alexametrics
18.6 C
Malang
Wednesday, 29 June 2022

Sengketa Lelang Rumah Senilai Rp 25,5 M Dianggap Cacat Formil

MALANG KOTA– Ini masih soal lanjutan sengketa lelang tiga rumah di Jalan Pahlawan Trip senilai Rp 25,5 miliar. Proses lelang rumah milik kakak beradik dr. Gladys Adipranoto, Sp.OT dan drg Gina Gratiana tersebut disebut cacat formil. Karena itu pihak Gladys dan Gina terus melawan dengan melakukan pembatalan lelang.

Keputusan melawan proses lelang yang diumumkan lewat koran pada 1 Desember 2021 tersebut karena Gladys dan Gina mendapati sejumlah keanehan. Di antaranya, pelelangan itu dilakukan secara sepihak. Yakni oleh dr. Hardi Soetanto yang merupakan mantan suami Valentina Linawati, ibu Gladys dan Gina. Kejanggalan lain, pihak Gladys dan Gina tidak menerima surat pemberitahuan apapun sejak diketahui pada Sabtu (4/12) lalu. Baik dari Pengadilan Negeri (PN) Malang maupun Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Malang.

Seperti diketahui, kedua dokter tersebut merupakan anak adopsi dari pasangan pasangan Valentina Linawati dan dr. Hardi Soetanto yang bercerai pada November 2016 di Pengadilan Negeri (PN) Tuban. Keduanya bercerai dan diminta untuk membagikan harta yang diperoleh selama perkawinan oleh putusan pengadilan Mahkamah Agung (MA) melalui Peninjauan Kembali dengan nomor putusan 593 PK/ PDT/2016. Tiga rumah di Jl Pahlawan Trip, Kelurahan Oro-oro Dowo, Kecamatan Klojen dengan nomor B/6, B/7, dan B/27 yang menjadi sasaran lelang berdasar putusan perceraian tersebut. Tiga aset itu dilelang dengan pengumuman dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Malang Nomor 1/Pdt.Eks/2017/PN.Tbn jo Nomor 25/Pdt.G/2013/PN.Tbn dari sebuah surat kabar edisi 1 Desember 2021. Karena tiga aset rumah itu dianggap bagian dari harta gono-gini.

Valentina melalui sambungan telepon kemarin (29/12) mengatakan bahwa kedua anaknya tidak pernah menerima surat pengumuman dari badan terkait. Terlebih, juga tidak pernah ada sita eksekusi dari PN. “Ukur aset pun tidak pernah ada,” kata dia.

Dia menambahkan, eksekusi lelang sebenarnya sudah dilakukan pada 3 Juni 2021, 10 hari setelah kematian mantan suaminya atau dr Hardi Soetanto. Saat proses lelang itu disaksikan seorang notaris asal Mojokerto bernama Susi Sandrawati. Harusnya, hasil dari lelang tersebut dititipkan atau melalui proses yang disebut konsinyasi. Sayang uang tersebut tidak pernah sampai pada dirinya.

Setelah itu surat wasiat dari dr Hardi pun datang. Info yang diterima Valen, surat tersebut berbunyi soal pelimpahan perkara kepada istri baru dr Hardi, Lusiana Tanoyo. Namun dia pun juga mempertanyakan apakah mantan suaminya menandatangani surat tersebut. Diyakini bahwa surat tersebut tidak pernah mengatakan soal harta gono-gini yang harus dibayarkan sesuai putusan.

Dalam putusan perceraian dari PN Tuban dengan nomor putusan 25/Pdt.G/ 2013/ Pn.Tbn menyebutkan bahwa terdapat empat aset yang diperoleh selama perkawinan dari kedua pasangan tersebut antara lain: rumah Jl Pahlawan Trip nomor B/6, B/7, B/8, B/27 beserta banyak aset bergerak lainnya. Namun demikian, Valen mengaku tidak menyerahkan semua harta secara sukarela. Terlebih, harta berupa tiga rumah yang kini dilelangkan tersebut dibelikan oleh nenek Gladys dan Gina. Uang pembelian berasal dari menjual tanah milik Valentina di Jl Dieng, Jalan Tambora, Jalan Bandahara dan Jalan Kinibalu.

Kuasa hukum Gladys dan Gina, Hatarto Pakpahan SH membenarkan bahwa pelelangan tersebut tidak disertai dengan pengumuman secara tertulis dan personal. “ (Lelang) langsung di koran, kami melihat ada cacat formil dalam perkara ini,” ucap dia.

Namun demikian, dia menyoroti bahwa dalam putusan perceraian yang ada, hanya ada sita marital atau pembekuan harta supaya tidak berpindah ke pihak ketiga. Dalam perkara ini, dia menyoroti perubahan dari sita marital ke jaminan. Hal itu pun dituliskan dalam putusan.

Dia bersikukuh bahwa pembagian harta gono-gini harus dituliskan dalam amar putusan. Hal ini berkaitan dengan aset mana saja yang akan dibagikan, lengkap dengan batas dan letak pasti. Meskipun dalam pertimbangan dan fakta persidangan telah disebutkan, hal itu supaya menghindari penyerobotan aset milik orang di luar perkara. Selain itu, dalam proses verifikasi lelang harus menyertakan sertifikat aset yang akan dibagikan. Dalam hukum formal juga, ahli waris dari suatu perkara perceraian yang menerima harta “lungsuran” atau warisan biasanya ialah anak dari pasangan tersebut. Dengan demikian tidak ada perubahan dari sertifikat yang sudah dimiliki oleh keduanya, bukan istri baru.

Di lain tempat, kuasa hukum Lusiana, Lardi SH MH mengatakan bahwa dr Hardi telah menunjuk istri barunya yakni Lusiana Tanoyo sebagai ahli waris. Berkaitan dengan sertifikat milik dua anak pasangan tersebut, dia menyebut bahwa ketiga aset tersebut dibeli saat mereka masih di bawah umur dewasa, tidak patut dimasukkan dalam sertifikat. “Kan tidak logis begitu itu,” ucap dia.

Selain itu, dia membantah bahwa Gladys dan Gina tidak menerima surat pengumuman lelang dan eksekusi. Apalagi, keputusan lelang disebut sebagai upaya paksa dari pengadilan dan memiliki dasar hukum dari PN. Hal itupun dirasa cukup untuk tidak meminta persetujuan pemilik aset yang telah ditunjuk.

Selain itu, berkaitan dengan lelang yang dirasakan hanya dilakukan secara sepihak, dia menyebut secara hukum diperkenankan sertifikat tidak diberikan dalam proses verifikasi. Melainkan cukup bermodal surat tanah yang ada di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Malang. Apalagi, dia mengatakan bahwa ada perubahan dari sita marital ke jaminan, hal itu seiring kenaikan perkara dari PN ke MA. “Begitu sampai ke MA, pendapat sudah berubah, dan itu mutlak,” tutup dia. (biy/abm)

 

 

 

MALANG KOTA– Ini masih soal lanjutan sengketa lelang tiga rumah di Jalan Pahlawan Trip senilai Rp 25,5 miliar. Proses lelang rumah milik kakak beradik dr. Gladys Adipranoto, Sp.OT dan drg Gina Gratiana tersebut disebut cacat formil. Karena itu pihak Gladys dan Gina terus melawan dengan melakukan pembatalan lelang.

Keputusan melawan proses lelang yang diumumkan lewat koran pada 1 Desember 2021 tersebut karena Gladys dan Gina mendapati sejumlah keanehan. Di antaranya, pelelangan itu dilakukan secara sepihak. Yakni oleh dr. Hardi Soetanto yang merupakan mantan suami Valentina Linawati, ibu Gladys dan Gina. Kejanggalan lain, pihak Gladys dan Gina tidak menerima surat pemberitahuan apapun sejak diketahui pada Sabtu (4/12) lalu. Baik dari Pengadilan Negeri (PN) Malang maupun Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Malang.

Seperti diketahui, kedua dokter tersebut merupakan anak adopsi dari pasangan pasangan Valentina Linawati dan dr. Hardi Soetanto yang bercerai pada November 2016 di Pengadilan Negeri (PN) Tuban. Keduanya bercerai dan diminta untuk membagikan harta yang diperoleh selama perkawinan oleh putusan pengadilan Mahkamah Agung (MA) melalui Peninjauan Kembali dengan nomor putusan 593 PK/ PDT/2016. Tiga rumah di Jl Pahlawan Trip, Kelurahan Oro-oro Dowo, Kecamatan Klojen dengan nomor B/6, B/7, dan B/27 yang menjadi sasaran lelang berdasar putusan perceraian tersebut. Tiga aset itu dilelang dengan pengumuman dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Malang Nomor 1/Pdt.Eks/2017/PN.Tbn jo Nomor 25/Pdt.G/2013/PN.Tbn dari sebuah surat kabar edisi 1 Desember 2021. Karena tiga aset rumah itu dianggap bagian dari harta gono-gini.

Valentina melalui sambungan telepon kemarin (29/12) mengatakan bahwa kedua anaknya tidak pernah menerima surat pengumuman dari badan terkait. Terlebih, juga tidak pernah ada sita eksekusi dari PN. “Ukur aset pun tidak pernah ada,” kata dia.

Dia menambahkan, eksekusi lelang sebenarnya sudah dilakukan pada 3 Juni 2021, 10 hari setelah kematian mantan suaminya atau dr Hardi Soetanto. Saat proses lelang itu disaksikan seorang notaris asal Mojokerto bernama Susi Sandrawati. Harusnya, hasil dari lelang tersebut dititipkan atau melalui proses yang disebut konsinyasi. Sayang uang tersebut tidak pernah sampai pada dirinya.

Setelah itu surat wasiat dari dr Hardi pun datang. Info yang diterima Valen, surat tersebut berbunyi soal pelimpahan perkara kepada istri baru dr Hardi, Lusiana Tanoyo. Namun dia pun juga mempertanyakan apakah mantan suaminya menandatangani surat tersebut. Diyakini bahwa surat tersebut tidak pernah mengatakan soal harta gono-gini yang harus dibayarkan sesuai putusan.

Dalam putusan perceraian dari PN Tuban dengan nomor putusan 25/Pdt.G/ 2013/ Pn.Tbn menyebutkan bahwa terdapat empat aset yang diperoleh selama perkawinan dari kedua pasangan tersebut antara lain: rumah Jl Pahlawan Trip nomor B/6, B/7, B/8, B/27 beserta banyak aset bergerak lainnya. Namun demikian, Valen mengaku tidak menyerahkan semua harta secara sukarela. Terlebih, harta berupa tiga rumah yang kini dilelangkan tersebut dibelikan oleh nenek Gladys dan Gina. Uang pembelian berasal dari menjual tanah milik Valentina di Jl Dieng, Jalan Tambora, Jalan Bandahara dan Jalan Kinibalu.

Kuasa hukum Gladys dan Gina, Hatarto Pakpahan SH membenarkan bahwa pelelangan tersebut tidak disertai dengan pengumuman secara tertulis dan personal. “ (Lelang) langsung di koran, kami melihat ada cacat formil dalam perkara ini,” ucap dia.

Namun demikian, dia menyoroti bahwa dalam putusan perceraian yang ada, hanya ada sita marital atau pembekuan harta supaya tidak berpindah ke pihak ketiga. Dalam perkara ini, dia menyoroti perubahan dari sita marital ke jaminan. Hal itu pun dituliskan dalam putusan.

Dia bersikukuh bahwa pembagian harta gono-gini harus dituliskan dalam amar putusan. Hal ini berkaitan dengan aset mana saja yang akan dibagikan, lengkap dengan batas dan letak pasti. Meskipun dalam pertimbangan dan fakta persidangan telah disebutkan, hal itu supaya menghindari penyerobotan aset milik orang di luar perkara. Selain itu, dalam proses verifikasi lelang harus menyertakan sertifikat aset yang akan dibagikan. Dalam hukum formal juga, ahli waris dari suatu perkara perceraian yang menerima harta “lungsuran” atau warisan biasanya ialah anak dari pasangan tersebut. Dengan demikian tidak ada perubahan dari sertifikat yang sudah dimiliki oleh keduanya, bukan istri baru.

Di lain tempat, kuasa hukum Lusiana, Lardi SH MH mengatakan bahwa dr Hardi telah menunjuk istri barunya yakni Lusiana Tanoyo sebagai ahli waris. Berkaitan dengan sertifikat milik dua anak pasangan tersebut, dia menyebut bahwa ketiga aset tersebut dibeli saat mereka masih di bawah umur dewasa, tidak patut dimasukkan dalam sertifikat. “Kan tidak logis begitu itu,” ucap dia.

Selain itu, dia membantah bahwa Gladys dan Gina tidak menerima surat pengumuman lelang dan eksekusi. Apalagi, keputusan lelang disebut sebagai upaya paksa dari pengadilan dan memiliki dasar hukum dari PN. Hal itupun dirasa cukup untuk tidak meminta persetujuan pemilik aset yang telah ditunjuk.

Selain itu, berkaitan dengan lelang yang dirasakan hanya dilakukan secara sepihak, dia menyebut secara hukum diperkenankan sertifikat tidak diberikan dalam proses verifikasi. Melainkan cukup bermodal surat tanah yang ada di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Malang. Apalagi, dia mengatakan bahwa ada perubahan dari sita marital ke jaminan, hal itu seiring kenaikan perkara dari PN ke MA. “Begitu sampai ke MA, pendapat sudah berubah, dan itu mutlak,” tutup dia. (biy/abm)

 

 

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/