alexametrics
20.5 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Perjuangan Para “Kartini-Kartini Mandiri” Mempertahankan Hidup (2-habis)

TANTI WIDIA NURDIANI, PANTANG UMBAR KESEDIHAN DI DEPAN ANAK

CERITA ketangguhan sebagai single mom lainnya datang dari Tanti Widia Nurdiani. Semua bermula di akhir tahun 2020 lalu, saat rumah tangganya yang sudah berjalan sekitar 15 tahun harus kandas. Meski harus berpisah dengan suami dan harus membesarkan dua buah hati kecilnya seorang diri.

Tanti pantang untuk terus-terusan mengeluh. Dua putranya saat ini sudah beranjak remaja. Satu duduk di kelas 9 SMP, satunya duduk di kelas 5 SD. Dituntut mampu menjalankan tugasnya sebagai orang tua, Tanti mampu menjalankan dua peran berbeda. Yang pertama sebagai ibu rumah tangga. Selanjutnya sebagai wanita karier. Untuk pekerjaan, perempuan berusia 40 tahun itu kini menjabat sebagai founder dan direktur Smart Indonesia Academy (SIA) School of Management and Consulting. Meski ada tuntutan besar di tempat kerja, dia tetap meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan anaknya. ”Sudah saya atur sendiri. Aturnya adalah mendidik dua anak saya secara mandiri, dalam hal apa pun,” jelasnya.

Sejak menjadi single mom, Tanti mulai mendidik kedua buah hatinya agar bisa menjadi pribadi yang mandiri dan berempati. Tanti lantas mencontohkan beberapa hal. Salah satunya yakni perintah salat lima waktu. Tanpa disuruh, kedua anaknya kini mampu menjalankan perintah tersebut. Tak hanya itu saja, Tanti kini juga harus merawat kedua orang tuanya yang tengah sakit di rumah. Dia bersyukur karena kedua anaknya mampu pengertian dan ikut membantunya dalam merawat kedua orang tuanya.

Bagi Tanti, tindakan dari anaknya itu menjadi sebuah investasi ilmu bagi mereka ketika beranjak dewasa. ”Saya pun sebagai orang tua punya prinsip untuk tidak mengumbar kesedihan (di depan anak). Sebab hal itu akan membuat putra saya ikut sedih juga,” tutur Tanti. Dengan cara itu, Tanti selalu berupaya menguatkan diri di hadapan kedua anaknya. Khususnya bila ada masalah yang datang. Dari pengalamannya itu, Tanti berharap para perempuan lainnya juga tidak mudah menyerah dengan masalah yang datang. Sosok Kartini menurutnya patut menjadi contoh. (gp/adn/by)

TANTI WIDIA NURDIANI, PANTANG UMBAR KESEDIHAN DI DEPAN ANAK

CERITA ketangguhan sebagai single mom lainnya datang dari Tanti Widia Nurdiani. Semua bermula di akhir tahun 2020 lalu, saat rumah tangganya yang sudah berjalan sekitar 15 tahun harus kandas. Meski harus berpisah dengan suami dan harus membesarkan dua buah hati kecilnya seorang diri.

Tanti pantang untuk terus-terusan mengeluh. Dua putranya saat ini sudah beranjak remaja. Satu duduk di kelas 9 SMP, satunya duduk di kelas 5 SD. Dituntut mampu menjalankan tugasnya sebagai orang tua, Tanti mampu menjalankan dua peran berbeda. Yang pertama sebagai ibu rumah tangga. Selanjutnya sebagai wanita karier. Untuk pekerjaan, perempuan berusia 40 tahun itu kini menjabat sebagai founder dan direktur Smart Indonesia Academy (SIA) School of Management and Consulting. Meski ada tuntutan besar di tempat kerja, dia tetap meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan anaknya. ”Sudah saya atur sendiri. Aturnya adalah mendidik dua anak saya secara mandiri, dalam hal apa pun,” jelasnya.

Sejak menjadi single mom, Tanti mulai mendidik kedua buah hatinya agar bisa menjadi pribadi yang mandiri dan berempati. Tanti lantas mencontohkan beberapa hal. Salah satunya yakni perintah salat lima waktu. Tanpa disuruh, kedua anaknya kini mampu menjalankan perintah tersebut. Tak hanya itu saja, Tanti kini juga harus merawat kedua orang tuanya yang tengah sakit di rumah. Dia bersyukur karena kedua anaknya mampu pengertian dan ikut membantunya dalam merawat kedua orang tuanya.

Bagi Tanti, tindakan dari anaknya itu menjadi sebuah investasi ilmu bagi mereka ketika beranjak dewasa. ”Saya pun sebagai orang tua punya prinsip untuk tidak mengumbar kesedihan (di depan anak). Sebab hal itu akan membuat putra saya ikut sedih juga,” tutur Tanti. Dengan cara itu, Tanti selalu berupaya menguatkan diri di hadapan kedua anaknya. Khususnya bila ada masalah yang datang. Dari pengalamannya itu, Tanti berharap para perempuan lainnya juga tidak mudah menyerah dengan masalah yang datang. Sosok Kartini menurutnya patut menjadi contoh. (gp/adn/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru