MESKI waktu sudah menunjukkan pukul 12.00, Poliklinik Reumatologi Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang masih dipadati oleh pasien. Terlebih sejak kemarin (9/5) pelayanan sudah kembali normal setelah sepekan libur Lebaran.
Jawa Pos Radar Malang mencoba berbincang dengan seorang pasien bernama Feni Sulistyowati. Dia mengaku sedang melakukan pemeriksaan dan dijadwalkan rawat inap karena terdapat masalah pada ginjalnya. ”Saya kena penyakit lupus sejak 2012 sampai sekarang. Namun selama dua tahun terakhir lupus menyerang ginjal saya,” terang ibu satu anak tersebut. Feni mengaku didiagnosis lupus saat masih tinggal di Surabaya. Kala itu, dia merasakan gejala-gejala seperti sariawan, nyeri sendi, rambut rontok, hingga panas dingin seperti terserang penyakit tifus. ”Kalau sedang kambuh, rasanya sendi terasa nyeri dan mau makan juga tidak enak,” sambung wanita berusia 33 tahun itu.
Hidup dengan lupus selama satu dekade membuat Feni harus rutin melakukan pemeriksaan setiap satu bulan sekali ke rumah sakit. Alhasil, dirinya harus menempuh perjalanan selama satu jam setengah ke RSSA karena letak tempat tinggalnya yang sekarang berada di Kalipare, Kabupaten Malang.
Tentu Feni tidak sendiri. Ada ratusan warga Malang dan sekitarnya yang menderita penyakit autoimun kronis tersebut. Menurut penelitian di RSSA, dalam rentang waktu 2014 sampai 2017 ditemukan 300 pasien lupus. Meski tidak ada data pasti, saat ini jumlahnya sudah lebih banyak.
Fakta menyebutkan bahwa jumlah penderita penyakit lupus terus meningkat tiap tahun. Mengutip dari Pusdatin Kementerian Kesehatan RI 2017, ditunjukkan bahwa jumlah penderita penyakit itu sudah menembus 5 juta orang di seluruh dunia. Bahkan mengalami penambahan sekitar 100 ribu pasien setiap tahuh. Hari Lupus Sedunia diperingati setiap 10 Mei untuk membangun kewaspadaan terhadap penyakit ”seribu wajah” tersebut.
Estimasi dokter spesialis penyakit dalam dr Perdana Aditya Rahman SpPD, sepanjang 2020 sampai 2021 peningkatan jumlah pasien lupus hampir mencapai 500 orang. ”Tapi itu bukan hanya dari Malang Raya saja. Ada sebagian dari daerah lain,” ujarnya. Dokter yang akrab disapa Adi ini melanjutkan, lupus atau dikenal juga dengan istilah systemic lupus erythematosus (SLE) merupakan penyakit yang banyak menyerang wanita usia reproduktif (masih menstruasi). Meski begitu, ada pula laki-laki maupun perempuan usia lanjut yang menderita lupus.
Dari data tiga tahun terakhir, di RSSA terdapat kurang dari 10 pasien laki-laki. Lupus terjadi karena antibodi yang umumnya menyerang musuh atau hal yang menjadi penyebab infeksi, justru menyerang organ tubuh sendiri. Misalnya ginjal, darah merah, trombosit, sistem saraf, dan lain sebagainya. Manifestasinya pun beragam. ”Contoh, kalau menyerang persendian yang dirasakan ya nyeri. Umumnya nyeri terjadi saat istirahat, tapi membaik dengan aktivitas. Atau, kalau menyerang ginjal berupa pembengkakan, buang air kecil kemerahan, dan berbuih,” beber Adi.
Untuk itu masyarakat, terutama wanita usia produktif perlu mewaspadai beberapa gejala. Di antaranya gangguan memori dan sindroma fosfolipid yang ditandai dengan keguguran berulang hingga terbentuknya pembekuan darah. Namun, Adi menegaskan tidak ada penyebab tunggal terkait terjadinya penyakit lupus karena faktor risikonya yang beragam. ”Bisa karena pernah infeksi (umumnya infeksi virus, red), genetik, dan lingkungan,” jelasnya. Oleh sebab itu, jika merasakan sesuatu yang tidak beres, Adi menyarankan untuk segera melakukan pemeriksaan sedini mungkin. Dalam pemeriksaan, pasien akan dites menggunakan pemeriksaan ANA (anti-nuclear antibody).
Namun, ada juga tes lainnya, seperti melalui antidsDNA, pemeriksaan komplemen, hingga pemeriksaan antibodi lainnya. ”Tidak ada gaya hidup yang spesifik untuk pencegahan, karena yang mendasari terjadinya lupus adalah terbentuk antibodi terhadap badan kita sendiri. Jadi, badan kita harus mengalami gangguan atau kerusakan dulu seperti infeksi,” imbuhnya. Jika sudah terkena lupus, ada banyak yang perlu diperhatikan, misalnya menghindari paparan sinar matahari berlebihan karena bisa merusak kulit, sehingga terjadi pembentukan antibodi yang meningkat. ”Makanya, orang-orang dengan lupus harus menggunakan tabir surya. Kemudian, tidak boleh merokok dan stress,” ujarnya.
Kalau aktivitas fisik, lanjut Adi, tentu masih dianjurkan asalkan tidak terlalu berat dan masih mampu dilakukan. Kalau untuk makanan masih aman-aman saja. Kecuali jika lupus menyerang organ-organ seperti ginjal, paruparu, atau jantung. Maka harus menjaga asupan makanan sesuai sesuai dengan penyakitnya. Permasalahan lain yang dialami penderita lupus adalah kehamila. Sebab, kehamilan bisa menyebabkan lupus kambuh. Oleh sebab itu, perempuan pengidap lupus baru diperbolehkan hamil jika penyakitnya sudah terkontrol selama sekitar 6 hingga 12 bulan, tergantung berat ringannya penyakit.
Selain pada orang dewasa, saat ini tren lupus juga ditemukan pada anak-anak, terutama yang berusia 10 hingga 18 tahun. Kebanyakan terjadi pada anak atau remaja perempuan. “Sampai tahun ini, di RSSA tercatat 52 pasien anak. Tapi ada beberapa yang berusia di atas 18 tahun sudah pindah ke Poliklinik Reumatologi dewasa,” sebut Staf Divisi Alergi Imunologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya/RSSA dr Desy Wulandari SpA.
Manifestasi lupus pada anakanak sebagian besar sama dengan pasien lupus dewasa. Jika pada anak, orang tua perlu mewaspadai beberapa gejala. Seperti demam tanpa penyebab yang jelas, pucat, memiliki riwayat transfusi darah berulang, mudah lelah, terdapat ruam di wajah berbentuk seperti sayap kupu-kupu, dan banyak lainnya. ”Untuk penanganan lupus pada anak, dokter akan memberikan obat-obatan. Dan yang perlu dilakukan pasien adalah minum obat, kontrol rutin, menghindari paparan sinar matahari, mengelola stress, istirahat cukup, olahraga ringan, dan tentunya dukungan keluarga,” tandasnya. (mel/fat) Editor : Mardi Sampurno