alexametrics
28.1 C
Malang
Thursday, 7 July 2022

Nggeletek, Vonis Ringan Penyiksa Anak Panti

MALANG KOTA- Majelis hakim yang menangani kasus pemerkosaan dan penyiksaan terhadap Mentik (nama rekaan), 13, anak panti rupanya benar-benar bermurah hati. Setelah memutuskan hukuman ringan kepada YG, 17, terdakwa pemerkosa terhadap Mentik dengan penjara empat tahun penjara plus ganti rugi Rp 245 ribu, vonis sangat ringan juga dijatuhkan pada para penyiksa Mentik.

SL misalnya, yang didakwa sebagai ”otak” di balik penganiayaan sadis hanya divonis enam bulan penjara. Sedang eksekutor penyiksaan, yakni A, D, A, A alias Y justru hanya dikenai hukuman pembinaan selama 10 bulan di Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) Antasena, Kabupaten Magelang

Vonis itu dibacakan ketua majelis hakim PN Malang Sri Hariyani SH kemarin. Dalam persidangan yang dilakukan di ruang sidang anak tersebut para terdakwa didampingi orang tua dan petugas Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang. Sebeum sidang, sambil menutupi muka dari sorotan kamera awak media yang hadir dengan jilbab dan jaket, A, D, A, A alias Y dan SL langsung dimasukkan ke dalam ruang tahanan untuk sarapan pagi dari keluarga mereka. Berkisar 13 menit setelah mereka makan, para terdakwa masuk menghadap majelis hakim yang dipimpin Sri Hariyani SH. Namun persidangan dibagi dua kloter.

Kloter pertama sidang untuk terdakwa A, D, A, A alias Y selaku eksekutor pengeroyokan Mentik. Suasana dalam ruangan pun nampak penuh karena beberapa petugas dari Balai Pemasyarakatan (Bapas) Malang, Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur dan tim kuasa hukum ikut masuk. Dengan tatapan tegak lurus menghadap majelis hakim, keempat terdakwa mendengarkan setiap butir fakta persidangan dan amar putusan yang dibacakan.

Ketua majelis hakim sendiri membacakan semua fakta mulai dari perbuatan YG, terdakwa pemerkosa yang mengajak Mentik berkeliling untuk mencari cashing ponsel sebelum terjadi pengeroyokan terhadap Mentik pada Kamis (8/11). Termasuk detail berapa kali setiap pelaku anak memukul Mentik. Misal A yang menarik jilbab, menjambak dan memukul wajah korban. Saat kronologi itu dibacakan, membuat A langsung tertunduk ketika mendengarnya. Sementara D yang mendorong korban hingga jatuh untuk mengawali pengeroyokan.

Kemudian jelang pembacaan amar putusan, semua terdakwa diminta berdiri. “Dikenakan hukuman pembinaan di Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) Antasena, Kabupaten Magelang selama 10 bulan,” kata Sri membacakan putusan.

Putusan itu sendiri sudah sesuai dengan Pasal 80 ayat 1 juncto 76C Undang-Undang (UU) nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak. Setelah pembacaan, A alias Y yang duduk berada di ujung kanan kursi terdakwa pun langsung menunduk dan mencium tangan orang tuanya sebelum diminta untuk kembali ke ruang tahanan. Putusan itu sendiri dirasa oleh kuasa hukum Y, Dalu Eko Prasetyo SH sudah cocok. “Karena memang mereka harus diberikan pembinaan agar tidak mengulang perbuatannya,” ucap dia.

Pukul 10.07, giliran SL yang masuk didampingi ayahnya dari ruang tahanan. Sama seperti kloter sebelumnya, dia mendengarkan setiap butir fakta persidangan dengan pandangan lurus ke depan. Lalu kenapa para pengeroyok dibagi menjadi dua kali sidang? Rupanya, selain registrasi perkaranya beda, juga beban perbuatannya lebih berat. SL memang didakwa sebagai penganjur pengeroyokan kepada empat kawankawannya. Dalam pembacaan fakta, ketua majelis hakim menjelaskan bahwa tindak pengeroyokan itu bermula dari percakapan WhatsApp SL kepada D yang berbunyi “Ayo wis, ndek KDS Araya ae” (Ayo, di KDS Araya saja) yang diawali dengan pesan suara yang berbunyi “Ayo grebek bojoku ambek (Mentik, red)” (Ayo grebek suamiku sama Mentik), dua hal itulah yang membuat SL dinilai oleh hakim sebagai penganjur.

Namun belakangan diketahui bahwa YG sempat tepergok oleh D sedang berdua dengan Mentik sebelum masuk kamar. Dan YG sempat berpesan pada D untuk tidak bilang ke SL, istri sirinya. Sayangnya, D membocorkannya ke SL. Inilah yang membuat SL kesal serta mengajak teman-temannya untuk main hakim sendiri. Kelima terdakwa pun mendapati YG sedang di kamar. Saat itu Mentik tidur di dada YG. Dari situlah emosi SL memuncak dan memprovokasi rekan-rekannya untuk menyiksa Mentik. Hingga akhirnya Mentik diajak ke lahan kosong di kawasan Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing.

Di situlah, dia dieksekusi lima perempuan yang masih kategori anak-anak. Tanpa member ampun, para penyiksa menganiaya Mentik. Aksi sadis mereka juga direkam. Bahkan dalam video rekaman yang beredar luas, sembari menyiksa Mentik, mereka juga tertawa cekikikan. Tidak ada rasa belas kasihan sama sekali. Padahal, wajah dan sebagian tubuh Mentik saat itu sudah penuh darah.

Sadisnya, dalam kondisi wajah Mentik yang sudah berlumuran darah, para penyiksa mengajak foto bareng Mentik. Foto itu juga di-upload di media social. Inilah yang membuat sebagian besar masyarakat geram dengan ulah mereka. Kembali ke suasana persidangan, saat pembacaan amar putusan, SL dan ayahnya pun berdiri. “Kami jatuhkan hukuman enam bulan penjara dan kewajiban membayar restitusi (ganti rugi) sebesar Rp 2,75 juta,” ujar Sri.

Restitusi itu sendiri menurut majelis hakim berdasarkan kerugian berupa ponsel Mentik yang dijual oleh pengeroyok dan laku Rp 75 ribu serta obatobat yang harus dikonsumsi Mentik akibat luka-luka yang ditimbulkan. Itu dibebankan kepada orang tuanya. “Setidaknya lebih baiklah,” kata ayah SL selepas sidang.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa pengeroyokan, Heri Budi SH mengatakan bahwa semua kliennya menerima putusan tersebut. Namun ada sesuatu yang mengganjal terkait SL. “Harusnya dapat pembinaan juga, karena dia juga rindu sekolah,” ucap dia. SL sendiri akan dimasukkan ke Lapas Perempuan Sukun, di mana diketahui untuk lebih memudahkannya memberikan Air Susu Ibu (ASI) anaknya yang berusia 2,5 tahun boleh ikut dengan ibunya. Namun putusan itu sendiri masih mengganjal bagi A, ibu Mentik sebagaimana disampaikan kuasa hukumnya, Do Merda Al Romdhoni SH. “Terkait perkara yang Pasal 80 itu beliau merasa harusnya dihukum lebih tinggi,” ucap dia.

Lalu bagaimana dengan Mentik? Apakah dia tetap akan di shelter Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur di Kota Batu? Anggota DPC Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Malang Raya itu tidak dapat memastikan. Idealnya Penyiksa Kena Hukuman Dua Tahun Dengan tiga vonis sudah dijatuhkan, maka lengkaplah hukuman para pelaku kasus yang mengorbankan Mentik. Seperti diketahui, YG sudah divonis dengan empat tahun penjara dan masa pembinaan selama 10 bulan di Magelang serta kewajiban membayar restitusi sebesar Rp 245 ribu.

Namun bagi ahli hukum pidana Prija Jatmika SH, hukuman tersebut masih terlalu ringan. “Ini tidak akan memberi efek jera kalau hanya pembinaan dan penjara hanya beberapa bulan,” kata dia. Pria yang pernah menjadi jurnalis Jawa Pos itu menilai bahwa kejahatan yang dilakukan oleh terdakwa termasuk serius. Prija menyebut dalam perkara tersebut setidaknya dikenakan penjara satu atau dua tahun sebagai pemberian jera kepada pelaku anak dengan diikuti pembinaan. Sementara untuk penganjur, dalam hal ini SL, dapat dikenakan kurungan satu tahun dua bulan atau 14 bulan. Sesuai dasar Sistem Peradilan Perlindungan Anak (SPPA), perkara anak dapat dikenakan vonis dua pertiga dari hukuman tuntutan. “Secara tuntutan sudah betul jaksanya, namun vonisnya terlalu ringan,” tutup akademisi Fakultas Hukum (FH) Universitas Brawijaya (UB) tersebut. (biy/abm)

MALANG KOTA- Majelis hakim yang menangani kasus pemerkosaan dan penyiksaan terhadap Mentik (nama rekaan), 13, anak panti rupanya benar-benar bermurah hati. Setelah memutuskan hukuman ringan kepada YG, 17, terdakwa pemerkosa terhadap Mentik dengan penjara empat tahun penjara plus ganti rugi Rp 245 ribu, vonis sangat ringan juga dijatuhkan pada para penyiksa Mentik.

SL misalnya, yang didakwa sebagai ”otak” di balik penganiayaan sadis hanya divonis enam bulan penjara. Sedang eksekutor penyiksaan, yakni A, D, A, A alias Y justru hanya dikenai hukuman pembinaan selama 10 bulan di Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) Antasena, Kabupaten Magelang

Vonis itu dibacakan ketua majelis hakim PN Malang Sri Hariyani SH kemarin. Dalam persidangan yang dilakukan di ruang sidang anak tersebut para terdakwa didampingi orang tua dan petugas Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang. Sebeum sidang, sambil menutupi muka dari sorotan kamera awak media yang hadir dengan jilbab dan jaket, A, D, A, A alias Y dan SL langsung dimasukkan ke dalam ruang tahanan untuk sarapan pagi dari keluarga mereka. Berkisar 13 menit setelah mereka makan, para terdakwa masuk menghadap majelis hakim yang dipimpin Sri Hariyani SH. Namun persidangan dibagi dua kloter.

Kloter pertama sidang untuk terdakwa A, D, A, A alias Y selaku eksekutor pengeroyokan Mentik. Suasana dalam ruangan pun nampak penuh karena beberapa petugas dari Balai Pemasyarakatan (Bapas) Malang, Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur dan tim kuasa hukum ikut masuk. Dengan tatapan tegak lurus menghadap majelis hakim, keempat terdakwa mendengarkan setiap butir fakta persidangan dan amar putusan yang dibacakan.

Ketua majelis hakim sendiri membacakan semua fakta mulai dari perbuatan YG, terdakwa pemerkosa yang mengajak Mentik berkeliling untuk mencari cashing ponsel sebelum terjadi pengeroyokan terhadap Mentik pada Kamis (8/11). Termasuk detail berapa kali setiap pelaku anak memukul Mentik. Misal A yang menarik jilbab, menjambak dan memukul wajah korban. Saat kronologi itu dibacakan, membuat A langsung tertunduk ketika mendengarnya. Sementara D yang mendorong korban hingga jatuh untuk mengawali pengeroyokan.

Kemudian jelang pembacaan amar putusan, semua terdakwa diminta berdiri. “Dikenakan hukuman pembinaan di Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) Antasena, Kabupaten Magelang selama 10 bulan,” kata Sri membacakan putusan.

Putusan itu sendiri sudah sesuai dengan Pasal 80 ayat 1 juncto 76C Undang-Undang (UU) nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak. Setelah pembacaan, A alias Y yang duduk berada di ujung kanan kursi terdakwa pun langsung menunduk dan mencium tangan orang tuanya sebelum diminta untuk kembali ke ruang tahanan. Putusan itu sendiri dirasa oleh kuasa hukum Y, Dalu Eko Prasetyo SH sudah cocok. “Karena memang mereka harus diberikan pembinaan agar tidak mengulang perbuatannya,” ucap dia.

Pukul 10.07, giliran SL yang masuk didampingi ayahnya dari ruang tahanan. Sama seperti kloter sebelumnya, dia mendengarkan setiap butir fakta persidangan dengan pandangan lurus ke depan. Lalu kenapa para pengeroyok dibagi menjadi dua kali sidang? Rupanya, selain registrasi perkaranya beda, juga beban perbuatannya lebih berat. SL memang didakwa sebagai penganjur pengeroyokan kepada empat kawankawannya. Dalam pembacaan fakta, ketua majelis hakim menjelaskan bahwa tindak pengeroyokan itu bermula dari percakapan WhatsApp SL kepada D yang berbunyi “Ayo wis, ndek KDS Araya ae” (Ayo, di KDS Araya saja) yang diawali dengan pesan suara yang berbunyi “Ayo grebek bojoku ambek (Mentik, red)” (Ayo grebek suamiku sama Mentik), dua hal itulah yang membuat SL dinilai oleh hakim sebagai penganjur.

Namun belakangan diketahui bahwa YG sempat tepergok oleh D sedang berdua dengan Mentik sebelum masuk kamar. Dan YG sempat berpesan pada D untuk tidak bilang ke SL, istri sirinya. Sayangnya, D membocorkannya ke SL. Inilah yang membuat SL kesal serta mengajak teman-temannya untuk main hakim sendiri. Kelima terdakwa pun mendapati YG sedang di kamar. Saat itu Mentik tidur di dada YG. Dari situlah emosi SL memuncak dan memprovokasi rekan-rekannya untuk menyiksa Mentik. Hingga akhirnya Mentik diajak ke lahan kosong di kawasan Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing.

Di situlah, dia dieksekusi lima perempuan yang masih kategori anak-anak. Tanpa member ampun, para penyiksa menganiaya Mentik. Aksi sadis mereka juga direkam. Bahkan dalam video rekaman yang beredar luas, sembari menyiksa Mentik, mereka juga tertawa cekikikan. Tidak ada rasa belas kasihan sama sekali. Padahal, wajah dan sebagian tubuh Mentik saat itu sudah penuh darah.

Sadisnya, dalam kondisi wajah Mentik yang sudah berlumuran darah, para penyiksa mengajak foto bareng Mentik. Foto itu juga di-upload di media social. Inilah yang membuat sebagian besar masyarakat geram dengan ulah mereka. Kembali ke suasana persidangan, saat pembacaan amar putusan, SL dan ayahnya pun berdiri. “Kami jatuhkan hukuman enam bulan penjara dan kewajiban membayar restitusi (ganti rugi) sebesar Rp 2,75 juta,” ujar Sri.

Restitusi itu sendiri menurut majelis hakim berdasarkan kerugian berupa ponsel Mentik yang dijual oleh pengeroyok dan laku Rp 75 ribu serta obatobat yang harus dikonsumsi Mentik akibat luka-luka yang ditimbulkan. Itu dibebankan kepada orang tuanya. “Setidaknya lebih baiklah,” kata ayah SL selepas sidang.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa pengeroyokan, Heri Budi SH mengatakan bahwa semua kliennya menerima putusan tersebut. Namun ada sesuatu yang mengganjal terkait SL. “Harusnya dapat pembinaan juga, karena dia juga rindu sekolah,” ucap dia. SL sendiri akan dimasukkan ke Lapas Perempuan Sukun, di mana diketahui untuk lebih memudahkannya memberikan Air Susu Ibu (ASI) anaknya yang berusia 2,5 tahun boleh ikut dengan ibunya. Namun putusan itu sendiri masih mengganjal bagi A, ibu Mentik sebagaimana disampaikan kuasa hukumnya, Do Merda Al Romdhoni SH. “Terkait perkara yang Pasal 80 itu beliau merasa harusnya dihukum lebih tinggi,” ucap dia.

Lalu bagaimana dengan Mentik? Apakah dia tetap akan di shelter Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur di Kota Batu? Anggota DPC Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Malang Raya itu tidak dapat memastikan. Idealnya Penyiksa Kena Hukuman Dua Tahun Dengan tiga vonis sudah dijatuhkan, maka lengkaplah hukuman para pelaku kasus yang mengorbankan Mentik. Seperti diketahui, YG sudah divonis dengan empat tahun penjara dan masa pembinaan selama 10 bulan di Magelang serta kewajiban membayar restitusi sebesar Rp 245 ribu.

Namun bagi ahli hukum pidana Prija Jatmika SH, hukuman tersebut masih terlalu ringan. “Ini tidak akan memberi efek jera kalau hanya pembinaan dan penjara hanya beberapa bulan,” kata dia. Pria yang pernah menjadi jurnalis Jawa Pos itu menilai bahwa kejahatan yang dilakukan oleh terdakwa termasuk serius. Prija menyebut dalam perkara tersebut setidaknya dikenakan penjara satu atau dua tahun sebagai pemberian jera kepada pelaku anak dengan diikuti pembinaan. Sementara untuk penganjur, dalam hal ini SL, dapat dikenakan kurungan satu tahun dua bulan atau 14 bulan. Sesuai dasar Sistem Peradilan Perlindungan Anak (SPPA), perkara anak dapat dikenakan vonis dua pertiga dari hukuman tuntutan. “Secara tuntutan sudah betul jaksanya, namun vonisnya terlalu ringan,” tutup akademisi Fakultas Hukum (FH) Universitas Brawijaya (UB) tersebut. (biy/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/