Secara kuantitatif, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang drg Arbani Mukti Wibowo menuturkan bahwa jumlah balita stunting di Bumi Kanjuruhan saat ini berkisar antara 14 ribu hingga 15 ribu kasus. ”Yang paling banyak ada di Kecamatan Pujon dan Kecamatan Tajinan, meskipun nilainya juga terus menurun belakangan ini,” kata Arbani.
Jika mengacu pada rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) Kabupaten Malang 2021-2026, Pemerintah Kabupaten Malang menargetkan prevalensi stunting bisa turun hingga 1 digit. Beberapa strategi pun disiapkan. Salah satunya dengan mereplikasi program Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM) Flash yang telah di terapkan pada Puskesmas Ampelgading.
Sesuai namanya, program UKM Flash mengedepankan prinsip fast, accurate, integration, and reportable alias kecepatan, akurasi, integrasi, serta pelaporan. Program ini juga telah mendapatkan pengakuan dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi sebagai Top 30 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik) 2021.
”Program ini (UKM Flash) terbukti mampu menurunkan angka stunting hingga 5 persen,” ujar Arbani. Upaya lainnya, yakni melalui program intervensi sensitif. Di antaranya dengan memperbaiki sistem sanitasi dan meningkatkan prevalensiopen defecation free (ODF) atau BAB sembarangan.
Sebelumnya, sebanyak 207 desa yang tersebar di 29 kecamatan di Kabupaten Malang belum berstatus ODF. Dengan demikian, lebih dari separo wilayah di kabupaten yang warganya masih membuang air besar sembarangan.
Arbani menuturkan bahwa akses jamban di Bumi Kanjuruhan sebenarnya sudah mencapai 97 persen.Sementara jika dibandingkan dengan jumlah rumah atau kepala keluarga, tingkat jumlah jamban di kabupaten juga sudah menyentuh angka 80 persen.
Di bagian lain, Pemerintah Kota Batu juga belum bisa menuntaskan problem stunting dalam waktu dekat. Tahun depan, mereka mematok target prevalensi 10 persen.Salah satu caranya dengan meluncurkan g Pos Gizi Penanganan Stunting (POZTING) di Klub Bunga Resort Batu pada (30/11) lalu.
”Nantinya, di lingkunganRW atau desa yang ada kasus stunting, akan dilaksanakan program pemberian gizi dan makanan selama tujuh hari,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu drg Kartika Trisulandari.
Dia menjelaskan, salah satu kendalabelum optimalnya penanganan stunting selama ini, tidak semua balita mengikuti bulan timbang. “Nah ini kita mapping lagi untuk mencari anak-anak biar bisa ikut bulan timbang,”tandasnya. (and/iik/nj7/fat) Editor : Mardi Sampurno