alexametrics
28.1 C
Malang
Thursday, 7 July 2022

Gegara Rebutan Gono-Gini, Rumah Senilai Rp 25,5 M “Raib” Mendadak

MALANG KOTA- Betapa kagetnya drg Gladys Adipranoto dan drg Gina Gratiana pada Sabtu (4/12/21) lalu. Itu karena pemilik sah tiga rumah di Jl Pahlawan Trip, Kelurahan Oro-oro Dowo, Kecamatan Klojen tersebut mengetahui ada pengumuman lelang tiga rumah di sebuah surat kabar. Dan bak disambar  petir, ternyata rumah yang dilelang itu adalah miliknya yang sah.

Padahal, Gladys merasa tidak pernah memberi izin kepada siapa saja untuk transaksi urusan rumah. Apalagi sampai urusan lelang.  Tiga rumah milik kakak beradik tersebut di Jl Pahlawan Trip nomor B/6, B/7, dan B/27. Kesemuanya bersertifikat atas nama dua dokter gigi itu. Kabar pelelangan itu sendiri diketahui oleh keduanya pada Sabtu (4/12) lalu melalui pengumuman lelang dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Malang nomor 1/Pdt.Eks/2017/PN.Tbn jo Nomor 25/Pdt.G/2013/PN.Tbn dari sebuah surat kabar edisi 1 Desember 2021. Dalam pengumuman lelang dengan pemohon atas nama Hendry Irawan dan Lusiana Tanoyo tersebut terdapat sembilan aset yang dilelang. Ada enam ruko dan tiga rumah. Tiga rumah itulah yang menjadi milik drg Gladys dan drg Gina.

Kuat dugaan lelang mendadak ini merupakan rentetan kasus persengketaan antara dr. Hardi Soetanto dan Dr Valentina Linawati. Keduanya merupakan orang tua dari Gladys dan Gina. Namun keduanya bercerai sekitar 2012. Karena perceraian itu terjadi sengketa hukum terkait harta gono-gini. Belakang dikabarkan setelah bercerai, dr Hardi menikah dengan Lusiana.

Saat ditemui di rumahnya, pada Kamis malam (23/12), Gladys menyebut bahwa pelelangan tersebut tidak atas persetujuan mereka berdua. Terlebih, semua sertifikat dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Malang itu tidak pernah keluar dari dalam lemari. ”Kakak saya (Gina) yang pegang, di lemari terus selama ini,” kata dia.

Dia menyebut bahwa antar keduanya dan ibunya, Valentina Linawati tidak pernah mengajukan pinjaman atau kredit ke bank yang mengagunkan sertifikat rumah.

Pengumuman lelang tersebut pun diselaraskan dengan temuan di laman lelang.go.id, nampak tiga rumah milik dokter gigi itu tertera dengan keterangan lot 5, 6 dan 7, semuanya dengan nilai yang bermacam-macam. Yakni rumah dari lot 5 senilai Rp 7,726 miliar, lot 6 seharga Rp 7,737 miliar dan terakhir lot 7 senilai Rp 9,902 miliar. Dari tiga rumah itu nilai lelang awal mencapai Rp 14 miliar. Dalam tangkapan layar yang diterima wartawan koran ini, nampak semua rumah difoto dari depan saja, hanya melihatkan pagar dan tanaman di depan tanpa memperlihatkan fisik bangunan. Satu buah mobil pun nampak di lot 7 di rumah senilai Rp 9,9 miliar tersebut. Gina mengatakan bahwa mobil tersebut sudah tidak ada. “Bulan Mei sudah dijual,” ungkap dia.

Dia pun menceritakan riwayat tiga rumah tersebut. Diketahui, tiga rumah mewah itu dibelikan oleh kakek atau ayah dari Valen di waktu yang berbeda-beda. Rumah nomor B/7 beli pada tahun 2004, nomor B/6 pada tahun 2007 dengan sertifikat yang keluar pada tahun berikutnya. Dan rumah nomor B/27 dibeli pada tahun 2010. Semua dibeli dengan uang hasil jual tanah kakek mereka di kawasan Dieng, Kota Malang beberapa tahun silam, yang diniatkan untuk membelikan rumah kedua dokter gigi tersebut. Semuanya tanpa riwayat balik nama dari orang tua mereka.

Mendapati tiga rumah mereka dilelang, Gina langsung menghubungi advokat Hatarto Pakpahan SH pada 6 Desember, pembuatan surat blokir sertifikat yang dikuasakan dari keduanya ke Valen pun dibuat dengan harapan bisa membatalkan lelang. Meskipun surat tersebut diterima, namun upaya itu gagal dengan alasan lelang tidak bisa dibatalkan. Dalam pengurusan surat blokir itu, pihaknya juga mengurus Surat Keterangan Pendaftaran Tanah (SKPT), tapi karena harus meninggalkan sertifikat asli selama dua hari, Valen menolaknya.

Hal yang mengagetkan mereka berdua pun terjadi pada 15 Desember 2021. Di mana tetiba saja lot yang menerakan tiga rumah itu tetiba saja menghilang. “Kata teman saya itu sudah laku,” ujar dia.

Sebagai informasi, kedua dokter gigi tersebut merupakan anak dari pasangan Valen dan dr. Hardi Soetanto yang bercerai pada November 2016 di Pengadilan Negeri (PN) Tuban. Kemudian berlanjut pada permasalahan pembagian harta bersama atau gono-gini yang sampai ke tingkat Mahkamah Agung dengan putusan nomor 593 PK/ PDT/2016. Kini, dr. Hardi sudah meninggal dunia, meninggalkan Lusiana selaku istri baru dan dicatatkan sebagai ahli waris dari Hardi. Valen menduga bahwa pelelangan sepihak tiga rumah anaknya itu berasal dari Lusiana. Namun ada satu hal yang aneh dia rasakan. “Kenapa harta saya saja? Bukan punya Hardi?,” sesal dia.

Hal yang menurutnya janggal ialah tidak terteranya keterangan harta mana yang akan dijadikan harta bersama. Karena dalam putusan MA tersebut pada poin nomor tiga bertuliskan: “Menyatakan seluruh harta yang diperoleh selama perkawinan antara penggugat (Valen) dengan tergugat I (dr. Hardi) menjadikan harta bersama”. Kemudian dilanjut pada nomor berikutnya yang berbunyi “Menghukum tergugat I untuk membagi harta bersama yang diperoleh selama perkawinan penggugat dengan tergugat I yang besarnya sama rata”. Hatarto Pakpahan SH selaku kuasa hukum dua dokter gigi itu merasakan ada hal yang aneh. “Harusnya dalam amar putusan itu tertera aset mana saja yang harus dibagi, ini menjebak kata-katanya,” kata dia.

Karena harus melewati jalur hukum, pihaknya akan melakukan sidang perlawanan pada 6 Januari 2022 mendatang. Mendapati perkara tersebut, Jawa Pos Radar Malang mengkonfirmasikan hal ini ke Pengadilan Negeri (PN) Malang. Humas PN Malang Djuanto SH mengatakan bahwa lelang yang diumumkan itu merupakan limpahan atau delegasi dari PN Tuban. “Ada 35 objek lelang dalam limpahan itu dan telah ditelaah,” kata dia. Dari 35 objek lelang itu, turun menjadi sembilan objek yang tercatat milik dr Hardi dan Valen.

Namun demikian, dia membenarkan bahwa amar putusan dari Tuban itu memang tidak spesifik membeberkan mana saja yang menjadi harta bersama. Artinya, pihak pemohon dapat menunjuk mana saja yang akan diambil, meskipun sertifikat tidak dipegang oleh pemohon. “Harus ikut lelang supaya ada sertifikat yang terbit,” kata Djuanto.

Kala itu, Valen tidak menyerahkan secara sukarela, Djuanto menduga pelelangan itu dilakukan supaya pembagian harta lebih mudah karena dalam bentuk uang.

Dia pun mengatakan bahwa Gina sudah melakukan sidang perlawanan untuk membatalkan putusan itu. “2018 itu sidangnya,” sebut Djuanto. Diketahui, pihak Gina kalah dalam sidang tersebut.

Wartawan koran ini pun berusaha mengkonfirmasi perkara ini ke Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Malang pada Selasa siang (28/12). Humas KPKNL Malang Iva Azizah mengatakan bahwa dalam proses pelelangan memang ada proses verifikasi setiap akan ada lelang, termasuk di antaranya melihat sertifikat. Sayang, dia tidak mau berkomentar terkait masalah yang menimpa dokter gigi itu. “Silahkan buat pertanyaan secara tertulis, karena ini sama-sama institusi,” tutup dia. (biy/abm)

MALANG KOTA- Betapa kagetnya drg Gladys Adipranoto dan drg Gina Gratiana pada Sabtu (4/12/21) lalu. Itu karena pemilik sah tiga rumah di Jl Pahlawan Trip, Kelurahan Oro-oro Dowo, Kecamatan Klojen tersebut mengetahui ada pengumuman lelang tiga rumah di sebuah surat kabar. Dan bak disambar  petir, ternyata rumah yang dilelang itu adalah miliknya yang sah.

Padahal, Gladys merasa tidak pernah memberi izin kepada siapa saja untuk transaksi urusan rumah. Apalagi sampai urusan lelang.  Tiga rumah milik kakak beradik tersebut di Jl Pahlawan Trip nomor B/6, B/7, dan B/27. Kesemuanya bersertifikat atas nama dua dokter gigi itu. Kabar pelelangan itu sendiri diketahui oleh keduanya pada Sabtu (4/12) lalu melalui pengumuman lelang dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Malang nomor 1/Pdt.Eks/2017/PN.Tbn jo Nomor 25/Pdt.G/2013/PN.Tbn dari sebuah surat kabar edisi 1 Desember 2021. Dalam pengumuman lelang dengan pemohon atas nama Hendry Irawan dan Lusiana Tanoyo tersebut terdapat sembilan aset yang dilelang. Ada enam ruko dan tiga rumah. Tiga rumah itulah yang menjadi milik drg Gladys dan drg Gina.

Kuat dugaan lelang mendadak ini merupakan rentetan kasus persengketaan antara dr. Hardi Soetanto dan Dr Valentina Linawati. Keduanya merupakan orang tua dari Gladys dan Gina. Namun keduanya bercerai sekitar 2012. Karena perceraian itu terjadi sengketa hukum terkait harta gono-gini. Belakang dikabarkan setelah bercerai, dr Hardi menikah dengan Lusiana.

Saat ditemui di rumahnya, pada Kamis malam (23/12), Gladys menyebut bahwa pelelangan tersebut tidak atas persetujuan mereka berdua. Terlebih, semua sertifikat dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Malang itu tidak pernah keluar dari dalam lemari. ”Kakak saya (Gina) yang pegang, di lemari terus selama ini,” kata dia.

Dia menyebut bahwa antar keduanya dan ibunya, Valentina Linawati tidak pernah mengajukan pinjaman atau kredit ke bank yang mengagunkan sertifikat rumah.

Pengumuman lelang tersebut pun diselaraskan dengan temuan di laman lelang.go.id, nampak tiga rumah milik dokter gigi itu tertera dengan keterangan lot 5, 6 dan 7, semuanya dengan nilai yang bermacam-macam. Yakni rumah dari lot 5 senilai Rp 7,726 miliar, lot 6 seharga Rp 7,737 miliar dan terakhir lot 7 senilai Rp 9,902 miliar. Dari tiga rumah itu nilai lelang awal mencapai Rp 14 miliar. Dalam tangkapan layar yang diterima wartawan koran ini, nampak semua rumah difoto dari depan saja, hanya melihatkan pagar dan tanaman di depan tanpa memperlihatkan fisik bangunan. Satu buah mobil pun nampak di lot 7 di rumah senilai Rp 9,9 miliar tersebut. Gina mengatakan bahwa mobil tersebut sudah tidak ada. “Bulan Mei sudah dijual,” ungkap dia.

Dia pun menceritakan riwayat tiga rumah tersebut. Diketahui, tiga rumah mewah itu dibelikan oleh kakek atau ayah dari Valen di waktu yang berbeda-beda. Rumah nomor B/7 beli pada tahun 2004, nomor B/6 pada tahun 2007 dengan sertifikat yang keluar pada tahun berikutnya. Dan rumah nomor B/27 dibeli pada tahun 2010. Semua dibeli dengan uang hasil jual tanah kakek mereka di kawasan Dieng, Kota Malang beberapa tahun silam, yang diniatkan untuk membelikan rumah kedua dokter gigi tersebut. Semuanya tanpa riwayat balik nama dari orang tua mereka.

Mendapati tiga rumah mereka dilelang, Gina langsung menghubungi advokat Hatarto Pakpahan SH pada 6 Desember, pembuatan surat blokir sertifikat yang dikuasakan dari keduanya ke Valen pun dibuat dengan harapan bisa membatalkan lelang. Meskipun surat tersebut diterima, namun upaya itu gagal dengan alasan lelang tidak bisa dibatalkan. Dalam pengurusan surat blokir itu, pihaknya juga mengurus Surat Keterangan Pendaftaran Tanah (SKPT), tapi karena harus meninggalkan sertifikat asli selama dua hari, Valen menolaknya.

Hal yang mengagetkan mereka berdua pun terjadi pada 15 Desember 2021. Di mana tetiba saja lot yang menerakan tiga rumah itu tetiba saja menghilang. “Kata teman saya itu sudah laku,” ujar dia.

Sebagai informasi, kedua dokter gigi tersebut merupakan anak dari pasangan Valen dan dr. Hardi Soetanto yang bercerai pada November 2016 di Pengadilan Negeri (PN) Tuban. Kemudian berlanjut pada permasalahan pembagian harta bersama atau gono-gini yang sampai ke tingkat Mahkamah Agung dengan putusan nomor 593 PK/ PDT/2016. Kini, dr. Hardi sudah meninggal dunia, meninggalkan Lusiana selaku istri baru dan dicatatkan sebagai ahli waris dari Hardi. Valen menduga bahwa pelelangan sepihak tiga rumah anaknya itu berasal dari Lusiana. Namun ada satu hal yang aneh dia rasakan. “Kenapa harta saya saja? Bukan punya Hardi?,” sesal dia.

Hal yang menurutnya janggal ialah tidak terteranya keterangan harta mana yang akan dijadikan harta bersama. Karena dalam putusan MA tersebut pada poin nomor tiga bertuliskan: “Menyatakan seluruh harta yang diperoleh selama perkawinan antara penggugat (Valen) dengan tergugat I (dr. Hardi) menjadikan harta bersama”. Kemudian dilanjut pada nomor berikutnya yang berbunyi “Menghukum tergugat I untuk membagi harta bersama yang diperoleh selama perkawinan penggugat dengan tergugat I yang besarnya sama rata”. Hatarto Pakpahan SH selaku kuasa hukum dua dokter gigi itu merasakan ada hal yang aneh. “Harusnya dalam amar putusan itu tertera aset mana saja yang harus dibagi, ini menjebak kata-katanya,” kata dia.

Karena harus melewati jalur hukum, pihaknya akan melakukan sidang perlawanan pada 6 Januari 2022 mendatang. Mendapati perkara tersebut, Jawa Pos Radar Malang mengkonfirmasikan hal ini ke Pengadilan Negeri (PN) Malang. Humas PN Malang Djuanto SH mengatakan bahwa lelang yang diumumkan itu merupakan limpahan atau delegasi dari PN Tuban. “Ada 35 objek lelang dalam limpahan itu dan telah ditelaah,” kata dia. Dari 35 objek lelang itu, turun menjadi sembilan objek yang tercatat milik dr Hardi dan Valen.

Namun demikian, dia membenarkan bahwa amar putusan dari Tuban itu memang tidak spesifik membeberkan mana saja yang menjadi harta bersama. Artinya, pihak pemohon dapat menunjuk mana saja yang akan diambil, meskipun sertifikat tidak dipegang oleh pemohon. “Harus ikut lelang supaya ada sertifikat yang terbit,” kata Djuanto.

Kala itu, Valen tidak menyerahkan secara sukarela, Djuanto menduga pelelangan itu dilakukan supaya pembagian harta lebih mudah karena dalam bentuk uang.

Dia pun mengatakan bahwa Gina sudah melakukan sidang perlawanan untuk membatalkan putusan itu. “2018 itu sidangnya,” sebut Djuanto. Diketahui, pihak Gina kalah dalam sidang tersebut.

Wartawan koran ini pun berusaha mengkonfirmasi perkara ini ke Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Malang pada Selasa siang (28/12). Humas KPKNL Malang Iva Azizah mengatakan bahwa dalam proses pelelangan memang ada proses verifikasi setiap akan ada lelang, termasuk di antaranya melihat sertifikat. Sayang, dia tidak mau berkomentar terkait masalah yang menimpa dokter gigi itu. “Silahkan buat pertanyaan secara tertulis, karena ini sama-sama institusi,” tutup dia. (biy/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/