Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

More Than Newspaper

Tauhid Wijaya • Senin, 20 Mei 2024 | 18:29 WIB
Oleh Tauhid Wijaya, Direktur JP Radar Malang
Oleh Tauhid Wijaya, Direktur JP Radar Malang

AWALNYA adalah otonomi.

Desentralisasi.

Yang menjadi semangat perubahan zaman pada masa itu.

Seiring dengan gerakan reformasi 1998 yang mengoreksi kebijakan negeri yang Jakartasentris.

Jawa Pos sebagai koran nasional yang terbit dari Jawa Timur lalu menyambutnya dengan mendirikan koran-koran lokal pada 1999: Radar.

Singkatan dari “berita daerah”.

Radar Malang adalah salah satunya.

Untuk meng-cover berbagai peristiwa yang terjadi di wilayah Malang Raya.

Mengawal pelaksanaan otonomi daerah yang sudah menjadi tuntutan.

Maka, spirit reformasi dan otonomi menjadi tidak bisa dilepaskan dari koran ini.

Lokalitas adalah cirinya.

Bahkan hiperlokal.

Sebuah ciri yang dengan setia terus dipertahankan hingga seperempat abad kemudian.

Yakni, ketika dunia semakin tunggang langgang, sebagaimana istilah yang digunakan Anthony Giddens (1999), dan manusia terengah-engah untuk mengejarnya.

Lokalitas menjadi semakin penting justru ketika dunia mengalami globalisasi.

Sebab, globalisasi membuat dunia menjadi datar. Batas wilayah kenegaraan seolah hilang.

Di situ, pertemuan, pertukaran, bahkan pertarungan antarkepentingan dan antarkebudayaan semakin jamak terjadi.

Mereka yang tidak punya identitas kuat akan hilang.

Melebur dalam identitas global.

Globalisasi memang membuka lebar peluang terjadinya penyeragaman oleh mereka yang paling kuat dan menjadi pemenang.

Contoh terbaik saat ini atas kesadaran identitas lokal adalah Korea (Selatan).

Lewat K-Pop-nya, mereka bisa membuat warga dunia tergila-gila pada semua hal yang berbau Korea.

Lalu, bersedia membeli apa saja yang diproduksi oleh mereka.

Korea pun menjadi salah satu pemain terbesar dalam globalisasi.

Bagaimana dengan otonomi?

Itu adalah jalan untuk peneguhan identitas lokal di daerah.

Lewat keunggulan komparatif masing-masing.

Apalagi ketika teknologi informasi berkembang begitu cepat dan semakin menghapuskan batas-batas wilayah.

Jika tak punya identitas lokal yang kuat, sebuah daerah bisa hilang tertimbun oleh miliaran sampah digital yang memenuhi ruang maya dalam kehidupan sehari-hari warga.

Koran ini dimaksudkan untuk mengawal peneguhan-peneguhan itu.

Khususnya di Malang Raya.

Dan, tentu saja, dengan jurnalismenya yang terus dipegang erat pula.

Dalam medium apa pun: cetak maupun digital.

Jurnalisme inilah yang diharapkan bisa menyelamatkan ketika kehidupan kita dipenuhi dengan sampah digital.

Ketika hoaks begitu mudah diproduksi oleh siapa saja dan kapan saja.

Ketika hal-hal di luar “nurul” banyak membuat orang tak habis “fikri”.

Ketika orang hanya mau percaya pada informasi yang dia suka.

Ketika kepakaran, seperti kata Tom Nichols (2017), semakin tidak ada harganya bahkan mati.

Ketika internet, seperti kata Jamie Bartlett (2018), justru menghancurkan demokrasi.

Jurnalisme harus mampu mewarnai semua medium penyebaran informasi.

Sebab, dalam jurnalisme, secepat apa pun informasi disebarkan, harus tetap melalui mekanisme verifikasi.

Pengujian kebenaran.

Alih-alih kebohongan, dalam jurnalisme, hanya informasi yang telah terverifikasi kebenarannya yang boleh disebarkan.

Menuju usianya yang ke-25, Jawa Pos Radar Malang memang bukan lagi sekadar koran cetak.

Ia sudah berkembang menjadi media multiplatform.

Cetak iya.

Digital juga iya.

Ditunjang dengan berbagai event yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dengan masyarakat secara langsung.

Tahun ini website bahkan sudah berkembang menjadi dua.

Bukan hanya radarmalang.jawapos.com, tapi juga radarbatu.jawapos.com dengan pageview keduanya yang sudah hampir mencapai satu juta.

Kami berharap angka itu bisa terlampaui pada tahun ini.

Ditambah berbagai platform media sosial (Twitter/X, Instagram, Tiktok, Facebook, dan Youtube), daya jangkau berita/konten yang kami produksi dipastikan lebih luas.

Berita/konten yang tetap mengutamakan ciri lokalitas.

Berita/konten yang tetap mengikuti kaidah jurnalistik.

Bagi pelanggan dan pembaca koran cetak Jawa Pos Radar Malang, tentu saja kami sangat berterima kasih atas kesetiaannya selama ini.

Dan, karena itu, bersamaan dengan ulang tahun ke-75 Jawa Pos, 1 Juli nanti, ada hadiah mobil, motor, dan aneka produk lainnya yang bisa diperebutkan dalam program undian pelanggan dan pembaca setia.

Bagi pembaca di platform digital, kami juga berterima kasih telah memilih untuk mengonsumsi berita-berita dari kanal kami.

Banyak dari mereka yang bilang, “Kami harus baca Radar Malang untuk memastikan kebenaran sebuah informasi yang terjadi di Malang.”

Bagi pemerintah, kolega, klien, dan seluruh pemangku kepentingan, kami pun berterima kasih karena telah menaruh kepercayaannya kepada kami selama ini.

Semua itu semakin mempertebal keyakinan kami bahwa koran (yang mampu beradaptasi) tidak akan mati. 

Cetak, digital, event.

Dengan berbagai platform itulah kami ingin terus membersamai jalannya otonomi di Malang Raya.

Otonomi yang membuka ruang bagi ide-ide kreatif dan inovatif dari berbagai pemangku kepentingan.

Pemerintah.

Pebisnis.

Akademisi.

Seniman.

Olahragawan.

Juga rakyat biasa.

Agar berbagai keunikan dan keunggulan di lokal Malang Raya bisa menasional bahkan mengglobal.

Kami, bukan lagi sekadar koran.

Tapi, more than newspaper.

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#hut ke 25 radar malang #koran #radar malang