alexametrics
20.8 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Lebaran, Warga Binaan di Lapas Wanita pun Butuh Bersolek

MALANG KOTA- Momentum Lebaran tahun ini tak bakal disia-siakan warga binaan pemasyarakatan di Lapas Wanita Sukun. Bukan untuk mudik seperti masyarakat umumnya, namun mereka bersolek untuk “bertemu” sanak keluarganya meski masih lewat video call. Mereka mulai merawat diri di salon An-Nisa yang berada di dalam lingkungan Lapas tersebut.

Di sana, mereka membenahi rambut, menyegarkan penampilan, begitulah yang terlihat ketika wartawan koran ini menyambangi tempat pembinaan pelaku kriminal perempuan itu kemarin pagi. Setidaknya dalam satu sesi pukul 10.00 itu, ada tiga warga binaan yang memanjakan diri dengan merawat rambut mereka berupa smoothing.

Para warga binaan itu juga dilayani oleh sesama narapidana yang memiliki kemampuan melakukan perawatan rambut. Menurut Rusmiyati, 50, salah satu pekerja di salon tersebut, smoothing adalah layanan yang paling banyak diminta warga binaan sesamanya. Apalagi, Lebaran tahun ini merupakan momentum pertama bisa dirayakan secara leluasa, tidak banyak pembatasan seperti dua tahun sebelumnya. “Kalau tahun lalu ada pembatasan di dalam, jadi sangat sepi rasanya,” kata dia.

Hal itu dirasakannya karena pesanan untuk perawatan rambut meningkat, bila pada hari biasanya ada 3 sampai 4 pesanan pada dua hari akhir pekan, kini masing-masing hari Sabtu dan Minggu ada tiga orang di tiap harinya. Semua dilayani mulai pukul 09.00 hingga 15.30 dengan tarif yang bervariasi.

Sekadar diketahui, kegiatan salon yang masuk dalam pembinaan narapidana ini sudah ada sejak tahun 2018, dan diisi oleh mereka yang berminat dan memiliki keahlian. Rusmiyati sendiri memiliki usaha salon dan rias pengantin di kota asalnya di Surabaya. Untuk mereka yang masih baru masuk (dalam Lapas), pihak Lapas memberikan waktu pelatihan setidaknya satu bulan. Salah satu warga binaan pengguna layanan salon itu, Nurul, 35, mengatakan bila ke salon ini merupakan salah satu hiburannya. “Walau di dalam kan juga bisa merawat diri,” kata dia.

Berkaitan dengan remcana bertemu keluarga, WBP asal Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang ini mengatakan tidak bisa pamer rambut karena memakai jilbab, namun setidaknya bisa memberikan penampilan yang lebih segar. Soal peningkatan jumlah yang terlayani di salon itu dibenarkan oleh Kasubsi Bimkeswat Lapas Sukun Hamlana Rizka Achmad Efendi. “Ini mempersiapkan kunjungan keluarga secara video call pada hari H dan H +1 Lebaran, mereka banyak datang ke salon untuk mempercantik diri,” kata dia.

Ya, tatap muka dengan sanak famili masih dibatasi dengan telepon video karena masih dalam masa pandemi Covid-19. Namun demikian, pihaknya menjamin semua warga binaan bisa terfasilitasi, dengan mempersiapkan setidaknya 19 unit komputer yang dilengkapi dengan kamera untuk berkomunikasi. Sistemnya, satu warga binaan diberi waktu 10 menit dan dipakai secara bergiliran kepada sekitar 502 orang total warga binaan di sana. (biy/abm)

MALANG KOTA- Momentum Lebaran tahun ini tak bakal disia-siakan warga binaan pemasyarakatan di Lapas Wanita Sukun. Bukan untuk mudik seperti masyarakat umumnya, namun mereka bersolek untuk “bertemu” sanak keluarganya meski masih lewat video call. Mereka mulai merawat diri di salon An-Nisa yang berada di dalam lingkungan Lapas tersebut.

Di sana, mereka membenahi rambut, menyegarkan penampilan, begitulah yang terlihat ketika wartawan koran ini menyambangi tempat pembinaan pelaku kriminal perempuan itu kemarin pagi. Setidaknya dalam satu sesi pukul 10.00 itu, ada tiga warga binaan yang memanjakan diri dengan merawat rambut mereka berupa smoothing.

Para warga binaan itu juga dilayani oleh sesama narapidana yang memiliki kemampuan melakukan perawatan rambut. Menurut Rusmiyati, 50, salah satu pekerja di salon tersebut, smoothing adalah layanan yang paling banyak diminta warga binaan sesamanya. Apalagi, Lebaran tahun ini merupakan momentum pertama bisa dirayakan secara leluasa, tidak banyak pembatasan seperti dua tahun sebelumnya. “Kalau tahun lalu ada pembatasan di dalam, jadi sangat sepi rasanya,” kata dia.

Hal itu dirasakannya karena pesanan untuk perawatan rambut meningkat, bila pada hari biasanya ada 3 sampai 4 pesanan pada dua hari akhir pekan, kini masing-masing hari Sabtu dan Minggu ada tiga orang di tiap harinya. Semua dilayani mulai pukul 09.00 hingga 15.30 dengan tarif yang bervariasi.

Sekadar diketahui, kegiatan salon yang masuk dalam pembinaan narapidana ini sudah ada sejak tahun 2018, dan diisi oleh mereka yang berminat dan memiliki keahlian. Rusmiyati sendiri memiliki usaha salon dan rias pengantin di kota asalnya di Surabaya. Untuk mereka yang masih baru masuk (dalam Lapas), pihak Lapas memberikan waktu pelatihan setidaknya satu bulan. Salah satu warga binaan pengguna layanan salon itu, Nurul, 35, mengatakan bila ke salon ini merupakan salah satu hiburannya. “Walau di dalam kan juga bisa merawat diri,” kata dia.

Berkaitan dengan remcana bertemu keluarga, WBP asal Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang ini mengatakan tidak bisa pamer rambut karena memakai jilbab, namun setidaknya bisa memberikan penampilan yang lebih segar. Soal peningkatan jumlah yang terlayani di salon itu dibenarkan oleh Kasubsi Bimkeswat Lapas Sukun Hamlana Rizka Achmad Efendi. “Ini mempersiapkan kunjungan keluarga secara video call pada hari H dan H +1 Lebaran, mereka banyak datang ke salon untuk mempercantik diri,” kata dia.

Ya, tatap muka dengan sanak famili masih dibatasi dengan telepon video karena masih dalam masa pandemi Covid-19. Namun demikian, pihaknya menjamin semua warga binaan bisa terfasilitasi, dengan mempersiapkan setidaknya 19 unit komputer yang dilengkapi dengan kamera untuk berkomunikasi. Sistemnya, satu warga binaan diberi waktu 10 menit dan dipakai secara bergiliran kepada sekitar 502 orang total warga binaan di sana. (biy/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/