MALANG RAYA - Tiap tahun terjadi kasus bunuh diri di Malang Raya.
Angka kasus bunuh diri di Malang Raya tak bisa diremehkan.
Korbannya pun berasal dari berbagai usia di Malang Raya.
Butuh upaya pencegahan yang menyeluruh agar kasus serupa tidak terus bertambah.
Misalnya di Kabupaten Malang.
Angka bunuh diri selama tiga tahun terakhir mencapai 40 kasus.
Rinciannya, 11 kasus pada 2022, kemudian meningkat menjadi 15 kasus pada 2023, sementara tahun ini (sampai Oktober) sudah terdata 14 kasus.
Dari sisi jenis kelamin, mayoritas korban adalah laki-laki, yakni 33 kasus sepanjang tiga tahun terakhir.
Mereka mengakhiri hidup dengan berbagai cara.
Mulai dari gantung diri, meminum obat keras, menabrakkan diri di kereta api, hingga memutus nadi dengan pisau.
Sedangkan korban perempuan selama tiga tahun terakhir berjumlah tujuh orang.
”Dari keseluruhan kasus itu, tergambar pola mayoritas motif korban mengakhiri hidup karena masalah ekonomi, sakit yang menahun, hingga depresi,” ujar Kabag Ops Satreskrim Polres Malang AKP Dicka Hermantara.
Jika dipetakan lebih rinci, motif-motif itu bergantung pada usia korban saat memutuskan mengakhiri hidup.
Misalnya pada korban berusia muda.
Rata-rata penyebabnya adalah depresi.
Sedangkan pada korban yang lanjut usia, mayoritas disebabkan sakit menahun.
Yang juga perlu menjadi perhatian, angka kasus bunuh diri di Kabupaten Malang cenderung meningkat.
Tertinggi memang pada 2023 lalu yang mencapai 15 kasus.
Namun, angka kasus tahun ini juga mengkhawatirkan.
Hingga Oktober sudah 14 kasus, dan bukan tidak mungkin bisa bertambah.
Kasus terakhir terjadi di Kecamatan Bululawang.
Seorang remaja perempuan berusia 14 tahun ditemukan tak bernyawa akibat gantung diri pada 10 Oktober lalu.
Hasil pemeriksaan polisi menunjukkan, remaja itu sempat berselisih paham dengan orang tuanya.
Kasatbinmas Polres Malang AKP Sugik Hernawan mengatakan, pihak kepolisian selama ini sudah gencar mencegah bertambahnya angka bunuh diri.
Yang diyakini paling efektif adalah memberi penyuluhan kepada orang tua terlebih dahulu.
”Kami rutin memberi penyuluhan tentang parenting kepada ibu-ibu PKK, komunitas perempuan, hingga ke pengajian,” ujarnya.
Menurutnya, memberi nilai-nilai parenting yang baik pada ibu-ibu akan menular kepada anaknya.
Artinya para ibu dapat secara tepat memahami dan bersikap terhadap anaknya sesuai materi penyuluhan.
Harapannya, ketika anak dan orang tua akrab dan terbuka, angka kasus bunuh diri dapat ditekan.
Selain itu, para ibu juga bisa lebih mengerti dunia anak dan tidak sembarangan merespons sikap atau permintaan anak-anak.
Goal besarnya adalah para ibu dekat dengan anaknya menggunakan pendekatan yang ramah dan lemah lembut.
Sehingga, anak dapat terbuka pada orang tua dan berani menceritakan kesulitan-kesulitan yang dialami agar tidak dipendam sendiri.
“Penyuluhan juga rutin kami lakukan kepada anak-anak di jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi,” lanjut Sugik.
Misalnya dengan deklarasi anti bullying dan seimbang dalam menjalankan kehidupan.
Karena keseimbangan pemikiran sosial, ekonomi, hingga spiritual sangat efektif mencegah depresi.
Waspadai Percobaan Bunuh Diri
Angka tak kalah mengkhawatirkan juga terjadi di Kota Malang.
Data kepolisian dan jejak digital pemberitaan menunjukkan, pada 2022 terdapat 9 kasus bunuh diri dan 3 kasus percobaan bunuh diri.
Kemudian melonjak pada 2023 dengan 25 kasus bunuh diri dan 2 kasus percobaan bunuh diri.
Sementara tahun in terdapat 8 kasus bunuh diri dan 2 kasus percobaan bunuh diri.
Kasus percobaan bunuh diri pernah dua kali ditemukan di Jembatan Soekarno-Hatta.
Percobaan bunuh diri dilakukan seorang mahasiswa laki-laki dan perempuan muda.
Beruntung upaya itu berhasil digagalkan.
Kini, Pemkot Malang telah memasang pembatas besi di sejumlah jembatan agar tidak dijadikan tempat bunuh diri.
Wakasat Reskrim Polresta Malang Kota AKP Sukoco menjelaskan, perlu ada pendalaman tentang latar belakang orang melakukan bunuh diri.
Temuan itu kemudian bisa menjadi bahan untuk merumuskan langkah pencegahan.
”Kita tidak bisa melihat orang dari tampak luarnya saja,” ungkap pria yang pernah bertugas di Kabupaten Jombang tersebut.
Jika ada kasus bunuh diri atau percobaan bunuh diri, polisi akan mengarahkan keluarga maupun korban ke fasilitas kesehatan.
Misalnya saja kepada psikolog, psikiater, atau pihak-pihak lain yang memiliki kompetensi.
Permudah Akses ke Psikolog
Kota Batu yang dikenal nyaman dan memiliki banyak tempat wisata pun tak steril dari kasus bunuh diri.
Jumlahnya memang jauh di bawah Kabupaten dan Kota Malang.
Selama tiga tahun terakhir tercatat lima kasus.
Masing-masing dua kasus pada 2022 dan 2023, sementara tahun ini terdata satu kasus.
Mayoritas korbannya orang dewasa.
Kasi Humas Polres Batu Ipda Trimo mengatakan, penyebab terbanyak kasus bunuh diri di Kota Batu adalah sakit menahun.
Misalnya sakit diabetes.
Biasanya korban sudah mencoba berbagai upaya pengobatan tetapi tak kunjung sembuh.
Kemudian mulai timbul rasa putus asa dan ada pemikiran untuk mengakhiri hidup.
Ada juga kasus bunuh diri karena faktor ekonomi.
Misalnya yang terjadi di Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu, pada 30 Mei 2024.
Seorang pria dewasa ditemukan tewas tergantung di pohon nangka area pemakaman umum desa tersebut.
Pihak keluarga bercerita, sehari sebelumnya korban pamit untuk mencari pekerjaan.
Diduga korban frustrasi lantaran sulit mencari kerja.
Upaya pencegahan dilakukan dengan mengerahkan Bhabinkamtibmas dan polisi RW.
Mereka aktif melakukan penyuluhan dan dialog bersama warga.
Upaya lainnya adalah menyediakan layanan konseling oleh psikolog.
”Dinkes juga menyediakan psikolog klinis. Di Puskesmas Batu sudah ada,” ujar Kabid Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu dr Susana Indahwati.
Yang juga perlu diwaspadai, lanjut Susana, adalah tandatanda orang mau bunuh diri.
Pihaknya bahkan pernah tidak kali menangani orang yang mencoba mengakhiri hidup.
”Jika ada anggota keluarga yang terlihat stress berat dan mengatakan ingin mati saja, segera bawa ke psikolog atau psikiater terdekat. Dalam kondisi itu, perang orang terdekat sangat penting,” imbuhnya.
Sementara itu, Psikolog Klinis Puskesmas Batu Sayekti Pribadiningtyas menyebut percobaan bunuh diri yang pernah dia tangani berada pada rentan usia 25-45 tahun.
Terdiri dari dua perempuan dan satu laki-laki.
Penyebabnya adalah masalah rumah tangga, utang, dan patah hati.
Untungnya segera mendapatkan akses psikolog, sehingga cepat tertangani dan terselamatkan.
”Mereka sudah lebih baik dan mendapat terapi berkala,” ujarnya. (aff/mel/zal/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana