alexametrics
33C
Malang
Sunday, 18 April 2021

Bekali Finalis Duta Hijab Radar Malang Kemampuan 3M

MALANG KOTA – Kemampuan public speaking menjadi hal yang wajib dikuasai kontestan pageant. Begitu pun dengan ke-20 finalis Duta Hijab Radar Malang. Kemarin (27/2) digelar pembinaan bagi para finalis untuk membekali diri menuju ajang final. Dalam pembekalan ini, mereka mendapatkan wawasan penting tentang bagaimana public speaking yang harus dimiliki seorang pageant.

Di hadapan para finalis Duta Hijab Radar Malang, Rulli Suprayugo menyatakan, ada perbedaan public speaking antara pageant dengan lainnya. ”Jelas ada perbedaannya, karena kebutuhannya itu ada limit waktunya untuk bicara di depan juri,” jelas Rulli. Durasi waktu yang terbatas ini tentu saja harus bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi para finalis. Termasuk pemilihan kata dan kalimat efektif. Berbeda dengan public speaking untuk orasi ataupun MC.

Salah satunya dengan menerapkan prinsip 3M. Prinsip yang dimaksud bukanlah memakai masker, mencuci tangan, dan menjauhi kerumunan. ”Saya menyebutnya prinsip 3M. Menjawab, membunuh, dan memukau,” lanjut professional public speaker itu. Di dalam prinsip tersebut, finalis dituntut untuk bisa menjawab pertanyaan juri atau dari host dengan waktu yang singkat. Kemudian membunuh lawan-lawan mereka supaya bisa menjadi pemenang. Dan memukau para penonton yang menjadi pendukung mereka.

Jadi, dalam ajang pemilihan duta kecantikan, termasuk Duta Hijab Radar Malang, tidak hanya mengandalkan kecantikan, tetapi juga wawasan, sikap dan public speaking yang bagus. ”Jadi yang saya tularkan ke para finalis adalah bagaimana cara mereka bersikap, bagaimana cara mereka bicara di depan publik hanya dalam waktu 30 detik atau 60 detik,” lanjut alumnus Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Dalam pembekalan yang digelar di ruang rapat Jawa Pos Radar Malang itu, tidak hanya materi public speaking saja. ”Tadi (kemarin) dari Mas Rulli itu public speaking, kemudian dari Bunda Belinda Ameliyah itu personal branding, dan nanti ada Ustad Guntur, dapat kajian muslimah,” terang Wakil Ketua Paguyuban Duta Hijab Radar Malang Ayu Dhea Fatma. Selain itu, juga ada serial pembekalan lain yang dilakukan secara daring, seperti pembekalan dari Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad.

Menurut dia, pembekalan para finalis Duta Hijab Radar Malang tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dari dress code, para peserta memakai pakaian serba putih lengkap dengan face shield dan masker, berbeda dengan dress code tahun sebelumnya yang menggunakan warna biru elektrik. ”Selain itu, tahun kemarin kan kita ada karantina di hotel, nah sekarang ini kan tidak ada. Pembekalan langsung di kantor Jawa Pos Radar Malang,” ungkapnya. (rmc/ref/mas)

MALANG KOTA – Kemampuan public speaking menjadi hal yang wajib dikuasai kontestan pageant. Begitu pun dengan ke-20 finalis Duta Hijab Radar Malang. Kemarin (27/2) digelar pembinaan bagi para finalis untuk membekali diri menuju ajang final. Dalam pembekalan ini, mereka mendapatkan wawasan penting tentang bagaimana public speaking yang harus dimiliki seorang pageant.

Di hadapan para finalis Duta Hijab Radar Malang, Rulli Suprayugo menyatakan, ada perbedaan public speaking antara pageant dengan lainnya. ”Jelas ada perbedaannya, karena kebutuhannya itu ada limit waktunya untuk bicara di depan juri,” jelas Rulli. Durasi waktu yang terbatas ini tentu saja harus bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi para finalis. Termasuk pemilihan kata dan kalimat efektif. Berbeda dengan public speaking untuk orasi ataupun MC.

Salah satunya dengan menerapkan prinsip 3M. Prinsip yang dimaksud bukanlah memakai masker, mencuci tangan, dan menjauhi kerumunan. ”Saya menyebutnya prinsip 3M. Menjawab, membunuh, dan memukau,” lanjut professional public speaker itu. Di dalam prinsip tersebut, finalis dituntut untuk bisa menjawab pertanyaan juri atau dari host dengan waktu yang singkat. Kemudian membunuh lawan-lawan mereka supaya bisa menjadi pemenang. Dan memukau para penonton yang menjadi pendukung mereka.

Jadi, dalam ajang pemilihan duta kecantikan, termasuk Duta Hijab Radar Malang, tidak hanya mengandalkan kecantikan, tetapi juga wawasan, sikap dan public speaking yang bagus. ”Jadi yang saya tularkan ke para finalis adalah bagaimana cara mereka bersikap, bagaimana cara mereka bicara di depan publik hanya dalam waktu 30 detik atau 60 detik,” lanjut alumnus Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Dalam pembekalan yang digelar di ruang rapat Jawa Pos Radar Malang itu, tidak hanya materi public speaking saja. ”Tadi (kemarin) dari Mas Rulli itu public speaking, kemudian dari Bunda Belinda Ameliyah itu personal branding, dan nanti ada Ustad Guntur, dapat kajian muslimah,” terang Wakil Ketua Paguyuban Duta Hijab Radar Malang Ayu Dhea Fatma. Selain itu, juga ada serial pembekalan lain yang dilakukan secara daring, seperti pembekalan dari Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad.

Menurut dia, pembekalan para finalis Duta Hijab Radar Malang tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dari dress code, para peserta memakai pakaian serba putih lengkap dengan face shield dan masker, berbeda dengan dress code tahun sebelumnya yang menggunakan warna biru elektrik. ”Selain itu, tahun kemarin kan kita ada karantina di hotel, nah sekarang ini kan tidak ada. Pembekalan langsung di kantor Jawa Pos Radar Malang,” ungkapnya. (rmc/ref/mas)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru