alexametrics
21.9 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

550 Anak di Malang Raya Terpapar Korona

MALANG KOTA – Inilah salah satu alasan mengapa vaksinasi dan edukasi protokol kesehatan (prokes) penting dilakukan pada anak-anak. Bila kekebalan tubuh mereka meningkat dan lebih disiplin terhadap prokes, maka angka penyebaran Covid-19 bisa diminimalisasi. Jumlah anak yang terpapar virus itu juga bisa ditekan. Poin itu menjadi penting diperhatikan karena sejak tahun 2020 lalu ada ratusan anak di Malang Raya yang sudah terpapar Covid-19.

Dari data yang didapat koran ini, mulai 2020 hingga Juni ini, sedikitnya 550 anak di Malang Raya yang telah terpapar korona. Jumlah itu sangat mungkin terus bertambah pada akhir-akhir ini. Lebih rinci, Pemkot Malang sudah mencatat ada 253 anak di Kota Malang yang telah terpapar virus korona. Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Malang dr Husnul Muarif mencatat, jumlah tersebut berasal dari usia nol hingga 10 tahun. ”Anak-anak usia nol hingga lima tahun ada 136 kasus, sementara usia 6 hingga 10 tahun sebanyak 117 anak,” kata dia.

Bulan Maret lalu menjadi momen peningkatan terbanyak anak-anak yang terpapar korona. Sebab, saat itu mencuat kabar soal klaster Covid-19 di Yayasan Bhakti Luhur. Saat itu 68 penghuni yayasan tersebut yang mayoritas merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK) harus dirawat ke Rumah Sakit Lapangan Idjen Boulevard. ”Penambahan berikutnya yang paling banyak berasal dari klaster keluarga,” imbuh Husnul.

Di Kota Batu, kasus kumulatif Covid-19 untuk mereka yang masuk kategori usia 0 sampai 17 tahun berjumlah 197 orang. Data itu tercatat di Dinkes Kota Batu sejak 2020 hingga 27 Juni lalu. Dari jumlah itu ada 131 anak yang sudah sembuh. Sementara kasus aktifnya sampai saat ini ada 7 anak. Untuk laporan meninggal belum ada.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Batu Ony Ardianto mengatakan bila kondisi Covid-19 di Kota Batu saat ini sudah masuk pada zona orange dengan risiko sedang.

Soal potensi anak yang terpapar Covid-19, dia berpesan agar para orang tua selalu memberi perlindungan dan pengawasan. ”Pesan dari dinkes selalu untuk menjaga prokes dan itu perlu disosialisasikan kepada anak-anak untuk melindungi dirinya sendiri,” kata dia. Disinggung soal rencana pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah pada bulan Juli mendatang, pihaknya mengaku masih menunggu arahan dari Pemprov Jatim dan pemerintah pusat.

Di tempat lain, Kepala Dinkes Kabupaten Malang drg Arbani Mukti Wibowo mengakui bila kasus positif Covid-19 pada anak memang cukup tinggi. Sayangnya, dia mengaku tak hafal dengan jumlah pastinya. Meski begitu, dia memprediksi bila dalam setahun sudah ada 100-an anak yang terpapar Covid-19. Jika dirinci lagi, selama 3 bulan terakhir, dia menyebut ada puluhan anak yang telah terpapar virus korona. ”Ada sekitar 20 anak,” kata dia.

Dari pengamatannya, penyebab mayoritas anak terpapar adalah munculnya klaster keluarga. ”Akhirnya mereka (anak) juga terpapar, dan akhirnya positif,” imbuh Arbani. Sama seperti di Kota Batu, dia menyebut bila angka kematian pada anak yang terpapar korona sangat minim. Bahkan, dia mengaku belum mendapatkan laporannya.

Beranjak dari tren peningkatan kasus yang terjadi akhir-akhir ini, dia mengimbau agar masyarakat tetap disiplin terhadap prokes. Sebab, dampak buruk dari penyebaran virus itu tidak hanya dirasakan oleh masing-masing orang, tetapi juga orang-orang terdekatnya. ”Termasuk orang tua atau anaknya sehingga hal ini harus diwaspadai,” pungkasnya. (rmc/adn/nug/fik/c1/by)

MALANG KOTA – Inilah salah satu alasan mengapa vaksinasi dan edukasi protokol kesehatan (prokes) penting dilakukan pada anak-anak. Bila kekebalan tubuh mereka meningkat dan lebih disiplin terhadap prokes, maka angka penyebaran Covid-19 bisa diminimalisasi. Jumlah anak yang terpapar virus itu juga bisa ditekan. Poin itu menjadi penting diperhatikan karena sejak tahun 2020 lalu ada ratusan anak di Malang Raya yang sudah terpapar Covid-19.

Dari data yang didapat koran ini, mulai 2020 hingga Juni ini, sedikitnya 550 anak di Malang Raya yang telah terpapar korona. Jumlah itu sangat mungkin terus bertambah pada akhir-akhir ini. Lebih rinci, Pemkot Malang sudah mencatat ada 253 anak di Kota Malang yang telah terpapar virus korona. Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Malang dr Husnul Muarif mencatat, jumlah tersebut berasal dari usia nol hingga 10 tahun. ”Anak-anak usia nol hingga lima tahun ada 136 kasus, sementara usia 6 hingga 10 tahun sebanyak 117 anak,” kata dia.

Bulan Maret lalu menjadi momen peningkatan terbanyak anak-anak yang terpapar korona. Sebab, saat itu mencuat kabar soal klaster Covid-19 di Yayasan Bhakti Luhur. Saat itu 68 penghuni yayasan tersebut yang mayoritas merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK) harus dirawat ke Rumah Sakit Lapangan Idjen Boulevard. ”Penambahan berikutnya yang paling banyak berasal dari klaster keluarga,” imbuh Husnul.

Di Kota Batu, kasus kumulatif Covid-19 untuk mereka yang masuk kategori usia 0 sampai 17 tahun berjumlah 197 orang. Data itu tercatat di Dinkes Kota Batu sejak 2020 hingga 27 Juni lalu. Dari jumlah itu ada 131 anak yang sudah sembuh. Sementara kasus aktifnya sampai saat ini ada 7 anak. Untuk laporan meninggal belum ada.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Batu Ony Ardianto mengatakan bila kondisi Covid-19 di Kota Batu saat ini sudah masuk pada zona orange dengan risiko sedang.

Soal potensi anak yang terpapar Covid-19, dia berpesan agar para orang tua selalu memberi perlindungan dan pengawasan. ”Pesan dari dinkes selalu untuk menjaga prokes dan itu perlu disosialisasikan kepada anak-anak untuk melindungi dirinya sendiri,” kata dia. Disinggung soal rencana pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah pada bulan Juli mendatang, pihaknya mengaku masih menunggu arahan dari Pemprov Jatim dan pemerintah pusat.

Di tempat lain, Kepala Dinkes Kabupaten Malang drg Arbani Mukti Wibowo mengakui bila kasus positif Covid-19 pada anak memang cukup tinggi. Sayangnya, dia mengaku tak hafal dengan jumlah pastinya. Meski begitu, dia memprediksi bila dalam setahun sudah ada 100-an anak yang terpapar Covid-19. Jika dirinci lagi, selama 3 bulan terakhir, dia menyebut ada puluhan anak yang telah terpapar virus korona. ”Ada sekitar 20 anak,” kata dia.

Dari pengamatannya, penyebab mayoritas anak terpapar adalah munculnya klaster keluarga. ”Akhirnya mereka (anak) juga terpapar, dan akhirnya positif,” imbuh Arbani. Sama seperti di Kota Batu, dia menyebut bila angka kematian pada anak yang terpapar korona sangat minim. Bahkan, dia mengaku belum mendapatkan laporannya.

Beranjak dari tren peningkatan kasus yang terjadi akhir-akhir ini, dia mengimbau agar masyarakat tetap disiplin terhadap prokes. Sebab, dampak buruk dari penyebaran virus itu tidak hanya dirasakan oleh masing-masing orang, tetapi juga orang-orang terdekatnya. ”Termasuk orang tua atau anaknya sehingga hal ini harus diwaspadai,” pungkasnya. (rmc/adn/nug/fik/c1/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/