alexametrics
20.8 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Kasus Kanker Payudara di Malang Naik Pada Wanita Usia 20-30 Tahun

Selama tiga tahun terakhir, ada tren peningkatan jumlah pasien kanker payudara di Malang raya. Untuk menekan angka kematian, upaya deteksi dini harus digeber lebih masif. Berikut ulasannya yang bertepatan dengan peringatan hari kanker payudara sedunia, hari ini (26/10).

Oktober 2020, menjadi waktu yang mungkin sulit dilupakan Ana, warga Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Pada bulan itu, dia mendapat dua kabar buruk sekaligus. Yang pertama dia dipastikan mengidap kanker payudara. Beberapa hari setelahnya dia juga terpapar Covid-19. ”Jelas pikiran campur aduk saat itu, harus fokus yang mana dulu,” kata dia.

Sebelum memeriksakan diri ke dokter, dia mengalami gejala sakit biasa pada payudara sebelah kiri. Sama seperti yang biasa dia rasakan saat hendak menstruasi. Beberapa bulan kemudian, dia menemukan ada benjolan yang terus membesar. ”Saya akhirnya periksa darah, dan ternyata divonis mengidap kanker payudara stadium dua,” kata dia.

Dia sempat hendak menjalani operasi, namun terpaksa batal karena Ana terkonfirmasi Covid-19. ”Saya baru bisa operasi itu di bulan Januari 2021, dan setiap 3 minggu sekali selalu harus kemoterapi,” sebutnya.

Rutinitas itu dilakukan dia sampai bulan Mei lalu. Total Ana mengikuti kemoterapi sebanyak 6 kali. Upaya itu harus dia lakukan karena ketika hendak operasi, kankernya sudah berada pada stadium 3. ”Dan berlanjut ke kelenjar getah bening,” imbuh ibu 3 anak itu.

Bersyukur, sebulan kemudian, setelah kemoterapi ke 6 dan cek darah, kondisinya semakin membaik. ”Namun masih ada PR (pekerjaan rumah) untuk minum obat selama 5 tahun. Dan tiap 3 bulan sekali harus cek darah,” tambah perempuan berusia 47 tahun itu. Kondisi itu jauh lebih baik dibandingkan awal-awal dia terkena kanker.

Penyintas kanker payudara lainnya, Ningrum (bukan nama sebenarnya), turut berbagi kisah dengan Jawa Pos Radar Malang. Dia mengetahui adanya indikasi kanker payudara di bulan Oktober 2020 lalu. Sama seperti Ana, dia juga menemukan benjolan di area payudara. ”Saya biarkan dulu sampai saya haid, tapi kok ternyata setelah selesai tetap sakit dan benjolannya makin besar,” kata perempuan berusia 41 tahun itu.

Meski tahu dia mengidap kanker payudara, selama 3 bulan dia berupaya menyembuhkannya dengan mengonsumsi obat-obatan herbal. ”Karena musim pandemi, saya takut dicovidkan kalau ke RS,” imbuh Ningrum.

Setelah tidak tahan lagi dengan rasa sakit, dia memberanikan diri periksa ke salah satu dokter yang biasa menangani penyakit kanker. Di sana, dia disarankan untuk melakukan USG dulu.

”Saya akhirnya USG tapi tidak di rumah sakit, kemudian saya datang lagi pada dokter Tiwi dan meminta berobat di situ,” imbuh ibu 3 anak itu. Setelah itu dia mulai mengikuti sesi pengobatan. ”Alhamdulilah, setelah 3 bulan benjolan itu mulai mengempis dan 7 bulan kemudian saya hamil,” terangnya. Karena hamil, konsumsi obat-obatan untuk kanker payudara dihentikan. Dia optimistis bisa sembuh sepenuhnya.

Dua contoh kasus itu hanya sebagian saja. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah kasus kanker payudara di Malang raya cenderung meningkat. Tahun 2020 lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat ada 359 kasus. Di tahun ini, jumlah pastinya memang belum diketahui secara pasti. Meski begitu, jumlah kasusnya diyakini naik 5 persen dari tahun lalu. Bila diestimasi ada tambahan 17 kasus dibandingkan jumlah dari tahun lalu.

Dibandingkan penyakit kanker lainnya, kanker payudara juga menempati jumlah kasus tertinggi di Kota Malang. ”Iya tertinggi di Kota Malang, disusul kanker darah dan kanker serviks yang jumlahnya hanya puluhan,” beber Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Kota Malang drg Muhammad Zamroni, kemarin (25/10).

Zamroni menambahkan bila kanker darah atau leukemia tahun lalu berjumlah 83 kasus. Lalu untuk kanker serviks, di tahun 2020 lalu ada 77 kasus. Sejauh ini, pihaknya belum bisa memastikan angka kematian penderita kanker payudara. Sebab rekapitulasi kematiannya dicatat per rumah sakit (RS).

Dari pengamatannya, perempuan dari jenjang usia 45 sampai 54 tahun lah yang mendominasi kasus kanker payudara. Kasus pada perempuan usia 20 sampai 30 tahun juga ditemukan. Agar terhindar dari kanker payudara, pria yang juga menjabat sebagai ketua persatuan dokter gigi Indonesia (PDGI) cabang Malang itu berbagi tips CERDIK. Kepanjangannya yakni cek kesehatan secara rutin. lalu enyahkan asap rokok, rajin olahraga, dan diet seimbang. Kemudian istirahat cukup dan kelola stres.

”Jadi pola hidup sehat menentukan kualitas kesehatan seseorang, jangan sampai penyakit masuk ke tubuh kita,” tambah Zamroni. (ulf/adn/nug/fik/by/rmc)

Selama tiga tahun terakhir, ada tren peningkatan jumlah pasien kanker payudara di Malang raya. Untuk menekan angka kematian, upaya deteksi dini harus digeber lebih masif. Berikut ulasannya yang bertepatan dengan peringatan hari kanker payudara sedunia, hari ini (26/10).

Oktober 2020, menjadi waktu yang mungkin sulit dilupakan Ana, warga Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Pada bulan itu, dia mendapat dua kabar buruk sekaligus. Yang pertama dia dipastikan mengidap kanker payudara. Beberapa hari setelahnya dia juga terpapar Covid-19. ”Jelas pikiran campur aduk saat itu, harus fokus yang mana dulu,” kata dia.

Sebelum memeriksakan diri ke dokter, dia mengalami gejala sakit biasa pada payudara sebelah kiri. Sama seperti yang biasa dia rasakan saat hendak menstruasi. Beberapa bulan kemudian, dia menemukan ada benjolan yang terus membesar. ”Saya akhirnya periksa darah, dan ternyata divonis mengidap kanker payudara stadium dua,” kata dia.

Dia sempat hendak menjalani operasi, namun terpaksa batal karena Ana terkonfirmasi Covid-19. ”Saya baru bisa operasi itu di bulan Januari 2021, dan setiap 3 minggu sekali selalu harus kemoterapi,” sebutnya.

Rutinitas itu dilakukan dia sampai bulan Mei lalu. Total Ana mengikuti kemoterapi sebanyak 6 kali. Upaya itu harus dia lakukan karena ketika hendak operasi, kankernya sudah berada pada stadium 3. ”Dan berlanjut ke kelenjar getah bening,” imbuh ibu 3 anak itu.

Bersyukur, sebulan kemudian, setelah kemoterapi ke 6 dan cek darah, kondisinya semakin membaik. ”Namun masih ada PR (pekerjaan rumah) untuk minum obat selama 5 tahun. Dan tiap 3 bulan sekali harus cek darah,” tambah perempuan berusia 47 tahun itu. Kondisi itu jauh lebih baik dibandingkan awal-awal dia terkena kanker.

Penyintas kanker payudara lainnya, Ningrum (bukan nama sebenarnya), turut berbagi kisah dengan Jawa Pos Radar Malang. Dia mengetahui adanya indikasi kanker payudara di bulan Oktober 2020 lalu. Sama seperti Ana, dia juga menemukan benjolan di area payudara. ”Saya biarkan dulu sampai saya haid, tapi kok ternyata setelah selesai tetap sakit dan benjolannya makin besar,” kata perempuan berusia 41 tahun itu.

Meski tahu dia mengidap kanker payudara, selama 3 bulan dia berupaya menyembuhkannya dengan mengonsumsi obat-obatan herbal. ”Karena musim pandemi, saya takut dicovidkan kalau ke RS,” imbuh Ningrum.

Setelah tidak tahan lagi dengan rasa sakit, dia memberanikan diri periksa ke salah satu dokter yang biasa menangani penyakit kanker. Di sana, dia disarankan untuk melakukan USG dulu.

”Saya akhirnya USG tapi tidak di rumah sakit, kemudian saya datang lagi pada dokter Tiwi dan meminta berobat di situ,” imbuh ibu 3 anak itu. Setelah itu dia mulai mengikuti sesi pengobatan. ”Alhamdulilah, setelah 3 bulan benjolan itu mulai mengempis dan 7 bulan kemudian saya hamil,” terangnya. Karena hamil, konsumsi obat-obatan untuk kanker payudara dihentikan. Dia optimistis bisa sembuh sepenuhnya.

Dua contoh kasus itu hanya sebagian saja. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah kasus kanker payudara di Malang raya cenderung meningkat. Tahun 2020 lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat ada 359 kasus. Di tahun ini, jumlah pastinya memang belum diketahui secara pasti. Meski begitu, jumlah kasusnya diyakini naik 5 persen dari tahun lalu. Bila diestimasi ada tambahan 17 kasus dibandingkan jumlah dari tahun lalu.

Dibandingkan penyakit kanker lainnya, kanker payudara juga menempati jumlah kasus tertinggi di Kota Malang. ”Iya tertinggi di Kota Malang, disusul kanker darah dan kanker serviks yang jumlahnya hanya puluhan,” beber Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Kota Malang drg Muhammad Zamroni, kemarin (25/10).

Zamroni menambahkan bila kanker darah atau leukemia tahun lalu berjumlah 83 kasus. Lalu untuk kanker serviks, di tahun 2020 lalu ada 77 kasus. Sejauh ini, pihaknya belum bisa memastikan angka kematian penderita kanker payudara. Sebab rekapitulasi kematiannya dicatat per rumah sakit (RS).

Dari pengamatannya, perempuan dari jenjang usia 45 sampai 54 tahun lah yang mendominasi kasus kanker payudara. Kasus pada perempuan usia 20 sampai 30 tahun juga ditemukan. Agar terhindar dari kanker payudara, pria yang juga menjabat sebagai ketua persatuan dokter gigi Indonesia (PDGI) cabang Malang itu berbagi tips CERDIK. Kepanjangannya yakni cek kesehatan secara rutin. lalu enyahkan asap rokok, rajin olahraga, dan diet seimbang. Kemudian istirahat cukup dan kelola stres.

”Jadi pola hidup sehat menentukan kualitas kesehatan seseorang, jangan sampai penyakit masuk ke tubuh kita,” tambah Zamroni. (ulf/adn/nug/fik/by/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/