. Jika pandemi covid 19 diibaratkan gempa bumi, guncangannya atau skala richter-nya dirasa paling besar dibandingkan yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Alhamdulillah, meski guncangannya paling besar dibandingkan sebelum-sebelumnya, jika kami diibaratkan adalah sebuah bangunan, bangunan itu masih berdiri kokoh. Alias tidak sampai ambruk. Atau, tidak sampai rontok. Mungkin, kalau pun ada kerusakan, skalanya tak cukup signifikan. Tak butuh biaya besar untuk merenovasinya.

Ketika sebuah bangunan tidak sampai roboh meski diguncang gempa bumi, ada dua kemungkinannya. Pertama, bangunannya memang didesain sangat kuat dan anti gempa. Kedua, guncangan gempanya yang bisa jadi tidak terlalu besar.
Semoga, masih kokohnya kami sebagai sebuah bangunan meski diguncang gempa pandemi covid 19, itu karena desain bangunan kami memang kuat. Sehingga, sebesar apa pun guncangan gempanya, sebagai bangunan, kami tetap lah kokoh. Insya Allah.

Kuat-tidaknya media sebagai sebuah bangunan, setidaknya sangat ditentukan oleh tiga pilar. Pertama, dipercaya masyarakat. Kedua, dipercaya pemerintah atau institusi formal. Ketiga, dipercaya Tuhan.

Agar dipercaya masyarakat, di antaranya media harus akurat, faktual dan aktual. Harus independen dan obyektif. Harus bermanfaat. Dan harus adaptif terhadap perubahan yang sedang terjadi dan yang akan terjadi.

Agar dipercaya pemerintah atau institusi formal, media harus berkualitas dan harus mampu menjadi referensi. Harus bisa diajak bekerjasama, untuk menangani kasus atau masalah apa pun yang sedang terjadi. Media harus menjadi bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan yang terjadi.

Nah, kaitannya dengan menjaga kepercayaan masyarakat dan pemerintah (dalam hal ini pemerintah daerah di Malang Raya), pada momentum ulang tahun ke 22 hari ini, kami melaunching sebuah inovasi bernama Radius.

Ini adalah sebuah sistem informasi dan komunikasi berbasis aplikasi yang bertujuan sebagai platform untuk berbagi informasi dengan publik. Masyarakat bisa saling memberikan informasi dan bisa saling membantu melalui platform tersebut. Platform ini pada akhirnya bisa dimanfaatkan sebagai media kontrol, demi meningkatkan kualitas pelayanan publik di berbagai instansi pelayanan publik, baik di lingkungan pemerintah daerah di Malang Raya maupun instansi vertikal.
Selain itu platform ini juga akan menjadi aksesoris pelengkap sebuah daerah yang akan atau sudah menerapkan konsep smart city (kota cerdas).

Ini adalah bagian dari ikhtiyar, agar keberadaan kami terus bermanfaat bagi masyarakat dan juga pemerintah. Sehingga, pada akhirnya kami terus dipercaya.

Ketiga, agar dipercaya Tuhan, media harus banyak-banyak menebar kebaikan. Media harus menjadi ladang ibadah dan ladang amal soleh bagi para kru, staf atau pun wartawan yang berada di dalamnya. Dan salah satu tanda bahwa media itu dipercaya Tuhan, adalah berkah. Salah satu tanda berkah adalah: pertumbuhan yang terjadi, linier dengan kebaikan dan kemanfaatan yang dilakukan.

Pembaca yang budiman, 22 tahun kami berkiprah, tentu kami ingin terus dipercaya oleh masyarakat. Kami ingin terus dipercaya oleh pemerintah dan institusi formal. Dan kami juga ingin dipercaya Tuhan. Doakan kami, agar kami mampu menjaga tiga kepercayaan itu.(*)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/