Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sampah di Malang 2.208 Ton Sehari, Perlu Tambah TPA

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Rabu, 31 Mei 2023 | 19:00 WIB
KELOLA : Pemilahan sampah di TPA Supit Urang Kota Malang. (Suharto/Radar Malang)
KELOLA : Pemilahan sampah di TPA Supit Urang Kota Malang. (Suharto/Radar Malang)

MALANG RAYA - Pasca pandemi Covid-19, produksi sampah di Malang Raya tampak meningkat.

Itu bisa dilihat dari rekapitulasi di tiga Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tiga daerah.

Bila ditotal, produksi sampah pada 2023 ini mencapai 2.208 ton per hari.

Jumlah tersebut mencakup tiga daerah. Paling banyak dari Kabupaten Malang.

Disusul Kota Malang, kemudian Kota Batu.

Pada 2021 lalu, produksi sampah di Malang Raya masih berada di angka 1.876 ton.

Jumlahnya meningkat pada 2022, mencapai 2.005 ton per hari.

Lokasi TPA itu akan dekat dengan Jalur Lintas Selatan (JLS).

Dan, diharapkan bisa menampung sampah-sampah dari aktivitas wisata di Malang selatan.

Sementara, TPA yang sudah ada, seperti TPA Talangagung akan dijadikan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

”Kalau sudah penuh kan nanti ditutup dan ditanami pohon,” imbuh Renung. Sebab, RTH di Kabupaten Malang masih cukup minim.

Kota Malang Kekurangan TPS dan Truk Sampah

Jumlah sampah yang diproduksi di Kota Malang juga meningkat dalam tiga tahun terakhir.

Jika dipersentase, peningkatan dari 2022 ke tahun ini mencapai 25 persen.

Kepala DLH Kota Malang Noer Rahman Wijaya menuturkan, dari 880 ton sampah yang diproduksi tiap hari, ada 24 persen yang berhasil dipilah di Tempat Pengelolaan Sampah (TPS).

Sisanya, sekitar 540 ton dikirim ke TPA Supit Urang.

”Sampah yang bisa didaur ulang rata-rata di TPA ada 400 ton. Sisanya sekitar 140 ton sampah menumpuk,” terang Rahman. Dengan kondisi itu, diperkirakan umur TPA Supit Urang tinggal tiga tahun lagi, atau sampai 2025.

Untuk itu, Rahman menuturkan bila pihaknya bakal melakukan beberapa upaya untuk menambah umur TPA.

Pertama, mengoptimalkan metode sanitary landfill.

Dengan metode itu, sampah yang belum didaur ulang akan ditumpuk di sebuah cekungan.

Kemudian ditimbun dengan tanah.

Setelah itu akan dipadatkan, lalu dilapisi dengan tanah lagi yang lebih tipis.

”Dengan metode itu, tingkat kejenuhan (overload), bisa digeser sampai lima atau enam tahun,” tuturnya.

Rahman menambahkan, TPA Supit Urang kini juga dilengkapi dengan teknologi tambahan.

Dua teknologi itu yakni pirolisis dan RDF sebagai pengganti insinerator.

Pirolisis pada dasarnya sama dengan insinerator atau media pembakaran sampah.

Namun media yang dipakai tidak sampai membuang emisi gas terlalu banyak.

”Hasilnya nanti seperti air lindi, bisa menjadi pupuk cair,” terangnya.

Lebih lanjut, pejabat eselon II Pemkot Malang itu menuturkan, selain volume sampah yang meningkat, ada beberapa permasalahan lain di Kota Malang.

Yakni kurangnya jumlah TPS. Itu membuat timbunan sampah liar di beberapa ruas jalan.

”Idealnya satu kelurahan satu TPS. Dengan jumlah saat ini 37 TPS publik, artinya kurang 20-an,” bebernya.

Masalah lain terkait penanganan sampah yakni kurangnya armada truk pengangkut sampah.

Saat ini, DLH Kota Malang hanya mempunyai 44 truk pengangkut sampah.

Namun 25 unit di antaranya dalam kondisi kurang baik, sehingga kinerjanya kurang maksimal.

”Tahun ini ada tambahan empat armada truk, idealnya bisa sampai 100 unit. Agar pengangkutan sampah dari TPS ke TPA bisa semakin cepat,” tambah Rahman.

September 2024, TPA Tlekung Over Kapasitas

Di tempat lain, Kepala DLH Kota Batu Aries Setiawan mengatakan bila sampah yang ada di wilayahnya kebanyakan berasal dari rumah tangga dan aktivitas wisata.

”Batu ini kan Kota Wisata. Jadi, sampah wisatawan, baik dari tempat wisata, hotel, dan rumah makan memang cukup besar,” jelasnya.

Untuk mengatasi itu, keberadaan TPA Tlekung terus dimaksimalkan.

Di sana, diterapkan sistem controlled landfill.

Yaitu, hamparan sampah yang ada di TPA Tlekung akan ditutupi dengan tanah secara periodik.

”Tujuannya untuk meminimalisir bau sampah dari TPA Tlekung menyebar ke kawasan di sekitarnya,” kata Aries.

Dia juga menyebut bila pihaknya rutin melakukan penyemprotan eco enzyme di sana.

Kabid Pengelolaan Persampahan dan Pengelolaan Limbah B3 DLH Kota Batu Vardian Budi Santoso menambahkan, luas TPA Tlekung Kota Batu mencapai 5,1 hektare.

Sedangkan, luas sel aktifnya mencapai 1 hektare.

Dengan terus bertambahnya sampah di Kota Batu, pihaknya memprediksi TPA Tlekung akan over kapasitas pada September 2024.

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#TPA #sampah di malang