MALANG KOTA - Sepanjang jalan di kawasan Kajoetangan Heritage dipenuhi oleh ribuan sepeda onthel, kemarin pagi (9/7). Ribuan sepeda itu ditunggangi para pesepeda dari Komunitas Sepeda Onthel Indonesia (Kosti). Mereka menggelar karnaval bertajuk Semarak Sepeda Onthel Nusantara (Sowan) 2023 tingkat internasional.
Tak hanya melintas di Kajoetangan Heritage, para pesepeda juga berkeliling ke beberapa lokasi. Titik kumpul berada di Dodikjur V Rindam Brawijaya. Mereka kemudian bersepeda ke Jalan Hamid Rusdi dilanjutkan ke Jalan Bengawan Solo, Jalan Karya Timur, Jalan LA Sucipto, Jalan Letjend S Parman, Jalan Arjuno, Jalan Kawi, Kajoetangan Heritage, Jalan Tugu, Jalan Padjajaran, Jalan Patimura, dan kembali ke lokasi awal.
Sekjen DPP Kosti Pusat Captain Irmanov mengatakan, ajang karnaval itu menjadi yang pertama kali diadakan mereka. Sebelumnya, ajang yang cukup besar yakni Jambore Onthel Nasional (JON). ”Bedanya, Sowan mengusung budaya daerah. Makanya tadi ada pesepeda yang menggunakan baju dari daerah masing-masing seperti baju adat Jawa Timur,” kata dia.
Irmanov menyebut, total ada 5.000 pesepeda yang ikut dalam karnaval kemarin. Mereka datang dari berbagai daerah. Mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, NTB, hingga Sumatra. ”Selain gowes, Sowan juga dimeriahkan dengan pameran sepeda onthel antik yang bertempat di Dokdikjur,” lanjutnya. Ada pula bursa barang antik dan onderdil sepeda onthel di sana.
Salah seorang partisipan yang terkenal dengan sapaan Agus Malang membawa 21 dari 31 koleksi sepeda onthel miliknya. Dua di antaranya dibeli Agus dengan harga selangit. ”Dalam ajang ini saya membawa koleksi saya. Yang termahal merk Spalding Chainles USA 1895. Dulu saya beli dengan harga Rp 100 juta,” kata dia.
Kemudian, ada satu unit sepeda lagi yang memiliki harga Rp 80 juta, yakni sepeda Fongers BDG 3 Belanda tahun 1902. Lewat ajang Sowan, Agus juga ingin mengedukasi masyarakat tentang sepeda onthel. Sebagai contoh, sepeda merk Spalding merupakan produksi Amerika. ”Uniknya sepeda ini tidak pakai rantai, tapi gardan. Lalu velg-nya dari kayu dan barangnya juga masih utuh. Di Indonesia sudah tidak ada sepedanya. Saya dapat dari teman,” jelas pria yang sudah jadi kolektor sepeda sejak SMA tersebut. (mel/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana