Dia melihat bila kecenderungan masyarakat untuk sembarangan mengunggah informasi dilandasi karena sikap seseorang, yang sering menganggap bila medsos adalah privasi mereka. Di sisi lain, meskipun menjadi sumber informasi tercepat, peristiwa yang dibagikan di medsos juga kerap tidak bisa dibuktikan kebenarannya.
”Karena kalau di media sosial masyarakat tinggal share atau forward tanpa mengecek kebenarannya dulu. Oleh karena itu, PR (pekerjaan rumah)-nya media mainstream sekarang adalah menjadi rujukan masyarakat untuk mengecek,” jelasnya. Demikian pula saat hendak membagikan informasi dalam bentuk foto. Sebelum mengunggah, dia menyebut bila netizen harus mempertimbangkan banyak hal. ”Misalnya saja, foto tentang kasus anak. Harus dihindari menampilkan identitas, tempat tinggal, lingkungan, sekolah, hingga anggota keluarganya,” kata dia.
Ke depan, dia melihat bila sisi edukasi menjadi penting dilakukan instansi-instansi berwenang. Termasuk oleh organisasi kewartawanan. Sebab pada dasarnya tugas wartawan punya banyak fungsi. Selain mengedukasi dan menyebarkan informasi, juga berfungsi sebagai hiburan dan alat kontrol sosial. ”Hal lain yang perlu menjadi bahan edukasi adalah hak cipta foto. Jadi, orang tidak seenaknya mengambil foto untuk kepentingan pribadi dan menyebarluaskannya,” tambah koordinator foto Jawa Pos Radar Malang itu. (adn/rb5/rb6/by) Editor : Mardi Sampurno