alexametrics
22.4 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

Perayaan Tahun Baru Masyarakat Jepang

RADAR MALANG – Pergantian tahun baru adalah hari yang paling ditunggu oleh hampir seluruh masyarakat di dunia, bahkan untuk merayakan pergantian tahun tersebut masyarakat rela untuk membeli banyak kembang api, terompet, membakar-bakar daging, bahkan rela menghabiskan jutaan rupiah untuk ke luar negeri hanya untuk memeriahkan pergantian tahun tersebut.

Hal ini sedikit berbeda dengan kegiatan tahun baru yang ada di Jepang, hal-hal seperti kembang api dan terompet hanya bisa dilihat pada Tokyo Disneyland ataupun Universal Studi Japan, sedangan masyarakat Jepang sendiri memiliki beberapa kegiatan yang sangat menarik untuk dilakukan pada malam pergantian tahun baru.

Menurut Susy Ong (Penulis buku Seikatsu Kaizen), bahwa masyarakat tidak hanya menyambut pergantian tahun saja melainkan merayakan musim semi yang akan datang, dimana musim semi sangat di tunggu oleh masyarakat Jepang sebagai wujud bahwa dewa tidak marah dengan mulai berkembangnya bunga-bunga sakura, daun-daun mulai tumbuh kembali, suhu yang sangat pas. Sehingga untuk merayakan itu masyarakat lebih banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang mengandung banyak makna di dalamnya.

Menurut Imelda Coutrier orang Indonesia yang sudah tinggal di Jepang lebih dari 20 tahun, bahwa perayaan tahun baru di Jepang dibagi menjadi 3 bagian: Persiapan, Saat malam tahun baru, Pagi setelah tahun baru.

Saat tahap Persiapan hal pertama yang dilakukan adalah 大掃除(oosoji) dilakukan pada tanggal 13 Desember, dimana pada kalender Buddha tanggal tersebut bertepatan dengan tanggal membersihkan kuil, sehingga masyarakat juga membersihkan rumah mereka. Setelah selesai membersihkan rumah pada tanggal 28 dan 30 Desember adalah hari untuk menggantung 門松(matsukado) dan しめ縄(shimenawakazari) tidak diperbolehkan untuk menggantung pada tanggal 29 dikarenakan penyebutan Bahasa Jepang 29 memiliki arti lain yaitu “kesialan ganda”. Hal ini dilakukan untuk menyambutnya kedatangan dewa ke rumah dan memberikan keberkahan pada rumah mereka. Dan hal unik lainnya masyarakat Jepang hingga saat ini masih mengirimkan kartu pos 年賀所(nengajo) untuk mengucapkan selamat tahun baru kepada rekan-rekan dan juga keluarga, dan kantor pos Jepang selalu mengeluarkan edisi khusus tahun baru setiap tahunnya, agar sampai tepat 1 Januari pagi masyarakat Jepang harus mengirimnya sebelum tanggal 25 Desember.

Pada hari tahun baru 大晦日(oomisoka), hampir semua keluarga di Jepang akan berkumpul di rumah untuk melakukan makan malam keluarga dengan makanan-makanan yang mewah dengan artian menutup tahun baru dengan hidangan yang mewah dan berharap di tahun depan dapat memakan hidangan mewah juga. Sambil makan malam dan berbincang dengan keluarga biasanya keluarga di Jepang akan menyaksikan acara 紅白歌合戦(kouhaku Uta Gassen), dimana acara ini hanya ada pada malam tahun baru saja yaitu perlombaan menyanyi antara tim merah dan putih, dimana tim merah adalah Perempuan dan tim putih adalah tim laki-laki. Saat tenggah malam akan terdengar 108 bunci lonceng dari kuil除夜の鐘(joyanokane) sebagai penanda tahun baru dan juga pengingat akan 108 dosa manusia menurut ajaran Buddha. Saat lonceng ini berbunyi orang-orang akan menyantap 年越しそば(toshikoshisoba) soba yang dimakan saat pergantian tahun baru yang memiliki arti memiliki usia yang Panjang, rezeki yang Panjang, dan sebagai penghubung tahun lalu dan tahun baru. Dan setelah itu masyarakat akan keluar rumah untuk pergi ke kuil untuk berdoa, tetapi banyak juga yang memilih pergi ke kuil keesokan harinya.

Saat pagi setelah pergantian tahun 元日(ganjitsu) hal pertama yang dilakukan adalah membersihkan dan mengganti air dari神棚(kamidana) altar untuk agama Shinto yang ada di rumah dan仏壇(butsudan) altar untuk agama Buddha di rumah, memiliki 2 altar di Jepang adalah hal yang sudah biasa. Setelah selesai dilanjutkan membuat minuman お屠蘇(otoso) minuman sedikit mengandung alcohol tetapi memiliki obat di dalamnya, biasanya anak-anak diperbolehkan minum ini 1 cangkir saja dan membuat minuman ini harus memiliki peralatan khusus. Lalu membuat 祝箸(iwaibashi) ini adalah sumpit yang harus digunakan hingga tanggal 3 Januari untuk memberikan keselamatan. Lalu langsung menyantap お節料理(osechiryouri) hidangan yang hanya ada pada tahun baru dan makanan ini untuk dimakan selama 3 hari dapat dibeli di supermarket ataupun membuat sendiri, setiap makanan yang ada didalam お節料理(osechiryouri) memiliki makna dan harapan, sebagai contoh: 錦たまご(nishiki tamago) makanan ini meambangkan keindahan, 紅白なます(kouhaku namasu) memiliki warna merah dan putih yaitu warna keselamat dari Jepang, 黒豆(kuromame) kacang yang sangat baik untuk Kesehatan, 栗きんとん(kurikinton) memiliki warna kekuningan dan ada bunyi “kin” yang memiliki arti emas sehingga diharapkan dapat memberi kesejahteraan, sebenarnya sangat banyak sekali isi dari お節料理(osechiryouri) bahkan ada yang sampai 30 lauk. Setelah makan anak-anak akan mendapat お年玉(otoshidama) yaitu amplop berisi uang dengan ketentuan anak yang belum SD mendapat ¥2,000, untuk kelas 1-5 SD ¥3,000, kelas 6 SD-3 SMA ¥5,000, dan jika sudah kuliah akan mendapat ¥10,000. Setelah kegiatan pembagian お年玉(otoshidama) dilanjutkan dengan 初詣(hatsumoude) kunjungan pertama ke kuil untuk berdoa dan membeli 破魔矢(hamaya) anak panah untuk diletakan di rumah agar terhidar dari segala kesialan selama 1 tahun, dan membeli 御神籤(omikuji) sebuah kertas ramalan di kuil. Pada tanggal 7 diharuskan untuk memakan 七草粥(nanakusagayu) yaitu bubur dengan 7 tanaman herbal didalamnya untuk menetralisir makanan yang dimakan selama perayaan tahun baru.

Penutup rangkaian dari tahun baru yaitu pada tanggal 15 Januari dengan acara どんど焼き(dondoyaki) yaitu pembakaran 門松(matsukado) dan しめ縄(shimenawakazari) di kuil.

Dengan pembakaran tersebut rangkaian dari perayaan tahun baru masyarakat jepang telah selesai dilaksanakan, pekerjaan, sekolah akan mulai aktif kembali dan semua kegiatan akan kembali normal kembali.

Penulis: Attaya Fadhila (Studi Kejepangan Universitas Airlangga, Nihon Bunka Nyuumon)

RADAR MALANG – Pergantian tahun baru adalah hari yang paling ditunggu oleh hampir seluruh masyarakat di dunia, bahkan untuk merayakan pergantian tahun tersebut masyarakat rela untuk membeli banyak kembang api, terompet, membakar-bakar daging, bahkan rela menghabiskan jutaan rupiah untuk ke luar negeri hanya untuk memeriahkan pergantian tahun tersebut.

Hal ini sedikit berbeda dengan kegiatan tahun baru yang ada di Jepang, hal-hal seperti kembang api dan terompet hanya bisa dilihat pada Tokyo Disneyland ataupun Universal Studi Japan, sedangan masyarakat Jepang sendiri memiliki beberapa kegiatan yang sangat menarik untuk dilakukan pada malam pergantian tahun baru.

Menurut Susy Ong (Penulis buku Seikatsu Kaizen), bahwa masyarakat tidak hanya menyambut pergantian tahun saja melainkan merayakan musim semi yang akan datang, dimana musim semi sangat di tunggu oleh masyarakat Jepang sebagai wujud bahwa dewa tidak marah dengan mulai berkembangnya bunga-bunga sakura, daun-daun mulai tumbuh kembali, suhu yang sangat pas. Sehingga untuk merayakan itu masyarakat lebih banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang mengandung banyak makna di dalamnya.

Menurut Imelda Coutrier orang Indonesia yang sudah tinggal di Jepang lebih dari 20 tahun, bahwa perayaan tahun baru di Jepang dibagi menjadi 3 bagian: Persiapan, Saat malam tahun baru, Pagi setelah tahun baru.

Saat tahap Persiapan hal pertama yang dilakukan adalah 大掃除(oosoji) dilakukan pada tanggal 13 Desember, dimana pada kalender Buddha tanggal tersebut bertepatan dengan tanggal membersihkan kuil, sehingga masyarakat juga membersihkan rumah mereka. Setelah selesai membersihkan rumah pada tanggal 28 dan 30 Desember adalah hari untuk menggantung 門松(matsukado) dan しめ縄(shimenawakazari) tidak diperbolehkan untuk menggantung pada tanggal 29 dikarenakan penyebutan Bahasa Jepang 29 memiliki arti lain yaitu “kesialan ganda”. Hal ini dilakukan untuk menyambutnya kedatangan dewa ke rumah dan memberikan keberkahan pada rumah mereka. Dan hal unik lainnya masyarakat Jepang hingga saat ini masih mengirimkan kartu pos 年賀所(nengajo) untuk mengucapkan selamat tahun baru kepada rekan-rekan dan juga keluarga, dan kantor pos Jepang selalu mengeluarkan edisi khusus tahun baru setiap tahunnya, agar sampai tepat 1 Januari pagi masyarakat Jepang harus mengirimnya sebelum tanggal 25 Desember.

Pada hari tahun baru 大晦日(oomisoka), hampir semua keluarga di Jepang akan berkumpul di rumah untuk melakukan makan malam keluarga dengan makanan-makanan yang mewah dengan artian menutup tahun baru dengan hidangan yang mewah dan berharap di tahun depan dapat memakan hidangan mewah juga. Sambil makan malam dan berbincang dengan keluarga biasanya keluarga di Jepang akan menyaksikan acara 紅白歌合戦(kouhaku Uta Gassen), dimana acara ini hanya ada pada malam tahun baru saja yaitu perlombaan menyanyi antara tim merah dan putih, dimana tim merah adalah Perempuan dan tim putih adalah tim laki-laki. Saat tenggah malam akan terdengar 108 bunci lonceng dari kuil除夜の鐘(joyanokane) sebagai penanda tahun baru dan juga pengingat akan 108 dosa manusia menurut ajaran Buddha. Saat lonceng ini berbunyi orang-orang akan menyantap 年越しそば(toshikoshisoba) soba yang dimakan saat pergantian tahun baru yang memiliki arti memiliki usia yang Panjang, rezeki yang Panjang, dan sebagai penghubung tahun lalu dan tahun baru. Dan setelah itu masyarakat akan keluar rumah untuk pergi ke kuil untuk berdoa, tetapi banyak juga yang memilih pergi ke kuil keesokan harinya.

Saat pagi setelah pergantian tahun 元日(ganjitsu) hal pertama yang dilakukan adalah membersihkan dan mengganti air dari神棚(kamidana) altar untuk agama Shinto yang ada di rumah dan仏壇(butsudan) altar untuk agama Buddha di rumah, memiliki 2 altar di Jepang adalah hal yang sudah biasa. Setelah selesai dilanjutkan membuat minuman お屠蘇(otoso) minuman sedikit mengandung alcohol tetapi memiliki obat di dalamnya, biasanya anak-anak diperbolehkan minum ini 1 cangkir saja dan membuat minuman ini harus memiliki peralatan khusus. Lalu membuat 祝箸(iwaibashi) ini adalah sumpit yang harus digunakan hingga tanggal 3 Januari untuk memberikan keselamatan. Lalu langsung menyantap お節料理(osechiryouri) hidangan yang hanya ada pada tahun baru dan makanan ini untuk dimakan selama 3 hari dapat dibeli di supermarket ataupun membuat sendiri, setiap makanan yang ada didalam お節料理(osechiryouri) memiliki makna dan harapan, sebagai contoh: 錦たまご(nishiki tamago) makanan ini meambangkan keindahan, 紅白なます(kouhaku namasu) memiliki warna merah dan putih yaitu warna keselamat dari Jepang, 黒豆(kuromame) kacang yang sangat baik untuk Kesehatan, 栗きんとん(kurikinton) memiliki warna kekuningan dan ada bunyi “kin” yang memiliki arti emas sehingga diharapkan dapat memberi kesejahteraan, sebenarnya sangat banyak sekali isi dari お節料理(osechiryouri) bahkan ada yang sampai 30 lauk. Setelah makan anak-anak akan mendapat お年玉(otoshidama) yaitu amplop berisi uang dengan ketentuan anak yang belum SD mendapat ¥2,000, untuk kelas 1-5 SD ¥3,000, kelas 6 SD-3 SMA ¥5,000, dan jika sudah kuliah akan mendapat ¥10,000. Setelah kegiatan pembagian お年玉(otoshidama) dilanjutkan dengan 初詣(hatsumoude) kunjungan pertama ke kuil untuk berdoa dan membeli 破魔矢(hamaya) anak panah untuk diletakan di rumah agar terhidar dari segala kesialan selama 1 tahun, dan membeli 御神籤(omikuji) sebuah kertas ramalan di kuil. Pada tanggal 7 diharuskan untuk memakan 七草粥(nanakusagayu) yaitu bubur dengan 7 tanaman herbal didalamnya untuk menetralisir makanan yang dimakan selama perayaan tahun baru.

Penutup rangkaian dari tahun baru yaitu pada tanggal 15 Januari dengan acara どんど焼き(dondoyaki) yaitu pembakaran 門松(matsukado) dan しめ縄(shimenawakazari) di kuil.

Dengan pembakaran tersebut rangkaian dari perayaan tahun baru masyarakat jepang telah selesai dilaksanakan, pekerjaan, sekolah akan mulai aktif kembali dan semua kegiatan akan kembali normal kembali.

Penulis: Attaya Fadhila (Studi Kejepangan Universitas Airlangga, Nihon Bunka Nyuumon)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/