Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dari Hutan Sonokeling, Muncul Kampung Sanan

Mardi Sampurno • Kamis, 15 Desember 2022 | 20:41 WIB
IKON KOTA: Kampung Sanan sudah terkenal menjadi  pusat produksi tempe dan keripik tempe sejak dulu.
IKON KOTA: Kampung Sanan sudah terkenal menjadi pusat produksi tempe dan keripik tempe sejak dulu.
Jejak Nama Kampung-Kampung yang Unik di Malang Raya (11)

Tiap tahun, sejarah berdirinya Kampung Sanan diceritakan dalam bentuk pertunjukan. Mengisahkan leluhur kampung bernama Mbah Buyut Chabibah yang sedang membuka permukiman. Lahan yang semula berupa hutan Sonokeling berubah menjadi kampung bernama Sanan. Dari Hutan Sonokeling, Muncul Kampung Sanan.

PADA gelaran Festival Tempe Sanan 26 November lalu, kisah babat alas itu kembali ditampilkan dalam bentuk drama selama 20 menit. Drama itu menceritakan Buyut Chabibah yang sedang membabat pohon-pohon sonokeling di hutan belantara. Banyak makhluk halus penghuni hutan yang berusaha menghalangi.

Setelah melewati serangkaian ”pertempuran”, Buyut Kabibah yang ditemani suaminya keluar sebagai pemenang

Makhluk halus itu pun pergi dari hutan, sehingga Buyut Chabibah leluasa membangun permukiman.

Drama itu disaksikan antusias oleh pengunjung yang rata- rata merupakan warga Kampung Sanan sendiri. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Menjadikan cerita tersebut terjaga hingga generasi sekarang.

Kini, Kampung Sanan yang secara administratif masuk wilayah Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, lebih dikenal sebagai produsen tempe. Namun kisah babat alas dan penamaan kampung yang berasal dari pohon Sonokeling itu tak pernah dilupakan.

Seperti yang dituturkan Ketua Paguyuban Tempe Sanan Moch. Arif Sofyan Hadi kepada Jawa Pos Radar Malang. ”Kampung Sanan awalnya merupakan hutan yang banyak ditumbuhi pohon Sono Keling. Orang dulu mengucapkan kata ’sono’ agak kaku. Lebih enak Sanan,” terang pria berusia 52 tahun tersebut.

Sejarah mengenai Buyut Chabibah yang disebut-sebut sebagai orang alim dari Pasuruan itu juga diperkuat keberadaan makam di tengah kampung. Setiap warga yang akan mengadakan hajatan pasti berpamitan atau berdoa dulu ke makam Buyut Chabibah. Ada keyakinan bahwa Buyut Khabibah masih terus menjaga Kampung Sanan.

”Saat ada musibah di Sanan, masyarakat percaya Buyut Chabibah sedang pergi dari kampung,” imbuh Komariah, warga Kampung Sanan yang kini berusia 63 tahun. Begitu juga dengan industri tempe di Kampung Sanan yang menjadi salah satu ikon Kota Malang. Masyarakat sekitar percaya bahwa hal tersebut tidak lepas dari berkah Buyut Chabibah.

Jejak hutan sonokeling sebagai cikal-bakal Kampung Sanan juga dituturkan Zainul Kafi. Dia pertama kali datang ke Sanan sekitar 36 tahun lalu. Saat itu permukiman di Kampung Sanan tidak terlalu luas. Diperkirakan hanya separo dari luas permukiman saat ini. ”Pertama saya satang ke Sanan masih banyak lahan yang dipenuhi pohon sonokeling. Masih seperti hutan,” terang pria yang rumahnya tepat berada di depan kantor Koperasi Tempe Sanan itu.

Zainul juga masih ingat bahwa Sanan pernah terkenal memiliki banyak pendekar silat. Saat ada acara Pencak Dor (pertandingan), pesilat dari wilayah lain selalu gentar jika berhadapan dengan orang dari Sanan. Apalagi pendekar Sanan zaman dulu banyak yang memiliki kesaktian tahan senjata tajam.

”Istilahnya kebal bacok. Tapi karena banyak yang memanfaatkan ilmu itu untuk hal yang tidak baik, jadi tidak diturunkan ke generasi sekarang,” imbuhnya.

Banyak Santri Pegiat Sejarah Kota Malang Suwardono menjelaskan, Sanan sebenarnya tidak hanya dipakai untuk menamai salah satu kampung di Kota Malang. Istilah itu juga banyak digunakan menjadi nama kampung di wilayah lain. Itu bisa terjadi karena orang zaman dulu sering memberi nama wilayah berdasar pohon yang banyak ditemui di tempat itu.

Suwardono juga mengungkapkan, dulu Sanan merupakan kampung kecil di belakang penjara (lembaga pemasyarakatan). Kehidupan masyarakatnya terbilang dinamis. Pernah dikenal sebagai tempat orang-orang nakal yang suka mengganggu orang lain. Namun pada saat yang sama banyak tokoh agama dari Sanan.

Sanan sebagai kampung yang religius juga diungkapkan Ketua RW 15 Kelurahan Purwantoro Irfan Kuncoro. Menurutnya, kebanyakan warga Kampung Sanan merupakan santri atau orang yang pernah menimba ilmu agama di pesantren. ”Di Kampung Sanan ada satu pondok pesantren. Perkiraan saya hampir 40 persen warga Sanan pernah belajar di pesantren,” ujarnya.

Budaya santri di Kampung Sanan tak lepas dari catatan sejarah penyebaran agama Islam oleh tokoh-tokoh agama dari Pasuruan. Dalam buku Wanwacarita Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang, disebutkan bahwa kawasan Malang pada ere 1686-1706 berada di bawah kekuasaan Untung Suropati. Sosok yang juga tercatat sebagai pahlawan nasional itu pernah menjadi adipati di daerah Pasuruan dengan gelar Wiranegara. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno
#Kampung Sanan #kampung unik #malang #Sejarah Kampung Sanan