alexametrics
27.1 C
Malang
Sunday, 29 May 2022

Musim Hujan Datang, Kota Batu Siaga Bencana

KOTA BATU – Menghadapi musim hujan Kota Batu diprediksi akan dilanda bencana. Kemarin (27/10) di lapangan Desa Sumberbrantas dilaksanakan apel siaga darurat bencana menghadapi musim hujan tahun 2021/2022. Upaya memperkuat koordinasi pada semua elemen masyarakat secara penta helix dikedepankan.

Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko mengatakan, prakiraan musim hujan oleh BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika) Provinsi Jawa Timur sudah dimulai pada Oktober ini. Untuk status keadaan siaga darurat bencana berlaku mulai 1 Oktober 2021 hingga 30 April 2022. Beberapa bencana yang mengancam seperti banjir, pohon tumbang, tanah longsor dan tanah ambles. Selain itu ancaman lainnya berdasarkan kondisi geografi dan topografi seperti gempa bumi, angin kencang, kebakaran hutan/lahan dan letusan gunung api.

“Sebagai bentuk peningkatan kesiapsiagaan serta kewaspadaan dalam rangka antisipasi penanggulangan bencana dengan mengerahkan segenap unsur penta helix se-Kota Batu,” katanya. Sehingga penanganan bencana bisa terselenggara secara partisipatif dengan melibatkan seluruh unsur seperti pemerintah, akademisi dan dunia usaha. Lalu, personel yang ikut serta dalam apel kemarin selain BPBD Kota Batu sebagai komando, juga ada Satpol PP, Dinas Perhubungan, Polres Batu, TNI, Bela Negara dan lainnya. Total ada 300 personel yang disiapkan. Hadir juga dalam kegiatan tersebut Kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur Drs Budi Santoso dan perwakilan Bakorwil 3 Malang Fendi Agung Nugroho AKS MAP.

Lebih lanjut, setiap tahunnya fenomena kejadian bencana di Kota Batu terjadi peningkatan. Berdasarkan data statistik kejadian bencana di Kota Batu pada 2020 sebanyak 114 kejadian bencana. Dari jumlah tersebut didominasi bencana hydro meteorologi sebesar 96 persen dan bencana geologi sebanyak 4 persen. Sedangkan data kejadian bencana pada tahun ini hingga September sebanyak 135 kejadian bencana. Di antaranya seperti bencana hydro meteorologi yaitu tanah longsor sebesar 62 persen, banjir sebanyak 9 persen, lalu angin kencang sejumlah 1 persen. Kemudian bencana geologi berupa gempa tektonik yakni 17 persen.

Lalu dalam penanggulangan bencana didorong adanya perubahan paradigma. Selama ini yang bersifat reaktif atau responsif beralih menjadi preventif. Yaitu dengan membuka ruang yang lebih luas terhadap kegiatan pengurangan risiko bencana. “Untuk indeks risiko bencana di Kota Batu juga telah mengalami penurunan dari hasil penilaian BNPB dari 514 kota/kabupaten se Indonesia pada tahun 2013 dan Kota Batu menempati urutan ke 360 dengan skor 134. Sedangkan di tahun 2020, Kota Batu menempati urutan 447 dengan skor 107,7,” ungkapnya.

Selain itu beberapa upaya mitigasi yang dilakukan seperti pemetaan daerah rawan bencana. Lalu melakukan pendataan penduduk yang tinggal di kawasan rawan bencana sekitar 30 persen dan sebagian besar di wilayah Kecamatan Bumiaji. Kemudian menyosialisasikan dan menyebarluaskan informasi bencana untuk peningkatan kapasitas masyarakat dan sering melakukan latihan simulasi guna meningkatkan kesiapsiagaan bencana.

Di sisi lain, Kepala BPBD Kota Batu Agung Sedayu mengatakan Kota Batu juga berpotensi terjadi banjir dengan tingkat sedang hingga rendah bergantung pada curah hujan. Menurutnya area cekungan rata-rata pada lereng yang rendah sehingga air yang menggenang dimungkinkan sulit surut. Kerawanan banjir tersebut menyebar di tiga Kecamatan di Kota Batu.

“Melihat potensi kajian ada 11 titik ruas jalan yang memiliki kerawanan banjir, seperti Jl. Ir Soekarno, Jl. Wukir, Jl. Trunojoyo, Jl. Patimura, Jl. Diponegoro dan lainnya,” kata dia.

Selain itu banjir juga mengancam di salah satu perumahan yang ada di Kelurahan Sisir dan Desa Oro-Oro Ombo. Lalu untuk potensi banjir tingkat rendah dengan ketinggian 30 centimeter hingga 50 centimeter. Untuk tingkat sedang dari 0,5 meter hingga 1 meter dan tingkat tinggi mencapai 1,5 meter. Namun, kata dia bandang bisa terjadi di mana saja bila terjadi sumbatan aliran air. “Seperti batang kayu, sampah dan lainnya yang hanyut sehingga meluap ke rumah warga bersama material lumpur. Tapi bila sumbatan dihilangkan maka aliran air kembali lancar,” jelas dia.

Lalu, upaya pencegahan yang dilakukan melalui lintas OPD (Organisasi Perangkat Daerah). Dia mengatakan seperti Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu seringkali bersama program Shining Brantas memiliki kegiatan rutin membersihkan sungai. Tidak dipungkiri pembangunan yang pesat di Kota Batu juga berdampak dengan timbulnya potensi kerawanan banjir. Meski begitu Pemkot Batu juga telah meningkatkan infrastruktur pendukung yang ada seperti drainase.

Kepala Dinas PUPR Kota Batu Alfi Nurhidayat mengatakan pada tahun ini pihaknya melakukan pembangunan saluran drainase di beberapa ruas jalan dengan konstruksi box culvert. Di antaranya seperti ruas jalan di kawasan Songgoriti, Batu – Giripurno, Pandanrejo, Jl. Wukir, Jl. Agus Salim, Desa Gunungsari dan lainnya. Setiap titik ruas pengerjaan dengan panjang sekitar 0,5 kilometer hingga 1 kilometer. “Sistem drainase yang baik membantu mencegah banyak persoalan, seperti mengurangi kemungkinan banjir, mengendalikan permukaan air tanah, erosi tanah dan mencegah kerusakan jalan dan bangunan yang ada,” ujarnya. (nug/lid/rmc).

KOTA BATU – Menghadapi musim hujan Kota Batu diprediksi akan dilanda bencana. Kemarin (27/10) di lapangan Desa Sumberbrantas dilaksanakan apel siaga darurat bencana menghadapi musim hujan tahun 2021/2022. Upaya memperkuat koordinasi pada semua elemen masyarakat secara penta helix dikedepankan.

Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko mengatakan, prakiraan musim hujan oleh BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika) Provinsi Jawa Timur sudah dimulai pada Oktober ini. Untuk status keadaan siaga darurat bencana berlaku mulai 1 Oktober 2021 hingga 30 April 2022. Beberapa bencana yang mengancam seperti banjir, pohon tumbang, tanah longsor dan tanah ambles. Selain itu ancaman lainnya berdasarkan kondisi geografi dan topografi seperti gempa bumi, angin kencang, kebakaran hutan/lahan dan letusan gunung api.

“Sebagai bentuk peningkatan kesiapsiagaan serta kewaspadaan dalam rangka antisipasi penanggulangan bencana dengan mengerahkan segenap unsur penta helix se-Kota Batu,” katanya. Sehingga penanganan bencana bisa terselenggara secara partisipatif dengan melibatkan seluruh unsur seperti pemerintah, akademisi dan dunia usaha. Lalu, personel yang ikut serta dalam apel kemarin selain BPBD Kota Batu sebagai komando, juga ada Satpol PP, Dinas Perhubungan, Polres Batu, TNI, Bela Negara dan lainnya. Total ada 300 personel yang disiapkan. Hadir juga dalam kegiatan tersebut Kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur Drs Budi Santoso dan perwakilan Bakorwil 3 Malang Fendi Agung Nugroho AKS MAP.

Lebih lanjut, setiap tahunnya fenomena kejadian bencana di Kota Batu terjadi peningkatan. Berdasarkan data statistik kejadian bencana di Kota Batu pada 2020 sebanyak 114 kejadian bencana. Dari jumlah tersebut didominasi bencana hydro meteorologi sebesar 96 persen dan bencana geologi sebanyak 4 persen. Sedangkan data kejadian bencana pada tahun ini hingga September sebanyak 135 kejadian bencana. Di antaranya seperti bencana hydro meteorologi yaitu tanah longsor sebesar 62 persen, banjir sebanyak 9 persen, lalu angin kencang sejumlah 1 persen. Kemudian bencana geologi berupa gempa tektonik yakni 17 persen.

Lalu dalam penanggulangan bencana didorong adanya perubahan paradigma. Selama ini yang bersifat reaktif atau responsif beralih menjadi preventif. Yaitu dengan membuka ruang yang lebih luas terhadap kegiatan pengurangan risiko bencana. “Untuk indeks risiko bencana di Kota Batu juga telah mengalami penurunan dari hasil penilaian BNPB dari 514 kota/kabupaten se Indonesia pada tahun 2013 dan Kota Batu menempati urutan ke 360 dengan skor 134. Sedangkan di tahun 2020, Kota Batu menempati urutan 447 dengan skor 107,7,” ungkapnya.

Selain itu beberapa upaya mitigasi yang dilakukan seperti pemetaan daerah rawan bencana. Lalu melakukan pendataan penduduk yang tinggal di kawasan rawan bencana sekitar 30 persen dan sebagian besar di wilayah Kecamatan Bumiaji. Kemudian menyosialisasikan dan menyebarluaskan informasi bencana untuk peningkatan kapasitas masyarakat dan sering melakukan latihan simulasi guna meningkatkan kesiapsiagaan bencana.

Di sisi lain, Kepala BPBD Kota Batu Agung Sedayu mengatakan Kota Batu juga berpotensi terjadi banjir dengan tingkat sedang hingga rendah bergantung pada curah hujan. Menurutnya area cekungan rata-rata pada lereng yang rendah sehingga air yang menggenang dimungkinkan sulit surut. Kerawanan banjir tersebut menyebar di tiga Kecamatan di Kota Batu.

“Melihat potensi kajian ada 11 titik ruas jalan yang memiliki kerawanan banjir, seperti Jl. Ir Soekarno, Jl. Wukir, Jl. Trunojoyo, Jl. Patimura, Jl. Diponegoro dan lainnya,” kata dia.

Selain itu banjir juga mengancam di salah satu perumahan yang ada di Kelurahan Sisir dan Desa Oro-Oro Ombo. Lalu untuk potensi banjir tingkat rendah dengan ketinggian 30 centimeter hingga 50 centimeter. Untuk tingkat sedang dari 0,5 meter hingga 1 meter dan tingkat tinggi mencapai 1,5 meter. Namun, kata dia bandang bisa terjadi di mana saja bila terjadi sumbatan aliran air. “Seperti batang kayu, sampah dan lainnya yang hanyut sehingga meluap ke rumah warga bersama material lumpur. Tapi bila sumbatan dihilangkan maka aliran air kembali lancar,” jelas dia.

Lalu, upaya pencegahan yang dilakukan melalui lintas OPD (Organisasi Perangkat Daerah). Dia mengatakan seperti Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu seringkali bersama program Shining Brantas memiliki kegiatan rutin membersihkan sungai. Tidak dipungkiri pembangunan yang pesat di Kota Batu juga berdampak dengan timbulnya potensi kerawanan banjir. Meski begitu Pemkot Batu juga telah meningkatkan infrastruktur pendukung yang ada seperti drainase.

Kepala Dinas PUPR Kota Batu Alfi Nurhidayat mengatakan pada tahun ini pihaknya melakukan pembangunan saluran drainase di beberapa ruas jalan dengan konstruksi box culvert. Di antaranya seperti ruas jalan di kawasan Songgoriti, Batu – Giripurno, Pandanrejo, Jl. Wukir, Jl. Agus Salim, Desa Gunungsari dan lainnya. Setiap titik ruas pengerjaan dengan panjang sekitar 0,5 kilometer hingga 1 kilometer. “Sistem drainase yang baik membantu mencegah banyak persoalan, seperti mengurangi kemungkinan banjir, mengendalikan permukaan air tanah, erosi tanah dan mencegah kerusakan jalan dan bangunan yang ada,” ujarnya. (nug/lid/rmc).

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/