alexametrics
22.3 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Pedagang-Peternak Telur Keluhkan Harga Fluktuatif

KABUPATEN – Harga telur di Kabupaten Malang masih naik turun. Kendati tidak drastis, sejumlah pedagang mulai merasakan dampak fluktuasi harga tersebut. Kemarin (24/2), sudah ada pedagang telur eceran yang menjual dengan harga Rp 19.500 per kilogram.

“Sempat jual harga Rp 18.000 per kilogram. Kemudian Rp 18.500, dan sekarang Rp 19.500 per kilogram. Ya bagaimana, memang harganya naik turun. Saya ambil untung juga tidak besar,” ujar Sri Andayani, salah satu pedagang telur pinggir jalan di Mangliawan, Kecamatan Pakis, kemarin.

Informasi yang dihimpun koran ini, harga komoditas telur sedang tidak stabil. Syahroni, peternak ayam petelur di Desa Mendalanwangi, Wagir itu menyebut, harga telur beberapa hari belakangan mengalami naik turun. Dia sempat mengalami harga telur di bawah Harga Pokok Produksi (HPP), sehingga dia merugi. Misalnya HPP Rp 19 ribu, tapi harga jual telur hanya Rp 18 ribu per kilogram.

Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Kabupaten Malang Agung Purwanto mengatakan, harga telur di pasaran masih normal. Menurutnya, kerugian kebanyakan berasal dari harga pakan, bukan harga telur. “Kami amati harga telur ras rata-rata Rp 19 ribu per kilogram. Sementara telur ayam kampung sekitar Rp 45 ribu per kilogram. Masih dalam batas normal,” kata dia.

Lantas bagaimana dengan keluhan peternak yang mengaku rugi? ”Kalaupun rugi, mungkin karena harga pakan yang naik,” jawab Agung

Agung yakin, pedagang eceran tidak akan rugi. Selama masih ada barang dan permintaan, kata dia, perputaran komoditas telur akan berlangsung normal. “Harga masih stabil karena penawaran dan permintaan berimbang,” tutupnya.(fin/dan)

KABUPATEN – Harga telur di Kabupaten Malang masih naik turun. Kendati tidak drastis, sejumlah pedagang mulai merasakan dampak fluktuasi harga tersebut. Kemarin (24/2), sudah ada pedagang telur eceran yang menjual dengan harga Rp 19.500 per kilogram.

“Sempat jual harga Rp 18.000 per kilogram. Kemudian Rp 18.500, dan sekarang Rp 19.500 per kilogram. Ya bagaimana, memang harganya naik turun. Saya ambil untung juga tidak besar,” ujar Sri Andayani, salah satu pedagang telur pinggir jalan di Mangliawan, Kecamatan Pakis, kemarin.

Informasi yang dihimpun koran ini, harga komoditas telur sedang tidak stabil. Syahroni, peternak ayam petelur di Desa Mendalanwangi, Wagir itu menyebut, harga telur beberapa hari belakangan mengalami naik turun. Dia sempat mengalami harga telur di bawah Harga Pokok Produksi (HPP), sehingga dia merugi. Misalnya HPP Rp 19 ribu, tapi harga jual telur hanya Rp 18 ribu per kilogram.

Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Kabupaten Malang Agung Purwanto mengatakan, harga telur di pasaran masih normal. Menurutnya, kerugian kebanyakan berasal dari harga pakan, bukan harga telur. “Kami amati harga telur ras rata-rata Rp 19 ribu per kilogram. Sementara telur ayam kampung sekitar Rp 45 ribu per kilogram. Masih dalam batas normal,” kata dia.

Lantas bagaimana dengan keluhan peternak yang mengaku rugi? ”Kalaupun rugi, mungkin karena harga pakan yang naik,” jawab Agung

Agung yakin, pedagang eceran tidak akan rugi. Selama masih ada barang dan permintaan, kata dia, perputaran komoditas telur akan berlangsung normal. “Harga masih stabil karena penawaran dan permintaan berimbang,” tutupnya.(fin/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/