alexametrics
22.6 C
Malang
Thursday, 19 May 2022

Plagiarisme Karya Tulis Kian Subur, Penjiplak Tambah Ngawur

RADAR MALANG – Tindakan plagiarisme atau lebih dikenal menjiplak karya diketahui sudah ada sejak dulu. Tak hanya di sekolah atau kampus, tindakan plagiasi dipraktekkan oleh mahasiswa, guru hingga dosen. Bahkan guru besar yang menyandang gelar profesor pun ada yang terjerat kasus jiplak-menjiplak karya tulis.

Nah di era serbadigital sekarang ini, praktik plagiasi bukannya berkurang, malah diyakini jumlahnya tambah banyak. Hal itu karena menjiplak karya buku semakin mudah dilakukan berkat bantuan teknologi.
“Kalau kita bicara plagiat di era non digital, minimal harus baca bukunya dulu, kita lihat tulisan aslinya dulu,” kata Pengamat dan Praktisi Pendidikan Indra Charismiadji dalam webinar Plagiarisme dan Wajah Masa Depan Dunia Akademik, Selasa (27/4).

Sekarang ini sudah berubah. Para pelaku plagiasi tinggal mencari bahan di internet atau sumber rujukan digital lain untuk mendapatan karya tulisan penulis atau peneliti yang melakukan riset. “Kalau sekarang kita cukup search dulu di google, kita bisa copy-paste apapun yang mau kita ambil,” tutur dia.

Menurut praktisi pendidikan dari CERDAS (Center for Education Regulations & Development Analysis) ini, praktik plagiasi yang semakin mudah di era digital menjadi tantangan tersendiri, terutama di kalangan akademisi. Apakah mereka tetap bekerja keras menciptakan karya tulisnya sendiri atau potong kompas dengan melakukan plagiasi karya orang lain.

”Jadi tetap saja, tindakan plagiarisme bukan hal baik dan harus dicegah. Dalam hal ini, peran guru dan tenaga pendidik dibutuhkan untuk membimbing anak didiknya agar tidak menjadi penjiplak,” tambahnya.

Sumber; Jawapos

RADAR MALANG – Tindakan plagiarisme atau lebih dikenal menjiplak karya diketahui sudah ada sejak dulu. Tak hanya di sekolah atau kampus, tindakan plagiasi dipraktekkan oleh mahasiswa, guru hingga dosen. Bahkan guru besar yang menyandang gelar profesor pun ada yang terjerat kasus jiplak-menjiplak karya tulis.

Nah di era serbadigital sekarang ini, praktik plagiasi bukannya berkurang, malah diyakini jumlahnya tambah banyak. Hal itu karena menjiplak karya buku semakin mudah dilakukan berkat bantuan teknologi.
“Kalau kita bicara plagiat di era non digital, minimal harus baca bukunya dulu, kita lihat tulisan aslinya dulu,” kata Pengamat dan Praktisi Pendidikan Indra Charismiadji dalam webinar Plagiarisme dan Wajah Masa Depan Dunia Akademik, Selasa (27/4).

Sekarang ini sudah berubah. Para pelaku plagiasi tinggal mencari bahan di internet atau sumber rujukan digital lain untuk mendapatan karya tulisan penulis atau peneliti yang melakukan riset. “Kalau sekarang kita cukup search dulu di google, kita bisa copy-paste apapun yang mau kita ambil,” tutur dia.

Menurut praktisi pendidikan dari CERDAS (Center for Education Regulations & Development Analysis) ini, praktik plagiasi yang semakin mudah di era digital menjadi tantangan tersendiri, terutama di kalangan akademisi. Apakah mereka tetap bekerja keras menciptakan karya tulisnya sendiri atau potong kompas dengan melakukan plagiasi karya orang lain.

”Jadi tetap saja, tindakan plagiarisme bukan hal baik dan harus dicegah. Dalam hal ini, peran guru dan tenaga pendidik dibutuhkan untuk membimbing anak didiknya agar tidak menjadi penjiplak,” tambahnya.

Sumber; Jawapos

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/