alexametrics
21.4 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Kisah Para Mualaf Menjalani Kehidupan Barunya (17)

Demi Islam, Rela Tinggalkan Gaji Rp 55 Juta Per Bulan

Tekad Giovani Dimas Antares masuk Islam sejak 2011 sudah begitu kuat. Dia ingin menghapus masa lalunya yang sering maksiat. Bahkan, dia rela meninggalkan gaji Rp 55 juta per bulan di Amerika Serikat demi masuk Islam. Namun, dia kini tenang. Banyak kemudahan dia dapatkan. Berikut penuturannya kepada wartawan Jawa Pos Radar Malang, Galih R. Prasetyo.

———————

Tangis Giovani Dimas Antares pecah. Suaranya terisak, matanya terlihat sembap. Beberapa kali jemarinya bergerak dengan cepat untuk menahan air mata yang ingin sekali turun membasahi pipinya. Suasana mellow yang dirasakannya itu muncul setelah dia mengisahkan tentang keajaiban-keajaiban yang dirasakannya setelah mengimani Allah SWT sebagai Tuhan.

Salah satu pengalaman terkait rida Allah SWT yang tidak terlupakan untuknya adalah terkait Alquran. ”Ketika itu saya ingin sekali membeli Alquran, tapi karena uang tidak cukup, keinginan itu terpaksa ter-pending. Namun, Allah SWT ternyata punya jalan lebih indah setelah momen itu,” kenangnya sembari terisak.

Dimas seperti dituntun oleh Allah untuk bisa membeli Alquran di di tanah suci Makkah saat dia umrah. Dia bisa umrah tahun 2014 itu juga dianggapnya keajaiban. Sebab, di saat dia tidak punya uang, ada orang yang menawarinya umrah bersama istri. Orang itu adalah orang tua angkatnya dari Kuwait. Sehingga pria berusia 41 tahun itu umrah tanpa mengeluarkan uang sepersen pun. ”Ketika itu saya banyak berdoa untuk diizinkan menjadi tamunya (Allah SWT) di tanah suci,” jelasnya.

Sebelum umrah, Dimas sempat melamar kerja di Kanada. Namun dia gagal. Kalau lolos, dia bisa dapat gaji Rp 30 juta per bulan. ”Saat itu saya merasa dinolkan, tapi setelah itu diberikan banyak hal. Persis layaknya gelas kosong lalu dimasukkan air,” papar humas Mualaf Center Malang itu.

Dimas juga menceritakan banyak hal negatif yang dia lakukan. Tepatnya pada 2005, alumnus Universitas Merdeka (Unmer) Malang itu tinggal di Chicago, Amerika Serikat. Dimas yang saat itu bekerja di perhotelan sebagai asisten manajer restoran mengaku sering melakukan maksiat, seperti minum minuman keras.

Dengan gaji setiap bulannya sekitar Rp 55 juta, menurut dia melakukan hal tersebut bukanlah sebuah hal yang sulit. Alhasil, aktivitas itu bisa dilakukan kapan pun dan sesuka hatinya. ”Karena saat itu ajarannya (di agama sebelumnya) pasti masuk surga. Saya bebas untuk bersenang-senang di sana. Melakukan segala hal yang bisa membuat bahagia,” jelasnya. Apalagi secara karir dan finansial bisa dibilang dalam puncak yang paripurna.

Seiring berjalannya waktu, hidup dalam bingkai dunia hitam rupanya tidaklah berjalan lama. Allah SWT lewat hidayahnya perlahan-lahan mengetuk pintu hatinya. Dimas dibuat dalam kondisi sangat tercukupi, namun hatinya tidak tenang. Dia merasa tidak bahagia. Kehidupan menjadi monoton. Dia pun mengalami kebosanan. ”Yang tersirat dalam pikiran saya ketika itu adalah kenapa saya ini beriman, tapi melakukan maksiat,” tuturnya.

Setelah itu, hati dan pikiran Dimas menjadi gamang. Dia mulai mempertanyakan banyak hal dengan kepercayaan yang dianutnya. Salah satu yang cukup keras dipikirkannya adalah terkait konsep surga. Dia mulai tidak yakin kalau segala hal negatif yang dilakukannya bakal tetap membuatnya masuk surga.

Di tengah pencarian mencari jawaban, menurut dia, Allah SWT membuatnya flashback ke banyak hal sebelum dia datang ke Amerika Serikat. ”Pada posisi itu saya dibuat mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi sebelumnya,” kenang suami Amalia Evi Kusuma itu.

Dia menuturkan, saat itu dia menjadi mengenang masa-masa sekolah. Dia sempat diajari tentang Islam, mulai dari saat duduk bangku SD dia sempat menghafal surat Al-Fatihah. Padahal waktu itu dia belum muslim. Lalu, ketika SMP dia ikut teman-temannya yang muslim untuk berpuasa. Setelah mendapat pengingat itu, Dimas akhirnya mulai sedikit belajar tentang Islam.

Salah satu yang membuat keyakinannya semakin besar dengan agama Islam adalah ketika mengerti konsep dosa. Bagi Owner dari Albaris Seafood itu, Islam mempunyai aturan yang sangat jelas. Selain itu, banyak hal di dalam Islam diakui logis. Maksudnya, tidak mengada-mengada. Misalnya adalah ketika seseorang minum-minuman keras, maka salatnya tidak akan diterima. ”Menemukan banyak hal positif di Islam membuat saya mulai tertarik. Lalu berjalannya waktu semakin yakin,” paparnya.

Puncaknya adalah ketika dia berani meninggalkan segala kehidupan paripurna yang didapatkan di Amerika Serikat. Dimas pulang dengan keyakinan kuat tentang Islam. Menurut dia, apa yang terjadi dalam hidupnya sejak duduk SD merupakan kehendak Allah. ”Akhirnya pada 2011 saya sangat yakin masuk Islam,” paparnya.

Meski harus meninggalkan gaji besar, dia mengaku tidak masalah. Dia yakin kalau segala sesuatu telah diatur Allah SWT. Selain itu, dia mengaku merasa tenteram dan bahagia setelah menjadi mualaf meskipun ketika itu ada pertentangan dari sang ayah.

Namun, seiring berjalannya waktu, nikmat yang diberikan kepadanya sangatlah besar. Selain umrah pada 2014, dia punya kesempatan menjadi perantara untuk membangun masjid. Dia bisa kembali berkunjung ke tanah suci sampai dengan diperlancar segala persoalan dan usahanya.
Nah, untuk menjaga imannya, dia mengaku kalau selalu membaca Alquran sebanyak 123 ayat dan berzikir 1.001 kali. ”Dengan melakukan hal itu saya mendapatkan kekhusyukan, selain itu ketenangan batin,” jelasnya. (rmc/c1/abm)

Tekad Giovani Dimas Antares masuk Islam sejak 2011 sudah begitu kuat. Dia ingin menghapus masa lalunya yang sering maksiat. Bahkan, dia rela meninggalkan gaji Rp 55 juta per bulan di Amerika Serikat demi masuk Islam. Namun, dia kini tenang. Banyak kemudahan dia dapatkan. Berikut penuturannya kepada wartawan Jawa Pos Radar Malang, Galih R. Prasetyo.

———————

Tangis Giovani Dimas Antares pecah. Suaranya terisak, matanya terlihat sembap. Beberapa kali jemarinya bergerak dengan cepat untuk menahan air mata yang ingin sekali turun membasahi pipinya. Suasana mellow yang dirasakannya itu muncul setelah dia mengisahkan tentang keajaiban-keajaiban yang dirasakannya setelah mengimani Allah SWT sebagai Tuhan.

Salah satu pengalaman terkait rida Allah SWT yang tidak terlupakan untuknya adalah terkait Alquran. ”Ketika itu saya ingin sekali membeli Alquran, tapi karena uang tidak cukup, keinginan itu terpaksa ter-pending. Namun, Allah SWT ternyata punya jalan lebih indah setelah momen itu,” kenangnya sembari terisak.

Dimas seperti dituntun oleh Allah untuk bisa membeli Alquran di di tanah suci Makkah saat dia umrah. Dia bisa umrah tahun 2014 itu juga dianggapnya keajaiban. Sebab, di saat dia tidak punya uang, ada orang yang menawarinya umrah bersama istri. Orang itu adalah orang tua angkatnya dari Kuwait. Sehingga pria berusia 41 tahun itu umrah tanpa mengeluarkan uang sepersen pun. ”Ketika itu saya banyak berdoa untuk diizinkan menjadi tamunya (Allah SWT) di tanah suci,” jelasnya.

Sebelum umrah, Dimas sempat melamar kerja di Kanada. Namun dia gagal. Kalau lolos, dia bisa dapat gaji Rp 30 juta per bulan. ”Saat itu saya merasa dinolkan, tapi setelah itu diberikan banyak hal. Persis layaknya gelas kosong lalu dimasukkan air,” papar humas Mualaf Center Malang itu.

Dimas juga menceritakan banyak hal negatif yang dia lakukan. Tepatnya pada 2005, alumnus Universitas Merdeka (Unmer) Malang itu tinggal di Chicago, Amerika Serikat. Dimas yang saat itu bekerja di perhotelan sebagai asisten manajer restoran mengaku sering melakukan maksiat, seperti minum minuman keras.

Dengan gaji setiap bulannya sekitar Rp 55 juta, menurut dia melakukan hal tersebut bukanlah sebuah hal yang sulit. Alhasil, aktivitas itu bisa dilakukan kapan pun dan sesuka hatinya. ”Karena saat itu ajarannya (di agama sebelumnya) pasti masuk surga. Saya bebas untuk bersenang-senang di sana. Melakukan segala hal yang bisa membuat bahagia,” jelasnya. Apalagi secara karir dan finansial bisa dibilang dalam puncak yang paripurna.

Seiring berjalannya waktu, hidup dalam bingkai dunia hitam rupanya tidaklah berjalan lama. Allah SWT lewat hidayahnya perlahan-lahan mengetuk pintu hatinya. Dimas dibuat dalam kondisi sangat tercukupi, namun hatinya tidak tenang. Dia merasa tidak bahagia. Kehidupan menjadi monoton. Dia pun mengalami kebosanan. ”Yang tersirat dalam pikiran saya ketika itu adalah kenapa saya ini beriman, tapi melakukan maksiat,” tuturnya.

Setelah itu, hati dan pikiran Dimas menjadi gamang. Dia mulai mempertanyakan banyak hal dengan kepercayaan yang dianutnya. Salah satu yang cukup keras dipikirkannya adalah terkait konsep surga. Dia mulai tidak yakin kalau segala hal negatif yang dilakukannya bakal tetap membuatnya masuk surga.

Di tengah pencarian mencari jawaban, menurut dia, Allah SWT membuatnya flashback ke banyak hal sebelum dia datang ke Amerika Serikat. ”Pada posisi itu saya dibuat mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi sebelumnya,” kenang suami Amalia Evi Kusuma itu.

Dia menuturkan, saat itu dia menjadi mengenang masa-masa sekolah. Dia sempat diajari tentang Islam, mulai dari saat duduk bangku SD dia sempat menghafal surat Al-Fatihah. Padahal waktu itu dia belum muslim. Lalu, ketika SMP dia ikut teman-temannya yang muslim untuk berpuasa. Setelah mendapat pengingat itu, Dimas akhirnya mulai sedikit belajar tentang Islam.

Salah satu yang membuat keyakinannya semakin besar dengan agama Islam adalah ketika mengerti konsep dosa. Bagi Owner dari Albaris Seafood itu, Islam mempunyai aturan yang sangat jelas. Selain itu, banyak hal di dalam Islam diakui logis. Maksudnya, tidak mengada-mengada. Misalnya adalah ketika seseorang minum-minuman keras, maka salatnya tidak akan diterima. ”Menemukan banyak hal positif di Islam membuat saya mulai tertarik. Lalu berjalannya waktu semakin yakin,” paparnya.

Puncaknya adalah ketika dia berani meninggalkan segala kehidupan paripurna yang didapatkan di Amerika Serikat. Dimas pulang dengan keyakinan kuat tentang Islam. Menurut dia, apa yang terjadi dalam hidupnya sejak duduk SD merupakan kehendak Allah. ”Akhirnya pada 2011 saya sangat yakin masuk Islam,” paparnya.

Meski harus meninggalkan gaji besar, dia mengaku tidak masalah. Dia yakin kalau segala sesuatu telah diatur Allah SWT. Selain itu, dia mengaku merasa tenteram dan bahagia setelah menjadi mualaf meskipun ketika itu ada pertentangan dari sang ayah.

Namun, seiring berjalannya waktu, nikmat yang diberikan kepadanya sangatlah besar. Selain umrah pada 2014, dia punya kesempatan menjadi perantara untuk membangun masjid. Dia bisa kembali berkunjung ke tanah suci sampai dengan diperlancar segala persoalan dan usahanya.
Nah, untuk menjaga imannya, dia mengaku kalau selalu membaca Alquran sebanyak 123 ayat dan berzikir 1.001 kali. ”Dengan melakukan hal itu saya mendapatkan kekhusyukan, selain itu ketenangan batin,” jelasnya. (rmc/c1/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/