Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kampung Pecinan Lahir dari Kebijakan Belanda

Mardi Sampurno • Rabu, 7 Desember 2022 | 20:36 WIB
BERGAYA TIONGHOA: Bentuk gerbang di Jalan Kyai Tamin, Kecamatan Klojen mirip dengan desain lama. Foto kiri, gerbang di Jalan Halmahera (sekarang Jalan Pasar Besar) tahun 1940 kini sudah tidak ada. - Darmono/ Radar Malang
BERGAYA TIONGHOA: Bentuk gerbang di Jalan Kyai Tamin, Kecamatan Klojen mirip dengan desain lama. Foto kiri, gerbang di Jalan Halmahera (sekarang Jalan Pasar Besar) tahun 1940 kini sudah tidak ada. - Darmono/ Radar Malang
Jejak Nama Kampung-Kampung yang Unik di Malang Raya (3)

Warga keturunan Tionghoa sudah berada di Malang sejak zaman Kerajaan Singhasari, jauh sebelum Pemerintah Kolonial Belanda menguasai Indonesia. Permukiman mereka sempat berpindah-pindah. Hingga akhirnya terpusat di kawasan Pecinan, di Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen.

Jawaban sama terlontar dari delapan warga keturunan Tionghoa yang ditemui Jawa Pos Radar Malang, beberapa waktu lalu. Ketika ditanya kenapa kampung mereka disebut Pecinan, mereka sama-sama menjawab dengan kalimat ini: karena banyak warga Cina-nya.

Dari analisis koran ini, istilah Pecinan awalnya lahir dari kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda. Yakni kebijakan Passenstelsel dan Wijkenstelsel. Itu disampaikan Suryadinata dalam bukunya yang berjudul ’Peranakan’. Passenstensel adalah kebijakan yang melarang warga Tionghoa keluar dari Ghetto (dalam Bahasa Inggris disebut Chinatown). Kebijakan itu awalnya berlaku di tahun 1816. Lalu, di tahun 1843 ada kebijakan Wijkenstelsel, yang juga memaksa orang keturunan Tionghoa agar tinggal di Ghetto.

Selain karena konflik Cina dan Vereenigde Oost-indische Compagnie (VOC) yang meluas pada abad ke-17, dua kebijakan itu juga diberlakukan untuk menjamin kukuhnya bisnis narkoba bagi pemerintah kolonial. Sebab, bisnis itu menyumbang keuntungan tinggi bagi mereka. Klaim soal itu disampaikan James R. Rush dalam bukunya yang berjudul ’Opium to Java’.Akibat dua kebijakan itu, akhirnya muncul beberapa komunitas di masyarakat. Seperti Kampung Cina dan Kampung Arab. Meski begitu, pada akhirnya dua kebijakan itu dicabut di tahun 1918.

Sama seperti daerah lainnya, kemunculan kawasan Pecinan tidak lepas dari sejarah kehadiran orang Cina di Kota Malang. Diperkirakan orang-orang Cina sudah ada sejak zaman Kerajaan Singhasari. Itu disampaikan Seniman Bambang AW. Bambang sendiri sudah belasan tahun meneliti lintas sejarah Etnis Cina di Malang.

Dia mengungkapkan, mulanya di wilayah Kerajaan Singhasari ada empat ras. Yakni Jawa, Cina, Mongol, dan Keling. Ada beberapa buktinya. Seperti tersebarnya Agama HinduBuddha, terjadinya aktivitas perdagangan, hingga sisa tentara Mongol selama perang Majapahit. Singkat cerita, keempat ras itu kemudian pindah ke daerah Gubugklakah, Poncokusumo.

Keberadaan mereka dibuktikan melalui keberadaan Prasasti Pabanyolan, uang kepeng, dan keramik Cina yang ditemukan di ladang milik warga. Warga muslim diketahui juga mengikuti mereka ke Gubugklakah. Selanjutnya, tiga ras yang terdiri dari Jawa, Keling, dan Mongol berpindah ke Desa Ngadas, Poncokusumo. Alasannya karena mereka percaya bila dewa ada di puncak gunung. ”Orang Cina, karena bukan penganut Hindu-Buddha tidak naik ke atas, tapi turun ke bawah.

Mereka berhenti di Tumpang, lalu menandai diri dengan menanam pohon kelengkeng,” kata Bambang. Dari Tumpang mereka terus bergerak turun. Mulai ke Kedungkandang, Kuthobedah, hingga akhirnya tiba di tempat yang sekarang dikenal dengan Pecinan. Pemilihan tempat singgah juga tidak sembarangan. Misalnya saja saat memutuskan menuju Kuthobedah. Menurut Bambang, Kuthobedah dipilih karena memenuhi persyaratan Hong sui orang China.

Di dalam Hong sui terdapat moto yang disebut San sui. Yang artinya bersandar pada gunung, menatap air sebagai sumber kehidupan. Moto itu sejalan dengan kondisi Kuthobedah yang dulu terletak di lereng Gunung Buring, dengan sumber air dari Kali Amprong serta Kali Brantas. ”Dulu, kawasan Pecinan itu luas. Mulai dari Kebalen, Kotalama, berputar sampai Comboran, lalu masuk ke Jagalan hingga ke Pecinan,” papar penulis prosa liris berjudul Babad Toempang itu. Ditanya ciri khas yang membedakan Pecinan di Kota Malang dengan daerah lain, Bambang lantas menyebut faktor budaya.

Jejak Bangunan Era Kolonial Masih Terjaga Sebelum kemerdekaan,

Kota Malang merupakan daerah yang digemari warga Belanda. Selain Kota Malang, ada Kota Bandung yang juga disenangi warga Belanda. Di Pecinan, salah satu pengaruh Belanda yang masih terlihat yakni bangunan Toko Madjoe. Toko itu terletak di Jalan Pasar Besar nomor 30 B. Mereka menjual aneka kue kering seperti kastengel. Koran ini sempat berkunjung ke Toko Madjoe. Saat itu, yang berjaga bernama Lini. Perempuan berusia 75 tahun itu merupakan keponakan Wiliono, pemilik toko. Lini mengungkapkan jika Toko Madjoe sudah ada sejak tahun 1930-an. Selain Toko Madjoe, ada beberapa toko yang sudah berdiri cukup lama.

Seperti Toko Raya, Toko Maju, Toko Diamond, Toko Tio, Toko Jaya, Toko Mas Raharjo, hingga Toko Papinya. Koran ini kemudian menggali keterangan ke Toko Papinya, yang terletak di depan Toko Madjoe. Paulus, pemilik toko itu, mengaku sudah hijrah ke Jalan Pasar Besar nomor 21 di tahun 1953. Dia merupakan generasi ketiga di keluarganya. Pria berusia 75 tahun itu mengisahkan, dulu di Pecinan terdapat beberapa suku. Di antaranya suku Hok Ciu, Hokkian, Khek/Hakka, Hing Hua, Kwantung, dan suku Hupri.

Setiap suku punya ciri khas masing-masing. Misalnya saja Hakka, yang mendominasi aktivitas perdagangan di sana. Namun, seiring perkembangan zaman, semua masyarakat akhirnya saling berbaur. Demikian pula dalam beragama. Meski begitu, kegiatan kebudayaan di Pecinan tetap terpusat di Klenteng Eng An Kiong. ”Sekarang semuanya banyak berubah. Kalau dulu saling kenal. Selain sering berinteraksi, di setiap rumah juga tembus karena ada pintu penghubung,” sebut anak sulung dari tiga bersaudara itu. Pemaparan Paulus soal pintu penghubung di setiap rumah itu diperkuat pernyataan dari Bonsu Bintarto, Rohaniwan Konghucu Klenteng Eng An Kiong.

Bintarto mengatakan, meskipun besar di Jalan Mergosono, dia memiliki keluarga di Pecinan timur yang tinggal hingga tahun 1980. Bintarto ingat, bentuk bangunan rumah Etnis Tionghoa khas dengan atap melengkung. Kemudian, terdapat pintu yang menghubungkan pintu antar rumah di kawasan Pecinan. Gunanya, agar saat terjadi bahaya, seperti serangan udara dari Belanda, masyarakat bisa diamankan ke satu rumah besar (kini menjadi Guest House Lily dan area pertokoan di Jalan Pecinan Square).

”Dulu, di depan Pasar Besar juga ada pangkalan dokar. Seiring dengan perkembangan zaman, ada bemo roda tiga. Kalau bangunan lama yang tersisa ya Museum Bentoel,” kata Bintarto. Selain itu, yang masih kokoh berdiri adalah gerbang besar di Jalan Halmahera dan Klenteng Eng An Kiong. Saat ini, warga keturunan Tionghoa di Kampung Pecinan sudah berbaur dengan masyarakat lain. Lurah Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen Januar Agung Rizaldhi turut memastikannya.

Dikutip dari buku Kotapradja Malang 50 Tahun, pada tahun 1949 jumlah penduduk Asing Asia, termasuk Etnis Tionghoa, ada sekitar 30.531 orang. Namun, kini total seluruh penduduk di Kelurahan Sukoharjo, yang di dalamnya terdapat Etnis Tionghoa di Kampung Pecinan, berjumlah 7.488 jiwa, Kawasan yang masih banyak warga keturunan Tionghoa yakni RW 3, RW 5, dan sebagian di RW 4.

”Pembauran masyarakat ini tampak dari karnaval yang digelar RW 4 beberapa waktu lalu. Mereka menggandeng anakanak muda dan Etnis Tionghoa untuk pertunjukan barongsai,” terang Januar, Lurah Sukoharjo. Ke depan, Pemkot Malang juga punya rencana untuk mengembangkan Pecinan layaknya di Kota Surabaya. Rencananya, ke depan akan ada tempat jalan santai hingga kawasan pedagang makanan dan minuman. Namun, Januar belum bisa memastikan kapan pastinya program itu bakal terlaksana. (*/by) Editor : Mardi Sampurno
#kampung kampung malang #keturunan tionghoa #kerajaan singhasari