alexametrics
22 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Perjuangan Para “Kartini-Kartini Mandiri” Mempertahankan Hidup (1)

ROOSE ELLAYA HASANAH MENGASUH 14 ANAK SEORANG DIRI

SEJAK 2014 lalu, Roose Ellaya Hasanah sudah menyandang status sebagai single mom. Setelah berpisah, dia harus mengasuh 11 anak sendirian. Di tahun 2019 hingga 2020, dia turut mengasuh tiga anak angkat, yang sebelumnya menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Di tahun pertama menjadi single mom, Roose Ellaya sudah dihadapkan dengan problem ekonomi. Usaha produksi roti yang dia jalani sejak tahun 2008 mulai goyah dengan melambungnya harga bahan baku.

”Seiring berjalannya waktu juga muncul banyak pesaing,” terang warga Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang itu. Tak mampu bertahan dari dua tantangan itu, di tahun 2015 dia terpaksa menutup usahanya. ”Akhirnya banting setir dengan berjualan batik Pekalongan secara online,” jelasnya. Di tahun yang sama, dia juga mencoba peruntungan dengan terjun di dunia jasa. Roose mulai membuka layanan produksi animasi.

”Akhirnya usaha itu yang tetap berjalan hingga sekarang,” tambah perempuan berusia 50 tahun tersebut. Pundi-pundi uang dari jasa pembuatan animasi itulah yang jadi modal dia untuk mengasuh anak-anaknya. Baik itu untuk memenuhi kebutuhan seharihari. Juga untuk memenuhi kebutuhan pendidikan putraputrinya. Saat ini, pepatah ’buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’ juga berlaku di keluarganya. Enam anaknya ikut terjun di dunia animasi. Ada yang menjadi animator. Ada juga yang bekerja sama dengan platform layanan streaming film yang menggambar konten-konten lokal Indonesia.

”Ada juga yang ikut proyek KEK Singosari untuk membuat kampung animasi,” kata perempuan yang menjadi penasihat di Komunitas Forum Animasi Malang tersebut. Studio Allie yang dibuat Roose untuk mewadahi kreativitas anaknya sudah beberapa kali menelurkan karya-karya istimewa. Salah satunya mampu masuk nominasi film pendek dalam Festival Film Indonesia 2015. Anaknya yang lain juga sempat ambil bagian dalam penggarapan bumper iklan untuk salah satu produk handphone. Kepada Jawa Pos Radar Malang, Roose Ellaya juga menjelaskan alasan di balik anaknya yang berjumlah banyak.

Pertama didasarkan pada kecintaan pada anak-anak. Kedua diawali dari pengaruh ideologi. Alhasil, sejak menikah dia memilih untuk tidak mengikuti program keluarga berencana (KB). Berkat itulah dia mempunyai 11 anak kandung dari pasangannya terdahulu. Dulu saat masih berumah tangga, dia mengaku bisa melahirkan setiap tahun. Khususnya untuk anaknya yang laki-laki nomor 6, 7, 8, dan 9. Kecintaan terhadap anak juga dibuktikan Roose di tahun 2019 dan 2020.

Saat itu, dia tahu ada tiga anak yang keluarganya bermasalah. Sejak saat itu, dia memutuskan untuk mengasuhnya, dan mengangkat tiga anak tersebut. ”Mereka itu temanteman anak saya, yang sebelumnya sempat jadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT),” ucapnya. Bagi Roose, tidak ada yang berat untuk menjadi single mom. Khususnya jika seseorang menganggap bila anak merupakan bentuk tanggung jawab yang diberikan Allah SWT. ”Saya selalu menganggap anak itu karunia dan percaya jika Allah punya rencana besar pada setiap anak,” paparnya. Bila punya pandangan serupa, dia yakin bila seseorang akan berupaya menjaga anaknya sebaik mungkin, penuh rasa sayang, dan penuh tanggung jawab. . (gp/adn/by)

ROOSE ELLAYA HASANAH MENGASUH 14 ANAK SEORANG DIRI

SEJAK 2014 lalu, Roose Ellaya Hasanah sudah menyandang status sebagai single mom. Setelah berpisah, dia harus mengasuh 11 anak sendirian. Di tahun 2019 hingga 2020, dia turut mengasuh tiga anak angkat, yang sebelumnya menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Di tahun pertama menjadi single mom, Roose Ellaya sudah dihadapkan dengan problem ekonomi. Usaha produksi roti yang dia jalani sejak tahun 2008 mulai goyah dengan melambungnya harga bahan baku.

”Seiring berjalannya waktu juga muncul banyak pesaing,” terang warga Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang itu. Tak mampu bertahan dari dua tantangan itu, di tahun 2015 dia terpaksa menutup usahanya. ”Akhirnya banting setir dengan berjualan batik Pekalongan secara online,” jelasnya. Di tahun yang sama, dia juga mencoba peruntungan dengan terjun di dunia jasa. Roose mulai membuka layanan produksi animasi.

”Akhirnya usaha itu yang tetap berjalan hingga sekarang,” tambah perempuan berusia 50 tahun tersebut. Pundi-pundi uang dari jasa pembuatan animasi itulah yang jadi modal dia untuk mengasuh anak-anaknya. Baik itu untuk memenuhi kebutuhan seharihari. Juga untuk memenuhi kebutuhan pendidikan putraputrinya. Saat ini, pepatah ’buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’ juga berlaku di keluarganya. Enam anaknya ikut terjun di dunia animasi. Ada yang menjadi animator. Ada juga yang bekerja sama dengan platform layanan streaming film yang menggambar konten-konten lokal Indonesia.

”Ada juga yang ikut proyek KEK Singosari untuk membuat kampung animasi,” kata perempuan yang menjadi penasihat di Komunitas Forum Animasi Malang tersebut. Studio Allie yang dibuat Roose untuk mewadahi kreativitas anaknya sudah beberapa kali menelurkan karya-karya istimewa. Salah satunya mampu masuk nominasi film pendek dalam Festival Film Indonesia 2015. Anaknya yang lain juga sempat ambil bagian dalam penggarapan bumper iklan untuk salah satu produk handphone. Kepada Jawa Pos Radar Malang, Roose Ellaya juga menjelaskan alasan di balik anaknya yang berjumlah banyak.

Pertama didasarkan pada kecintaan pada anak-anak. Kedua diawali dari pengaruh ideologi. Alhasil, sejak menikah dia memilih untuk tidak mengikuti program keluarga berencana (KB). Berkat itulah dia mempunyai 11 anak kandung dari pasangannya terdahulu. Dulu saat masih berumah tangga, dia mengaku bisa melahirkan setiap tahun. Khususnya untuk anaknya yang laki-laki nomor 6, 7, 8, dan 9. Kecintaan terhadap anak juga dibuktikan Roose di tahun 2019 dan 2020.

Saat itu, dia tahu ada tiga anak yang keluarganya bermasalah. Sejak saat itu, dia memutuskan untuk mengasuhnya, dan mengangkat tiga anak tersebut. ”Mereka itu temanteman anak saya, yang sebelumnya sempat jadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT),” ucapnya. Bagi Roose, tidak ada yang berat untuk menjadi single mom. Khususnya jika seseorang menganggap bila anak merupakan bentuk tanggung jawab yang diberikan Allah SWT. ”Saya selalu menganggap anak itu karunia dan percaya jika Allah punya rencana besar pada setiap anak,” paparnya. Bila punya pandangan serupa, dia yakin bila seseorang akan berupaya menjaga anaknya sebaik mungkin, penuh rasa sayang, dan penuh tanggung jawab. . (gp/adn/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/