alexametrics
24.5 C
Malang
Thursday, 30 June 2022

Petani Masih Pakai Pestisida, Ini Langkah Dinas Pertanian Kota Batu

BATU – Selain apel, jeruk menjadi komoditas andalan di Kota Batu. Tahun lalu, produktivitas jeruk mencapai 55.273 kuintal dari 300 hektare lahan.

Sayangnya, meski cukup produktif,belum semua petani paham soal bagaimana merawat tanaman yang benar. Termasuk soal pengendalian hama.

Karena itu, Dinas Pertanian Kota Batu membantu petani lewat program SLPHT (Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu).

Sebelum pandemi, SLPHT tahun ini sudah sempat dijalankan sebanyak 5 kali pertemuan. Tetapi karena adanya pandemi, program tersebut sempat tertunda untuk sementara waktu. “Padahal program ini harus dilakukan 11 kali pertemuan,” tambahnya.

Dari program ini, Sugeng menyampaikan, petani bisa lebih mengetahui potensi penyebaran hama di lahannya. Sebab, pengendalian hama bukan hanya disemprot seperti yang orang-orang tahu pada umumnya.

Oleh karena itu, di SLPHT ini, petani diajarkan untuk mengamati lahannya. Yang kemudian, dari hasil pengamatan itu didiskusikan agar ditemukan solusinya. “Jadi tidak asal semprot setiap hari agar terhindar dari hama,”terangnya.

Selain itu, petani juga mendapatkan teori tentang pestisida nabati dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman. “Yang langsung dilanjutkan ke praktek pembuatan Pestisida Nabati,” ucap Sugeng.

Ia berharap, dengan adanya SLPHT setidaknya petani bisa mengelola lahannya dengan lebih bijaksana. “Dengan acuan petani lebih paham kondisi lahan pertaniannya, seperti jenis hama yang menyaearng dan pengendaliannya,” pungkasnya.

Pewarta : Ulfa Afrian

BATU – Selain apel, jeruk menjadi komoditas andalan di Kota Batu. Tahun lalu, produktivitas jeruk mencapai 55.273 kuintal dari 300 hektare lahan.

Sayangnya, meski cukup produktif,belum semua petani paham soal bagaimana merawat tanaman yang benar. Termasuk soal pengendalian hama.

Karena itu, Dinas Pertanian Kota Batu membantu petani lewat program SLPHT (Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu).

Sebelum pandemi, SLPHT tahun ini sudah sempat dijalankan sebanyak 5 kali pertemuan. Tetapi karena adanya pandemi, program tersebut sempat tertunda untuk sementara waktu. “Padahal program ini harus dilakukan 11 kali pertemuan,” tambahnya.

Dari program ini, Sugeng menyampaikan, petani bisa lebih mengetahui potensi penyebaran hama di lahannya. Sebab, pengendalian hama bukan hanya disemprot seperti yang orang-orang tahu pada umumnya.

Oleh karena itu, di SLPHT ini, petani diajarkan untuk mengamati lahannya. Yang kemudian, dari hasil pengamatan itu didiskusikan agar ditemukan solusinya. “Jadi tidak asal semprot setiap hari agar terhindar dari hama,”terangnya.

Selain itu, petani juga mendapatkan teori tentang pestisida nabati dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman. “Yang langsung dilanjutkan ke praktek pembuatan Pestisida Nabati,” ucap Sugeng.

Ia berharap, dengan adanya SLPHT setidaknya petani bisa mengelola lahannya dengan lebih bijaksana. “Dengan acuan petani lebih paham kondisi lahan pertaniannya, seperti jenis hama yang menyaearng dan pengendaliannya,” pungkasnya.

Pewarta : Ulfa Afrian

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/