Romo Upacarika Wihara Samaggi Virya, Jalan Telaga Bodas, Kota Malang, Indra Kurniawan mengatakan, Waisak itu momen yang memperingati kelahiran, pencapaian kebuddhaan, dan wafatnya sang Buddha.
Dia mengatakan, Waisak kali ini merupakan tahun kedua yang perayaannya di tengah pandemi. Tentunya, menurut dia, perayaannya sangat berbeda. Salah satunya kuota ibadah yang biasanya menampung banyak orang, namun saat pandemi dibatasi. Sehingga, lainnya merayakannya dengan online. ”Karena kebetulan umat di Wihara Samaggi ini biasanya mengikuti di Wihara Batu,” terangnya.
Dia menyebut, untuk hari ini ada kuota 30 umat yang akan datang ke sana, sedangkan yang lainnya mengikuti secara online. ”Dan itu tidak hanya di Batu, tapi di daerah-daerah lain juga,” ungkap pria berusia 28 tahun itu. Meski secara online, menurut dia, tidak mengurangi esensi dari perayaan Waisak. Namun, perlu diakui, memang akan terasa lebih khidmat jika dilakukan di dalam wihara.
Dia menjelaskan, nama Wihara Samaggi Virya memiliki makna semangat dalam kebersamaan. Artinya, sebagai umat Buddha selain mengedapankan spiritual pelayanan agama, juga berbagi dengan yang lain.
Sementara itu, menjelang Hari Raya Waisak 2565 yang jatuh pada hari ini, Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) melakukan penyemprotan disinfektan di Wihara Vajra Bumi Kertanegara kemarin (25/5). FKAUB yang bekerja sama dengan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan Bhayangkara Community menyemprot ruangan yang akan dilakukan ibadah. ”Jadi komitmen FKAUB Malang untuk terus merawat pluralisme, maka kami memanfaatkan momen hari besar keagamaan untuk mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan,” kata Sekjen FKAUB Pdt David Tobing.
Pdt David berharap, dengan penyemprotan ini, umat Buddha yang hadir bisa beribadah dengan tenang serta ibadah bisa berlangsung dan tidak terganggu apa pun juga. Terlebih, ini menjadi salah satu upaya untuk memutus penyebaran Covid-19 di lingkungan tempat ibadah.
Sedangkan dalam ibadah Waisak hari ini, umat yang datang diatur secara bergiliran untuk menghindari kerumunan. Sedikitnya ada 50 umat Buddha, tetapi hanya dibatasi 15 orang. Agar umat yang lain bisa memiliki kesempatan ibadah yang sama, maka pihak wihara menggelar ibadah ini selama 2-3 hari. (rmc/ulf/ref/c1/abm)
Editor : Ahmad Yani