alexametrics
22.6 C
Malang
Thursday, 19 May 2022

Dr Diva, Peraih Doktor Termuda yang Kini Merambah Jadi Konten Kreator

PROFIL MINGGU

Bulan September 2021, nama Diva Kurnianingtyas sempat viral di jagat maya. Saat itu usianya masih 24 tahun, namun dia sudah mampu menuntaskan pendidikan S3 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Sejak saat itu, dia menjadi salah satu penyandang gelar doktor termuda di Indonesia.

Jalur cepat menuntaskan pendidikan mulai dijalani Diva Kurnianingtyas di tahun 2011 lalu. Saat itu, warga yang ber- domisili di Jalan Klampok Kasri, Kecamatan Klojen, tersebut melanjutkan pendidikan di SMAN 2 Malang. Dia berhasil masuk kelas akselerasi, yang hanya butuh waktu dua tahun untuk lulus. Diva mengaku banyak mendapat tantangan ketika masuk kelas yang hanya berisi 11 siswa tersebut.

”Saya merasakan setiap hari ada kuis hingga ujian. Seakan tidak ada waktu untuk bermain,” jelas perempuan kelahiran Malang, 13 Desember 1996 itu. Meski hari-harinya saat itu banyak diisi dengan belajar, dia tetap aktif dalam kegiatan seni tari di sekolahnya. Beberapa kali dia juga dipercaya menjadi delegasi sekolah di olimpiade fisika dan kimia. Semua aktivitas itu mampu dijalani dengan sempurna. Hingga di tahun 2013 dia bisa lulus dari SMAN 2 Malang.

Berkat kerja kerasnya di tingkat SMA, Diva akhirnya diterima di jurusan Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (UB). Dia masuk jurusan itu lewat jalur undangan. Menempuh S1 sejak tahun 2013, Diva berhasil lulus 3,5 tahun kemudian. Tepatnya di tahun 2017. Dia mengaku bisa lulus dengan cepat akibat aktif dalam membangun relasi di kampus. Mulai dari ikut organisasi, kepanitiaan seminar, hingga menjadi asisten praktikum di laboratorium.

”Saya merasakan ketika membangun relasi dengan kakak tingkat, akhirnya paham strategi dalam kepenulisan skripsi,” jelas Diva sambil tersenyum. Meski menjadi anak tunggal, dia me- mang orang yang cukup gigih dalam memperjuangkan sesuatu. Diva langsung memahami arah skripsinya dengan baik. Untuk mempercepat proses pengerjaan, setiap pekan dia membuat timeline khusus. Tujuannya agar progresnya dalam pengerjaan skripsi bisa dimonitor lebih leluasa. ”Kalau saya malas berarti saya harus siap menunda kelulusan,” jelasnya.

Setelah lulus S1, Diva sempat mencoba untuk bekerja di dunia start-up. Namun keputusan itu hanya bertahan tiga bulan saja. Sampai akhirnya, datang peluang dan kesempatan untuk melanjutkan studi. Yakni pendaftaran beasiswa pendidikan magister menuju doktor untuk sarjana unggul (PMDSU) dari Kemenristek Dikti. Program itu fokus untuk menempuh studi S2 dan S3 dalam waktu 4 tahun.

Hasilnya, Diva mampu menempuh S2 hanya dalam kurun waktu satu tahun. Sedangkan S3 dia tempuh dalam waktu tiga tahun. Padahal, secara normal S2 dan S3 minimal harus ditempuh selama lima tahun. Beasiswa program studi itu juga secara full ditanggung oleh negara.

Perjuangan Diva untuk lolos beasiswa PMDSU itu tak berlangsung secara mudah. Apalagi, dia memilih jurusan yang berbeda dari S1-nya. Sebab saat itu, dia memilih jurusan Teknik Industri di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Bermodalkan IPK 3,86, akhirnya dia tidak masuk dalam tes tulis. Sebab di ITS ada keleluasaan bagi mereka yang memiliki IPK 3,75 ke atas untuk tidak tes tulis.

Saat itu Diva hanya perlu menjalani tes wawancara. ”Wawancaranya full menggunakan Bahasa Inggris,” kata Diva. Setelah melalui serangkaian proses, Diva akhirnya lolos program beasiswa S2-S3 di tahun 2017. Studi S2 mampu diselesaikan dia dalam waktu setahun. Di tahun 2018, dia melanjutkan studi S3, dan akhirnya rampung di bulan September 2021.

Saat mengerjakan disertasi, Diva harus menjalani 7 kali ujian. ”Tantangannya adalah dengan ujian yang banyak plus revisinya,” tuturnya. Tantangan-tantangan itu akhirnya mampu dilalui dia.

Setelah lulus S3 di usia 24 tahun, pada bulan September hingga Desember 2021 lalu Diva dipercaya menjadi Asisten Peneliti di Fakultas Ilmu Komputer (Filkom) UB.

Sejak Januari 2022, Diva menjadi Dosen Teknik Informatika Filkom UB. ”Saya masih tidak menyangka bisa lulus dari S3 dan bersyukur bisa menjadi dosen di kampus S1 saya dulu,” terangnya. Selain menjadi akademisi, dia juga aktif menjadi konten kreator self-development di Instagram. Konten-kontennya banyak ditujukan pagi para ma- hasiswa yang tengah menempuh studi. ”Jika sudah memilih, maka kita harus bertanggung jawab menyelesaikannya. Jadilah yang terbaik,” tutup Diva. (ifa/by)

PROFIL MINGGU

Bulan September 2021, nama Diva Kurnianingtyas sempat viral di jagat maya. Saat itu usianya masih 24 tahun, namun dia sudah mampu menuntaskan pendidikan S3 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Sejak saat itu, dia menjadi salah satu penyandang gelar doktor termuda di Indonesia.

Jalur cepat menuntaskan pendidikan mulai dijalani Diva Kurnianingtyas di tahun 2011 lalu. Saat itu, warga yang ber- domisili di Jalan Klampok Kasri, Kecamatan Klojen, tersebut melanjutkan pendidikan di SMAN 2 Malang. Dia berhasil masuk kelas akselerasi, yang hanya butuh waktu dua tahun untuk lulus. Diva mengaku banyak mendapat tantangan ketika masuk kelas yang hanya berisi 11 siswa tersebut.

”Saya merasakan setiap hari ada kuis hingga ujian. Seakan tidak ada waktu untuk bermain,” jelas perempuan kelahiran Malang, 13 Desember 1996 itu. Meski hari-harinya saat itu banyak diisi dengan belajar, dia tetap aktif dalam kegiatan seni tari di sekolahnya. Beberapa kali dia juga dipercaya menjadi delegasi sekolah di olimpiade fisika dan kimia. Semua aktivitas itu mampu dijalani dengan sempurna. Hingga di tahun 2013 dia bisa lulus dari SMAN 2 Malang.

Berkat kerja kerasnya di tingkat SMA, Diva akhirnya diterima di jurusan Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (UB). Dia masuk jurusan itu lewat jalur undangan. Menempuh S1 sejak tahun 2013, Diva berhasil lulus 3,5 tahun kemudian. Tepatnya di tahun 2017. Dia mengaku bisa lulus dengan cepat akibat aktif dalam membangun relasi di kampus. Mulai dari ikut organisasi, kepanitiaan seminar, hingga menjadi asisten praktikum di laboratorium.

”Saya merasakan ketika membangun relasi dengan kakak tingkat, akhirnya paham strategi dalam kepenulisan skripsi,” jelas Diva sambil tersenyum. Meski menjadi anak tunggal, dia me- mang orang yang cukup gigih dalam memperjuangkan sesuatu. Diva langsung memahami arah skripsinya dengan baik. Untuk mempercepat proses pengerjaan, setiap pekan dia membuat timeline khusus. Tujuannya agar progresnya dalam pengerjaan skripsi bisa dimonitor lebih leluasa. ”Kalau saya malas berarti saya harus siap menunda kelulusan,” jelasnya.

Setelah lulus S1, Diva sempat mencoba untuk bekerja di dunia start-up. Namun keputusan itu hanya bertahan tiga bulan saja. Sampai akhirnya, datang peluang dan kesempatan untuk melanjutkan studi. Yakni pendaftaran beasiswa pendidikan magister menuju doktor untuk sarjana unggul (PMDSU) dari Kemenristek Dikti. Program itu fokus untuk menempuh studi S2 dan S3 dalam waktu 4 tahun.

Hasilnya, Diva mampu menempuh S2 hanya dalam kurun waktu satu tahun. Sedangkan S3 dia tempuh dalam waktu tiga tahun. Padahal, secara normal S2 dan S3 minimal harus ditempuh selama lima tahun. Beasiswa program studi itu juga secara full ditanggung oleh negara.

Perjuangan Diva untuk lolos beasiswa PMDSU itu tak berlangsung secara mudah. Apalagi, dia memilih jurusan yang berbeda dari S1-nya. Sebab saat itu, dia memilih jurusan Teknik Industri di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Bermodalkan IPK 3,86, akhirnya dia tidak masuk dalam tes tulis. Sebab di ITS ada keleluasaan bagi mereka yang memiliki IPK 3,75 ke atas untuk tidak tes tulis.

Saat itu Diva hanya perlu menjalani tes wawancara. ”Wawancaranya full menggunakan Bahasa Inggris,” kata Diva. Setelah melalui serangkaian proses, Diva akhirnya lolos program beasiswa S2-S3 di tahun 2017. Studi S2 mampu diselesaikan dia dalam waktu setahun. Di tahun 2018, dia melanjutkan studi S3, dan akhirnya rampung di bulan September 2021.

Saat mengerjakan disertasi, Diva harus menjalani 7 kali ujian. ”Tantangannya adalah dengan ujian yang banyak plus revisinya,” tuturnya. Tantangan-tantangan itu akhirnya mampu dilalui dia.

Setelah lulus S3 di usia 24 tahun, pada bulan September hingga Desember 2021 lalu Diva dipercaya menjadi Asisten Peneliti di Fakultas Ilmu Komputer (Filkom) UB.

Sejak Januari 2022, Diva menjadi Dosen Teknik Informatika Filkom UB. ”Saya masih tidak menyangka bisa lulus dari S3 dan bersyukur bisa menjadi dosen di kampus S1 saya dulu,” terangnya. Selain menjadi akademisi, dia juga aktif menjadi konten kreator self-development di Instagram. Konten-kontennya banyak ditujukan pagi para ma- hasiswa yang tengah menempuh studi. ”Jika sudah memilih, maka kita harus bertanggung jawab menyelesaikannya. Jadilah yang terbaik,” tutup Diva. (ifa/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/