alexametrics
22.3 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Dampak Infeksi Hepatitis Tak Kalah Bahaya dengan Serangan Covid-19

MALANG KOTA – Ini jenis penyakit lain yang juga disebabkan karena infeksi virus. Namanya hepatitis. Berbeda dengan Covid-19, jumlah kasusnya memang lebih sedikit. Namun, laporan kasus barunya hampir selalu ada tiap bulannya.

Pada peringatan hari hepatitis sedunia yang jatuh pada hari ini (28/7), Jawa Pos Radar Malang mencoba melihat trennya di Kota Malang. Dijelaskan dokter spesialis penyakit dalam RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang, dr Syifa Mustika SpPD K-GEH Finasim, per bulan pihaknya bisa menangani 200 sampai 300 pasien penyakit hepatitis.

”Itu yang rutin berobat dan mendapatkan obat,” kata dia. Dia juga menyebut bila tiap bulan selalu ada penambahan kasus baru. ”Ada sekitar 2 atau 3 kasus tambahan per bulannya. Baik hepatitis B ataupun hepatitis C,” bebernya. Dari pengamatan dia, kasus yang banyak terjadi peningkatan adalah hepatitis C, dengan gejala gagal ginjal. Untuk diketahui sebelumnya, hepatitis adalah penyakit yang menyerang bagian hati atau liver.

Selain disebabkan karena infeksi virus, penyakit itu juga bisa disebabkan faktor lain. Seperti efek samping obat-obatan, konsumsi alkohol dalam jangka panjang, penyakit autoimun, perlemakan hati dan keracunan. Pengkategorian A sampai E disesuaikan dengan jenis virusnya. Disebut dokter Syifa, penularan hepatitis A, C dan E biasanya terjadi dari makanan, air dan kontak fisik.

Sedangkan untuk jenis hepatitis B dan D, penularannya biasanya terjadi dari ibu ke bayi. Selain itu, juga bisa melalui darah, hubungan seksual, dan jarum suntik. Dokter yang juga menjadi Ketua Satgas Covid-19 NU itu menjelaskan bila jenis yang perlu diwaspadai itu adalah hepatitis B dan C. Meski begitu, jenis hepatitis A, D dan E juga tak kalah berbahayanya. ”Tapi hepatitis B dan C tidak bisa sembuh, bisanya cuma dikontrol,” tambahnya.

Di tempat lain, Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif turut membeberkan kendala-kendala pihaknya dalam mendeteksi penyakit hepatitis. Dikatakan dia, ketersedian laboratorium khusus di setiap puskesmas saat ini belum mumpuni. Sehingga pihaknya kesulitan untuk membantu proses pendeteksian penyakit tersebut. ”Iya, penyakit hepatitis baik A, B, C itu lebih banyak di laboratorium RS yang bisa mendiagnosis pasiennya,” terang Husnul.

Husnul menambahkan, puskesmas yang ada di Kota Malang hanya bisa melacak tanda-tanda klinis. Setelah diektahui ada tanda klinis dari pasien terduga hepatitis, maka pihak puskesmas bakal mengirimnya ke RS untuk memastikan lagi. Meski ada problem dalam pendeteksian, mantan Direktur RSUD Kota Malang itu memastikan bila penanganan hepatitis di Kota Malang masih terkendali. ”Saat ini penyakit yang masih menjadi kasus terbanyak didominasi ISPA. Untuk hepatitis tidak sampai lima besar,” tambah Husnul.

Dari pendalaman Jawa Pos Radar Malang, hepatitis A, B, C dan D punya beberapa gejala yang umum terjadi pada pasiennya. Seperti nyeri perut, muntah, mudah kelelahan, serta kulit dan mata berwarna kuning. Gejala lainnya seperti tidak merasa lapar, nyeri sendi dan urine yang berwarna lebih gelap.
Gejala lain juga bisa ditemui dari penyebab seseorang terinfeksi hepatitis. Untuk pasien hepatitis yang terlalu banyak mengkonsumsi alkohol, biasanya akan mengalami penurunan berat badan. Selain itu juga bisa mengalami pembengkakan pada bagian kaki, wajah dan perut. Pada beberapa kasus juga disertai timbulnya ruam pada perut dan telapak tangan. (rmc/ulf/adn/by)

MALANG KOTA – Ini jenis penyakit lain yang juga disebabkan karena infeksi virus. Namanya hepatitis. Berbeda dengan Covid-19, jumlah kasusnya memang lebih sedikit. Namun, laporan kasus barunya hampir selalu ada tiap bulannya.

Pada peringatan hari hepatitis sedunia yang jatuh pada hari ini (28/7), Jawa Pos Radar Malang mencoba melihat trennya di Kota Malang. Dijelaskan dokter spesialis penyakit dalam RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang, dr Syifa Mustika SpPD K-GEH Finasim, per bulan pihaknya bisa menangani 200 sampai 300 pasien penyakit hepatitis.

”Itu yang rutin berobat dan mendapatkan obat,” kata dia. Dia juga menyebut bila tiap bulan selalu ada penambahan kasus baru. ”Ada sekitar 2 atau 3 kasus tambahan per bulannya. Baik hepatitis B ataupun hepatitis C,” bebernya. Dari pengamatan dia, kasus yang banyak terjadi peningkatan adalah hepatitis C, dengan gejala gagal ginjal. Untuk diketahui sebelumnya, hepatitis adalah penyakit yang menyerang bagian hati atau liver.

Selain disebabkan karena infeksi virus, penyakit itu juga bisa disebabkan faktor lain. Seperti efek samping obat-obatan, konsumsi alkohol dalam jangka panjang, penyakit autoimun, perlemakan hati dan keracunan. Pengkategorian A sampai E disesuaikan dengan jenis virusnya. Disebut dokter Syifa, penularan hepatitis A, C dan E biasanya terjadi dari makanan, air dan kontak fisik.

Sedangkan untuk jenis hepatitis B dan D, penularannya biasanya terjadi dari ibu ke bayi. Selain itu, juga bisa melalui darah, hubungan seksual, dan jarum suntik. Dokter yang juga menjadi Ketua Satgas Covid-19 NU itu menjelaskan bila jenis yang perlu diwaspadai itu adalah hepatitis B dan C. Meski begitu, jenis hepatitis A, D dan E juga tak kalah berbahayanya. ”Tapi hepatitis B dan C tidak bisa sembuh, bisanya cuma dikontrol,” tambahnya.

Di tempat lain, Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif turut membeberkan kendala-kendala pihaknya dalam mendeteksi penyakit hepatitis. Dikatakan dia, ketersedian laboratorium khusus di setiap puskesmas saat ini belum mumpuni. Sehingga pihaknya kesulitan untuk membantu proses pendeteksian penyakit tersebut. ”Iya, penyakit hepatitis baik A, B, C itu lebih banyak di laboratorium RS yang bisa mendiagnosis pasiennya,” terang Husnul.

Husnul menambahkan, puskesmas yang ada di Kota Malang hanya bisa melacak tanda-tanda klinis. Setelah diektahui ada tanda klinis dari pasien terduga hepatitis, maka pihak puskesmas bakal mengirimnya ke RS untuk memastikan lagi. Meski ada problem dalam pendeteksian, mantan Direktur RSUD Kota Malang itu memastikan bila penanganan hepatitis di Kota Malang masih terkendali. ”Saat ini penyakit yang masih menjadi kasus terbanyak didominasi ISPA. Untuk hepatitis tidak sampai lima besar,” tambah Husnul.

Dari pendalaman Jawa Pos Radar Malang, hepatitis A, B, C dan D punya beberapa gejala yang umum terjadi pada pasiennya. Seperti nyeri perut, muntah, mudah kelelahan, serta kulit dan mata berwarna kuning. Gejala lainnya seperti tidak merasa lapar, nyeri sendi dan urine yang berwarna lebih gelap.
Gejala lain juga bisa ditemui dari penyebab seseorang terinfeksi hepatitis. Untuk pasien hepatitis yang terlalu banyak mengkonsumsi alkohol, biasanya akan mengalami penurunan berat badan. Selain itu juga bisa mengalami pembengkakan pada bagian kaki, wajah dan perut. Pada beberapa kasus juga disertai timbulnya ruam pada perut dan telapak tangan. (rmc/ulf/adn/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/