alexametrics
25.1 C
Malang
Sunday, 25 July 2021

Covid Menggila, Warga Malang Raya Kompak Bikin Diangan

KOTA BATU – Tak hanya ikhtiar dengan pengobatan medis untuk mengatasi Covid-19, namun warga juga melakukan langkah lain untuk mencegah penularan Covid-19, salah satunya dengan cara membuat diangan. Fenomena warga membuat diangan terlihat di beberapa daerah di Malang Raya.

Diangan merupakan tradisi membakar kayu atau arang setiap mendekati malam hari. Kayu atau arang yang dibakar itu kemudian ditaburi dengan garam kasar. Ritual ini dipercaya bisa mengusir penyakit, atau pagebluk.

Seperti yang dilakukan Kasiatin, salah satu warga berusia 70 tahun,warga Desa Beji Kota Batu yang masih menganut kepercayaan tersebut.

“Ini tradisi Jawa yang dulu sering dilakukan, agar terhindar dari penyakit, kayu dibakar setelah Maghrib terus dibiarkan nyala begitu saja, hingga esok hari,” terang Kasiatin.

Untuk kayu yang dibakar tidak ada standarnya. Kayu yang digunakan bisa apa saja, dan yang terpenting juga doa kepada yang Kuasa, agar selamat. Doa juga dilakukan secara individu, agar terhindar dari kerumunan.

“Selain menjalankan tradisi ini, ya berdoa juga ikhtiar, agar selamat,” tambahnya.

Sudut lain Malang Raya, tepatnya di Bululawang, aktivitas yang sama juga dilakukan Nina Nur Fitriana. Warga Pakisaji ini sejak seminggu terakhir rajin menyalakan diangan setiap kali menjelang Maghrib.

“Dulu, setiap ada yang sakit di rumah, ayah selalu bikin diangan. Kataya buat ngusir penyakit,” cerita anak keempat dari lima bersaudara itu.

Hal yangs ama juga dilakukan oleh Dian Agustin, warga Klojen Kota Malang ini selalu membakar arang setiap menjelang Maghrib hingga selepas Isya. Ia menyebut, karena tak punya kayu, ia pun memanfaatkan arang.

“Terus ditaburi garam kasar. Untuk mengusir penyakit. ini tradisi yang diturunkan dari orang tua. entah benar atau tidak, anggap saja ikhtiar sekaligus melestarikan tradisi,” tutur ibu rumah tangga alumni ITN Malang itu.

Berdasarkan kepercayaan masyarakat, pagebluk merupakan wabah yang tidak jelas jenis penyakitnya. Ketika dilanda pagebluk, seseorang terkena penyakit pada pagi hari lalu mendadak sore atau malam hari yang bersangkutan meninggal dunia. Lebih lanjut, pagebluk dapat menyebar ke hampir seluruh pelosok negeri, seperti saat ini dimana dunia tengah dilanda Covid-19.

Pewarta : Roisyatul Mufidah

KOTA BATU – Tak hanya ikhtiar dengan pengobatan medis untuk mengatasi Covid-19, namun warga juga melakukan langkah lain untuk mencegah penularan Covid-19, salah satunya dengan cara membuat diangan. Fenomena warga membuat diangan terlihat di beberapa daerah di Malang Raya.

Diangan merupakan tradisi membakar kayu atau arang setiap mendekati malam hari. Kayu atau arang yang dibakar itu kemudian ditaburi dengan garam kasar. Ritual ini dipercaya bisa mengusir penyakit, atau pagebluk.

Seperti yang dilakukan Kasiatin, salah satu warga berusia 70 tahun,warga Desa Beji Kota Batu yang masih menganut kepercayaan tersebut.

“Ini tradisi Jawa yang dulu sering dilakukan, agar terhindar dari penyakit, kayu dibakar setelah Maghrib terus dibiarkan nyala begitu saja, hingga esok hari,” terang Kasiatin.

Untuk kayu yang dibakar tidak ada standarnya. Kayu yang digunakan bisa apa saja, dan yang terpenting juga doa kepada yang Kuasa, agar selamat. Doa juga dilakukan secara individu, agar terhindar dari kerumunan.

“Selain menjalankan tradisi ini, ya berdoa juga ikhtiar, agar selamat,” tambahnya.

Sudut lain Malang Raya, tepatnya di Bululawang, aktivitas yang sama juga dilakukan Nina Nur Fitriana. Warga Pakisaji ini sejak seminggu terakhir rajin menyalakan diangan setiap kali menjelang Maghrib.

“Dulu, setiap ada yang sakit di rumah, ayah selalu bikin diangan. Kataya buat ngusir penyakit,” cerita anak keempat dari lima bersaudara itu.

Hal yangs ama juga dilakukan oleh Dian Agustin, warga Klojen Kota Malang ini selalu membakar arang setiap menjelang Maghrib hingga selepas Isya. Ia menyebut, karena tak punya kayu, ia pun memanfaatkan arang.

“Terus ditaburi garam kasar. Untuk mengusir penyakit. ini tradisi yang diturunkan dari orang tua. entah benar atau tidak, anggap saja ikhtiar sekaligus melestarikan tradisi,” tutur ibu rumah tangga alumni ITN Malang itu.

Berdasarkan kepercayaan masyarakat, pagebluk merupakan wabah yang tidak jelas jenis penyakitnya. Ketika dilanda pagebluk, seseorang terkena penyakit pada pagi hari lalu mendadak sore atau malam hari yang bersangkutan meninggal dunia. Lebih lanjut, pagebluk dapat menyebar ke hampir seluruh pelosok negeri, seperti saat ini dimana dunia tengah dilanda Covid-19.

Pewarta : Roisyatul Mufidah

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru