alexametrics
26.5 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Polres Batu Tahan Calon Ayah Penganiaya Bocah 2,5 Tahun

KOTA BATU – Sungguh tega apa yang dilakukan oleh pelaku penganiayaan bernama Wahyu Kristanto, 26, terhadap calon anak tiri berusia 2,5 tahun. Sundutan rokok, siraman air panas hingga gigitan pernah dilakukan kepada bocah perempuan yang masih polos itu. Kemarin (27/10) Polres Batu menggelar konferensi pers untuk mengungkap kasus tersebut.

Kapolres Batu AKBP I Nyoman Yogi Hermawan SIK MSi mengatakan pihaknya menerima laporan penganiayaan atau kekerasan terhadap anak pada Sabtu (23/10) lalu dari paman korban. Lalu dari Unit PPA Satreskrim Polres Batu menindaklanjuti laporan tersebut dan dapat mengamankan korban di rumahnya yang berada di Desa Beji, Kecamatan Junrejo pada Senin (25/10) dini hari. “Setelah kami selidiki, pelaku kami tahan untuk proses hukum lebih lanjut,” katanya.

Yogi menjelaskan kronologi kejadian antara pelaku terhadap korban. Sebelumnya ibu korban berinisial C, 19, merupakan pacar pelaku. Mereka berdua bersama korban telah tinggal di rumah pelaku sejak Agustus lalu. Selama rentan waktu tersebut, terjadi bentuk kekerasan penganiayaan yang dilakukan oleh tersangka Wahyu berkali-kali. “Tersangka melakukan penganiayaan merasa kesal terhadap korban karena sering rewel,” katanya.

Berdasarkan hasil visum, korban mengalami beberapa luka di sekujur tubuhnya. Seperti luka bakar akibat siraman air panas, lalu bekas sundutan rokok dan bekas gigitan di jari-jari pada kedua tangan korban. Saat ini posisi korban masih dirawat di RS Bhayangkara Hasta Brata. “Kami juga dibantu dari rekan-rekan psikolog dan tim P2TP2A (DP3AP2KB) untuk memberikan trauma healing kepada korban,” katanya.

Lalu barang bukti yang diamankan polisi seperti bak plastik berwarna biru sebagai tempat mandi korban. Lalu gayung berwarna hijau untuk menyiramkan air panas kepada korban karena dianggap rewel saat dimandikan. Kemudian juga ada panci kecil yang digunakan merebus air untuk mandi korban. “Tersangka juga beberapa kali menyundut ke tubuh korban karena dianggap rewel. Tersangka merasa sudah kesal dan akhirnya melakukan perbuatannya itu,” jelas Yogi.

Tersangka yang sehari-hari bekerja sebagai kuli itu melakukan kekerasan saat tidak bersama ibu korban atau hanya berdua dengan korban. Lalu dari hasil pemeriksaan, penyebab pelaku melakukan penganiayaan karena didasari oleh motif ekonomi. Korban dianggap sebagai beban karena bukan anak kandungnya. “Ditambah permasalahan dengan ibu korban, walaupun belum secara resmi menikah tetapi tinggal di satu rumah,” ujarnya.

Yogi mengatakan untuk ibu korban sendiri tidak melaporkan karena merasa tertekan kondisi psikisnya dan khawatir tidak dinikahi. Sejauh ini untuk ibu korban dari hasil pemeriksaan tidak ikut melakukan tindakan kekerasan terhadap korban. Lalu untuk kondisi kejiwaan tersangka, masih normal tetapi akan ditindaklanjuti dengan penanganan oleh psikiater.

“Untuk pengaruh alkohol atau narkoba tidak ada saat penganiayaan, jadi dalam kondisi sadar dilakukan. Proses ini masih terus berjalan dengan meminta keterangan saksi lainnya,” ujarnya.

Pelaku dijerat dengan pasal 80 ayat 2 Juncto 76c UU Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 Tahun 2002, yang telah diubah UU Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman pidana penjara maksimal lima tahun. (nug/lid/rmc).

KOTA BATU – Sungguh tega apa yang dilakukan oleh pelaku penganiayaan bernama Wahyu Kristanto, 26, terhadap calon anak tiri berusia 2,5 tahun. Sundutan rokok, siraman air panas hingga gigitan pernah dilakukan kepada bocah perempuan yang masih polos itu. Kemarin (27/10) Polres Batu menggelar konferensi pers untuk mengungkap kasus tersebut.

Kapolres Batu AKBP I Nyoman Yogi Hermawan SIK MSi mengatakan pihaknya menerima laporan penganiayaan atau kekerasan terhadap anak pada Sabtu (23/10) lalu dari paman korban. Lalu dari Unit PPA Satreskrim Polres Batu menindaklanjuti laporan tersebut dan dapat mengamankan korban di rumahnya yang berada di Desa Beji, Kecamatan Junrejo pada Senin (25/10) dini hari. “Setelah kami selidiki, pelaku kami tahan untuk proses hukum lebih lanjut,” katanya.

Yogi menjelaskan kronologi kejadian antara pelaku terhadap korban. Sebelumnya ibu korban berinisial C, 19, merupakan pacar pelaku. Mereka berdua bersama korban telah tinggal di rumah pelaku sejak Agustus lalu. Selama rentan waktu tersebut, terjadi bentuk kekerasan penganiayaan yang dilakukan oleh tersangka Wahyu berkali-kali. “Tersangka melakukan penganiayaan merasa kesal terhadap korban karena sering rewel,” katanya.

Berdasarkan hasil visum, korban mengalami beberapa luka di sekujur tubuhnya. Seperti luka bakar akibat siraman air panas, lalu bekas sundutan rokok dan bekas gigitan di jari-jari pada kedua tangan korban. Saat ini posisi korban masih dirawat di RS Bhayangkara Hasta Brata. “Kami juga dibantu dari rekan-rekan psikolog dan tim P2TP2A (DP3AP2KB) untuk memberikan trauma healing kepada korban,” katanya.

Lalu barang bukti yang diamankan polisi seperti bak plastik berwarna biru sebagai tempat mandi korban. Lalu gayung berwarna hijau untuk menyiramkan air panas kepada korban karena dianggap rewel saat dimandikan. Kemudian juga ada panci kecil yang digunakan merebus air untuk mandi korban. “Tersangka juga beberapa kali menyundut ke tubuh korban karena dianggap rewel. Tersangka merasa sudah kesal dan akhirnya melakukan perbuatannya itu,” jelas Yogi.

Tersangka yang sehari-hari bekerja sebagai kuli itu melakukan kekerasan saat tidak bersama ibu korban atau hanya berdua dengan korban. Lalu dari hasil pemeriksaan, penyebab pelaku melakukan penganiayaan karena didasari oleh motif ekonomi. Korban dianggap sebagai beban karena bukan anak kandungnya. “Ditambah permasalahan dengan ibu korban, walaupun belum secara resmi menikah tetapi tinggal di satu rumah,” ujarnya.

Yogi mengatakan untuk ibu korban sendiri tidak melaporkan karena merasa tertekan kondisi psikisnya dan khawatir tidak dinikahi. Sejauh ini untuk ibu korban dari hasil pemeriksaan tidak ikut melakukan tindakan kekerasan terhadap korban. Lalu untuk kondisi kejiwaan tersangka, masih normal tetapi akan ditindaklanjuti dengan penanganan oleh psikiater.

“Untuk pengaruh alkohol atau narkoba tidak ada saat penganiayaan, jadi dalam kondisi sadar dilakukan. Proses ini masih terus berjalan dengan meminta keterangan saksi lainnya,” ujarnya.

Pelaku dijerat dengan pasal 80 ayat 2 Juncto 76c UU Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 Tahun 2002, yang telah diubah UU Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman pidana penjara maksimal lima tahun. (nug/lid/rmc).

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/