alexametrics
26.1 C
Malang
Wednesday, 1 December 2021

Rp 470 Juta Picu Perpecahan di Tubuh Gerindra

KEPANJEN – Aroma perpecahan terasa di kepengurusan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Kabupaten Malang. Kemarin, sejumlah pengurus anak cabang menggelar konsolidasi di Kepanjen. Dikemas dengan model penguatan mesin politik, dalam forum tersebut sejumlah pengurus juga menandatangani mosi tidak percaya atas kepemimpinan Ketua DPC Gerindra Kabupaten Malang Chusni Mubarok.

Koordinator Forum Usman Ali Khotib mengatakan, pihaknya menyesalkan sikap pengurus DPC Gerindra Kabupaten Malang yang mereka anggap mati suri. Sejak berakhirnya pemilihan legislatif (pileg) 2019 lalu, dia menyebut tidak ada kegiatan berarti yang diselenggarakan oleh pengurus.

Mewakili kelompoknya, pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPC Gerindra Kabupaten Malang itu mengaku telah bertemu dengan perwakilan pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerindra Provinsi Jawa Timur.

“Kami berharap agar DPP (dewan pimpinan pusat) bisa mendengar suara kami dan mengganti ketua yang lama dengan yang baru,” kata Ali, kemarin (23/11).

Salah satu indikasi dari konflik internal tersebut, masih kata Ali, yakni dikeluarkannya seluruh pengurus PAC di 33 kecamatan di Kabupaten Malang dari WhatsApp grup DPC Gerindra Kabupaten Malang. “Tidak ada konsolidasi. Artinya selama proses 2019 lalu, tidak ada kegiatan dari teman-teman PAC,” jelas dia.

Yang juga menjadi catatan, pihaknya berharap ada transparansi dana hibah dari Bakesbangpol Kabupaten Malang kepada partai berlambang burung garuda itu. Nilainya mencapai Rp 470 juta. “Kami sudah bertemu dengan DPD, cuma sampai detik ini tidak ada tembusan dari DPP. Kami akan tetap terus bersuara,”.

Di tanya soal figur yang tepat memimpin Partai Gerindra Kabupaten Malang, secara eksplisit Ali menyebut bahwa sosok yang paling tepat adalah tokoh asli kelahiran Bumi Kanjuruhan. “Kami berharap (pemimpin partai) adalah dari kader terbaik yang memimpin kabupaten, karena mereka yang paham karakter. Dari dewan mungkin dengan suara terbanyak sehingga mewakili eksistensi dan loyal ke partai,” beber dia.

Terpisah, Wakil Ketua DPC Gerindra Kabupaten Malang Zia Ulhaq menampik gerakan tersebut merupakan simbol perpecahan di internal kepengurusan partainya. “Nggak ada perpecahan. Gerindra baik-baik saja,” tegasnya saat dikonfirmasi, kemarin (23/11).

Bendahara Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Malang itu menyebut, gerakan yang dilakukan oleh kelompok simpatisan tersebut merupakan dinamika yang lumrah dalam organisasi. “Itu kan orang yang nafsu politiknya terlalu tinggi, kami terus melakukan koordinasi kok. Sabtu lalu (20/11) kami melaksanakan pertemuan dengan PAC di Pakis dan habis ini kami juga konsolidasi dengan (PAC) Dampit,” kilahnya.

Maka anggota dewan dari dapil Pakis itu justru mempertanyakan keabsahan keanggotaan peserta dalam forum yang dianggap ilegal tersebut. “Itu gerakan an-organisasi. Selama ini mereka sudah diundang rapat tapi tidak datang. Kalau mau dialog, buat surat resmi kami bisa berkomunikasi baik-baik,” ujar Zia.

Zia juga tidak ragu menyebut bahwa kelompok tersebut merupakan simpatisan dari anggota DPRD dari Fraksi Gerindra yang ingin menjadi ketua DPC. Sayangnya, Ketua DPC Gerindra Kabupaten Malang belum merespons upaya konfirmasi koran ini.(iik/nj6/dan)

KEPANJEN – Aroma perpecahan terasa di kepengurusan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Kabupaten Malang. Kemarin, sejumlah pengurus anak cabang menggelar konsolidasi di Kepanjen. Dikemas dengan model penguatan mesin politik, dalam forum tersebut sejumlah pengurus juga menandatangani mosi tidak percaya atas kepemimpinan Ketua DPC Gerindra Kabupaten Malang Chusni Mubarok.

Koordinator Forum Usman Ali Khotib mengatakan, pihaknya menyesalkan sikap pengurus DPC Gerindra Kabupaten Malang yang mereka anggap mati suri. Sejak berakhirnya pemilihan legislatif (pileg) 2019 lalu, dia menyebut tidak ada kegiatan berarti yang diselenggarakan oleh pengurus.

Mewakili kelompoknya, pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPC Gerindra Kabupaten Malang itu mengaku telah bertemu dengan perwakilan pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerindra Provinsi Jawa Timur.

“Kami berharap agar DPP (dewan pimpinan pusat) bisa mendengar suara kami dan mengganti ketua yang lama dengan yang baru,” kata Ali, kemarin (23/11).

Salah satu indikasi dari konflik internal tersebut, masih kata Ali, yakni dikeluarkannya seluruh pengurus PAC di 33 kecamatan di Kabupaten Malang dari WhatsApp grup DPC Gerindra Kabupaten Malang. “Tidak ada konsolidasi. Artinya selama proses 2019 lalu, tidak ada kegiatan dari teman-teman PAC,” jelas dia.

Yang juga menjadi catatan, pihaknya berharap ada transparansi dana hibah dari Bakesbangpol Kabupaten Malang kepada partai berlambang burung garuda itu. Nilainya mencapai Rp 470 juta. “Kami sudah bertemu dengan DPD, cuma sampai detik ini tidak ada tembusan dari DPP. Kami akan tetap terus bersuara,”.

Di tanya soal figur yang tepat memimpin Partai Gerindra Kabupaten Malang, secara eksplisit Ali menyebut bahwa sosok yang paling tepat adalah tokoh asli kelahiran Bumi Kanjuruhan. “Kami berharap (pemimpin partai) adalah dari kader terbaik yang memimpin kabupaten, karena mereka yang paham karakter. Dari dewan mungkin dengan suara terbanyak sehingga mewakili eksistensi dan loyal ke partai,” beber dia.

Terpisah, Wakil Ketua DPC Gerindra Kabupaten Malang Zia Ulhaq menampik gerakan tersebut merupakan simbol perpecahan di internal kepengurusan partainya. “Nggak ada perpecahan. Gerindra baik-baik saja,” tegasnya saat dikonfirmasi, kemarin (23/11).

Bendahara Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Malang itu menyebut, gerakan yang dilakukan oleh kelompok simpatisan tersebut merupakan dinamika yang lumrah dalam organisasi. “Itu kan orang yang nafsu politiknya terlalu tinggi, kami terus melakukan koordinasi kok. Sabtu lalu (20/11) kami melaksanakan pertemuan dengan PAC di Pakis dan habis ini kami juga konsolidasi dengan (PAC) Dampit,” kilahnya.

Maka anggota dewan dari dapil Pakis itu justru mempertanyakan keabsahan keanggotaan peserta dalam forum yang dianggap ilegal tersebut. “Itu gerakan an-organisasi. Selama ini mereka sudah diundang rapat tapi tidak datang. Kalau mau dialog, buat surat resmi kami bisa berkomunikasi baik-baik,” ujar Zia.

Zia juga tidak ragu menyebut bahwa kelompok tersebut merupakan simpatisan dari anggota DPRD dari Fraksi Gerindra yang ingin menjadi ketua DPC. Sayangnya, Ketua DPC Gerindra Kabupaten Malang belum merespons upaya konfirmasi koran ini.(iik/nj6/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru