alexametrics
18.5 C
Malang
Wednesday, 29 June 2022

Minimalisir Gagal Panen Karena Hujan, BMKG Minta Petani Melek Sosmed

KOTA BATU – Tingginya intensitas hujan yang terjadi membuat banyak petani mengeluh. Sulitnya perawatan dinilai jadi faktor utama kemerosotan hasil panen. Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Malang, Retno Wulandari buka bicara terkait apa yang sebaiknya dilakukan para petani.

“Untuk para petani yang kesusahan karena hujan mengganggu pertanian, bisa terus memantau update dari kami. Karena di sana ada perkiraan jam turun hujan berbasis per-kecamatan seluruh Malang Raya,” terangnya hari ini (21/1).

Menurutnya, kemudahan akses dengan adanya media sosial harus dimanfaatkan dengan baik. Para petani bisa mengetahui kapan saja hujan akan datang disetiap harinya.

Dengan itu, diharapkan mereka bisa membaca situasi dan memaksimalkan perawatan karena sudah tahu kapan hujan akan datang. “Setiap harinya selalu kami infokan. Jadi petani bisa menghindari penyiraman yang mendekati prediksi hujan datang. Tentu itu akan lebih efisien,” jelasnya.

Info yang selalu diperbarui tiap harinya bisa diakses diberbagai sosial media dengan mudah. Contohnya Instagram dan Twitter. Cuaca ekstrem seperti ini masih akan terjadi hingga akhir bulan Februari atau awal Maret.

“Selain dampak dari fenomena la nina, memang normalnya puncak musim hujan terjadi pada bulan-bulan ini. Apalagi di wilayah dengan topografi tinggi,” ujarnya.

Curah hujan tinggi berpotensi bencana juga turut mengancam. Hujan lebat disertai petir, banjir dan tanah longsor misalnya. “Kami himbau seluruh masyarakat untuk selalu siap siaga. Tetap memantau update terbaru dari BMKG agar mengetahui situasi yang sedang terjadi juga jalan keluar,” ucapnya.

Puncak musim hujan yang menjadi halangan dibenarkan oleh salah satu petani sawi, Suhari yang berada di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. “Di lahan seluas 1 hektare normalnya sekali panen bisa dapat 10 ton. Tapi sekarang cuma 5 ton saja, karena banyak yang busuk,” paparnya.

Tanaman menjadi mudah busuk karena kadar air yang terlalu tinggi. Imbasnya perawatan yang dilakukan lebih ekstra waktu dan tenaga, serta memakan lebih banyak biaya.

“Dari yang biasanya hanya melakukan penyemprotan sekali dalam 7 hingga 10 hari. Kini, terpaksa melakukannya 3 hari sekali. Sebelum zat yang terkandung dalam cairan terserap, sudah hilang terlebih dahulu karena diguyur hujan,” imbuhnya. Ia menerima untung yang hanya bisa menggantikan modal saja, karena cuaca yang memang tidak mendukung.

“Semoga harga pupuk dan obat stabil. Karena kalau meningkat terus seperti ini biaya yang dikeluarkan dengan pemasukan sangat tidak sepadan,” harapnya.

Pewarta : Wildan Agta Affirdausy

KOTA BATU – Tingginya intensitas hujan yang terjadi membuat banyak petani mengeluh. Sulitnya perawatan dinilai jadi faktor utama kemerosotan hasil panen. Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Malang, Retno Wulandari buka bicara terkait apa yang sebaiknya dilakukan para petani.

“Untuk para petani yang kesusahan karena hujan mengganggu pertanian, bisa terus memantau update dari kami. Karena di sana ada perkiraan jam turun hujan berbasis per-kecamatan seluruh Malang Raya,” terangnya hari ini (21/1).

Menurutnya, kemudahan akses dengan adanya media sosial harus dimanfaatkan dengan baik. Para petani bisa mengetahui kapan saja hujan akan datang disetiap harinya.

Dengan itu, diharapkan mereka bisa membaca situasi dan memaksimalkan perawatan karena sudah tahu kapan hujan akan datang. “Setiap harinya selalu kami infokan. Jadi petani bisa menghindari penyiraman yang mendekati prediksi hujan datang. Tentu itu akan lebih efisien,” jelasnya.

Info yang selalu diperbarui tiap harinya bisa diakses diberbagai sosial media dengan mudah. Contohnya Instagram dan Twitter. Cuaca ekstrem seperti ini masih akan terjadi hingga akhir bulan Februari atau awal Maret.

“Selain dampak dari fenomena la nina, memang normalnya puncak musim hujan terjadi pada bulan-bulan ini. Apalagi di wilayah dengan topografi tinggi,” ujarnya.

Curah hujan tinggi berpotensi bencana juga turut mengancam. Hujan lebat disertai petir, banjir dan tanah longsor misalnya. “Kami himbau seluruh masyarakat untuk selalu siap siaga. Tetap memantau update terbaru dari BMKG agar mengetahui situasi yang sedang terjadi juga jalan keluar,” ucapnya.

Puncak musim hujan yang menjadi halangan dibenarkan oleh salah satu petani sawi, Suhari yang berada di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. “Di lahan seluas 1 hektare normalnya sekali panen bisa dapat 10 ton. Tapi sekarang cuma 5 ton saja, karena banyak yang busuk,” paparnya.

Tanaman menjadi mudah busuk karena kadar air yang terlalu tinggi. Imbasnya perawatan yang dilakukan lebih ekstra waktu dan tenaga, serta memakan lebih banyak biaya.

“Dari yang biasanya hanya melakukan penyemprotan sekali dalam 7 hingga 10 hari. Kini, terpaksa melakukannya 3 hari sekali. Sebelum zat yang terkandung dalam cairan terserap, sudah hilang terlebih dahulu karena diguyur hujan,” imbuhnya. Ia menerima untung yang hanya bisa menggantikan modal saja, karena cuaca yang memang tidak mendukung.

“Semoga harga pupuk dan obat stabil. Karena kalau meningkat terus seperti ini biaya yang dikeluarkan dengan pemasukan sangat tidak sepadan,” harapnya.

Pewarta : Wildan Agta Affirdausy

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/