MALANG KOTA – Terik matahari di langit Malang Maya diprediksi terus terjadi hingga beberapa bulan ke depan.
Itu karena musim kemarau sudah dimulai pada bulan ini.
Meski demikian, hujan masih berpeluang terjadi pada sore hari ada meski dengan intensitas yang rendah.
Hal itu mengakibatkan udara terasa lebih lembap, dan tubuh merasakan sensasi yang lebih panas.
Baca Juga: Hujan Satu Jam, 16 Ruas Jalan di Kota Malang Tergenang
Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Malang Andang Kurniawan menyebutkan Malang Raya mulai memasuki musim kemarau pada Mei ini.
Awan cenderung berkurang.
Namun kelembapan udara masih relatif tinggi.
”Badan akan lebih sering merasa gerah,” kata dia.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dia menyebut musim kemarau tahun ini berpotensi tidak tegas.
Hal itu disebabkan adanya El Nino yang kemudian disusul La Nina.
El Nino merupakan pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik di atas kondisi normal.
Fenomena tersebut akan meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudra Pasifik dan mengurangi curah hujan di wilayah sekitarnya, termasuk Indonesia.
Sedangkan La Nina merupakan kebalikannya, yakni pendinginan suhu muka laut di Samudra Pasifik dan mengurangi pertumbuhan awan di atasnya.
Dampaknya adalah meningkatkan curah hujan di kawasan Indonesia.
”Sehingga kelembapannya tinggi,” imbuhnya.
Dalam kondisi kelembapan tinggi seperti saat ini potensi, Andang mengatakan bahwa Demam Berdarah Dengue (DBD) patut diwaspadai.
Dia mengimbau masyarakat terus menjaga asupan nutrisi dan mengonsumsi vitamin yang cukup.
Karena dalam kondisi perubahan cuaca, daya tahan tubuh yang menurun akan rentan terkena virus.
Baca Juga: Ramalan Cuaca BMKG di Malang Hari Ini, Mendung Tanpo Udan, Terik Terpanas 28 Derajat Pukul 11.00 WIB
”Masyarakat harus terus menjaga asupan nutrisi agar daya tahan tubuh terjaga,” terangnya.
Selain itu, Andang mengingatkan pentingnya 3M.
Yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat-tempat penampungan air, dan mendaur ulang berbagai barang yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat berkembang biak nyamuk aedes aegypti yang membawa virus DBD pada manusia. (dur/fat).
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana