Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Malang Edythya Ferlani W. mengatakan, saat ini cuacanya masuk musim kemarau. Namun, memang masih terjadi hujan. ”Bahkan masuk dalam kategori lebat, sekitar 50-100 mm dalam per harinya,” bebernya.
Dia memaparkan, dalam 3 hari ini (20-22 Juni) memang menjadi peringatan dini di Jawa Timur. Sebab, ada gangguan di atmosfer yang dapat menyebabkan cuaca ekstrem di Indonesia, termasuk di Kota Malang. Seperti suhu permukaan laut yang menghangat, Madden Julian Oscillation (MJO) atau gelombang Rossby.
Untuk diketahui, MJO merupakan suatu fenomena gelombang atmosfer yang bergerak merambat dari belahan barat (Afrika) ke timur (Samudera Pasifik) dengan periode antara 30 hingga 60 hari. MJO dapat meningkatkan potensi hujan pada daerah yang dilewatinya. Sedangkan gelombang Rossby merupakan gelombang atmosfer yang bergerak ke arah barat di sepanjang wilayah ekuator (20LU- 20LS) dengan periode kurang dari 72 hari. Gelombang Rossby umumnya bisa bertahan 7-10 hari di wilayah Indonesia.
Sehingga, Ferlani menyebutkan, hal itu yang bisa mendukung pertumbuhan awan sehingga terjadi hujan di sebagian daerah. ”Hal itu juga berpotensi pada terjadinya banjir, namun masih di level waspada,” ungkapnya.
Terlebih, turunnya hujan biasanya juga disertai petir dan angin kencang. Namun, hal itu biasa, sesekali di musim kemarau memang terjadi hujan. Meskipun anomali cuaca sudah terjadi pertengahan April 2021 lalu. ”Yang mana juga terjadi masa peralihan (pancaroba) yakni, dari musim hujan ke musim kemarau,” paparnya.
Karenanya, seperti yang disiarkan di press rilis terkait Prakiraan Musim Kemarau 2021, sebelumnya, dia melanjutkan, sudah terjadi potensi hujan lebat dengan durasi singkat, angin kencang, puting beliung, dan potensi hujan es yang biasa terjadi pada periode tersebut. ”Sebab, dalam periode peralihan memang rawan cuaca ekstrem,” imbuhnya.
Kemudian, potensi pertumbuhan awan kumulonimbus (Cb) juga masih perlu diwaspadai di masa pancaroba karena sering terjadi kondisi ekstrem. Dia mengimbau, di masa kemarau ini masyarakat tetap menjaga kesehatan terutama minum air yang cukup karena mudah dehidrasi. ”Biasanya panas dari pagi hingga sore berpeluang terjadinya hujan di malam hari, tetap pantau infonya di media sosial info BMKG untuk antisipasi,” saran dia. (rmc/ulf/c1/abm)
Editor : Ahmad Yani