MALANG RAYA Meski materi artificial intelligence (AI) dan coding belum diterapkan secara resmi di sekolah sekolah, sejumlah lembaga pendidikan mulai menerapkannya.
Untuk lebih memperdalam, beberapa sekolah membuka ekstrakurikulernya.
Seperti di MTs Negeri 1 Kota Malang.
Dalam empat tahun terakhir, sekolah di Jalan Bandung itu membuka ekstrakurikuler robotik dan coding. Di dalam nya terdapat pengenalan AI.
Ada 154 siswa yang mengikuti dua ekstrakurikuler itu. Materi yang diberikan tentu lebih banyak dibanding saat mata pelajaran (mapel) teknologi informasi dan komunikasi (TIK) disampaikan di kelas.
”Kalau di pelajaran TIK bia sanya hanya pengenalan coding dasar seperti logika pemrograman,” kata Guru TIK MTsN 1 Kota Malang Bagas Widyantoro.
Selain logika pemrograman, ada pengenalan tools yang ada di Microsoft Word.
Sementara dalam ekstrakurikuler, materi yang di berikan lebih beragam.
Dimulai dari logika untuk menyelesaikan masalah secara sistematis dan efisien.
Sebab, di tahap itu ada banyak masalah yang harus dihadapi di komponen elektronika.
Materi selanjutnya berupa pengetahuan mengenai bahasa pemrograman.
Seperti flowchart, yakni diagram untuk menampilkan langkah langkah proses yang mendetail dari suatu program dalam bentuk simbol.
Selanjutnya materi Bahasa C++ untuk membuat aplikasi, mengembangkan perangkat lunak, dan sistem komputer. Dalam ekstrakurikuler robotik juga diajarkan tentang AI.
Sebab, robot saat ini kerap dilengkapi AI untuk memberi informasi dan arahan.
Tidak hanya itu, ada pula materi materi mengenai pemahaman dasar dasar komponen elektronika seperti LED, lampu indikator, sensor, hingga penggerak roda.
”Kalau siswa sudah memahami, untuk ekstrakurikuler coding biasanya
kami ajak untuk membuat game edukasi. Sementara di ekstrakurikuler robotik kami ajak memanfaatkan fasilitas robot yang dimiliki,” terang Bagas.
Dalam mendukung ekstrakurikuler, ada beberapa fasilitas yang dimiliki MTsN 1 Kota Malang.
Seperti robot line follower (robot yang bisa bergerak mengikuti garis) sebanyak enam unit, robot sumo lima unit, dan komputer.
Spesifikasi minimal komputer yakni core i3, RAM minimal 4 gb, dan SSD.
Fasilitas itu diperlukan karena komputer butuh ketahanan untuk membuka banyak program.
”Fasilitas yang disediakan sekolah ada 100 komputer. Tapi kalau hanya untuk pelajaran TIK biasanya siswa membawa (laptop) sendiri,” jelasnya.
Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Kota Malang Abdul Mughni menyebut, dari 116 madrasah, ada 10 madrasah yang mendorong pembelajaran berbasis AI dan coding.
Seperti MI AlHuda, MA Al Irtiqo, MIN 2 Kota Malang, dan MA Muhammadiyah.
”Kebetulan sejak awal 2023, pembelajaran digital sudah diresmikan menteri agama periode sebelumnya (Yaqut Cholil Qoumas),” terang Mughni.
Saat itu, Yaqut meresmikan madrasah digital moderat.
Dari yang semula enam madrasah, sekarang semakin banyak yang mengenalkan AI dan coding.
Kendati demikian, untuk menjadi mata pelajaran resmi, pihaknya masih menunggu petunjuk dari pemerintah pusat.
Sebab, saat ini fasilitas yang di miliki belum banyak.
Software coding belum support dengan komputer milik siswa.
Serta mayoritas SDM merupakan tenaga profesional dari luar sekolah.
Di Kabupaten Malang, data Dinas Pendidikan (Dindik) mencatat sudah ada 10 sekolah yang menerapkan pembelajaran AI dan coding.
Yakni SMPN 4 Kepanjen, SMPN 1 Singosari, SMPN 2 Singosari, SMPN 3 Singosari, SMPN 6 Singosari, SMPN 1 Karangploso, SMPN 5 Karangploso, SMPN 1 Lawang, SMPN 2 Lawang, dan SMPN 3 Lawang.
Kepala SMPN 4 Kepanjen Farida Surtikanti menjelaskan, di sekolahnya ada satu kelas digital per jenjang nya.
Jika ditotal ada tiga kelas.
Ada berbagai pelajaran tambahan yang diberikan.
Mulai dari pemrograman website, desain grafis, digital marketing, hingga Internet of Things (IoT).
”Di dalam IoT itu ada materi terkait coding. Materi itu tidak hanya diajarkan di kelas digital. Semua kelas juga kami ajarkan,” kata dia saat ditemui kemarin (22/11).
Coding yang diajarkan pun secara bertahap sesuai dengan jenjangnya.
Mulai dari pengenalan dasar coding, coding drag and drop, hingga bahasa pemrograman sederhana.
Di SMPN 4 Kepanjen, bahasa pemrograman yang diajarkan yakni phython.
Materi yang diajarkan meliputi pengenalan dan instalasi python serta dasar pemrograman.
Di dalam dasar pemrograman, siswa diajarkan terkait variabel dan tipe data, operator, kondisi if else, perulangan, list and dictionaries, function, serta class and object.
”Dari pembelajaran itu, anak anak bisa membuat aplikasi sederhana yang memudahkan mereka, seperti aplikasi literasi,” kata Farida.
Terkait kendala, terkadang jaringan internet terbatas jika digunakan banyak anak.
Itu cukup menghambat proses pembelajaran.
Selain itu, SDM di SMPN 4 Kepanjen juga belum seluruhnya mampu mengajar di kelas digital. Sehingga mereka bekerja sama dengan sekolah lain.
SDM dan Sarana Prasarana Jadi Kendala Utama
Terpisah, Wakil Ketua MKKS SMPN Kabupaten Malang Muriadi menyebut, penerapan AI dan coding cukup positif bagi siswa siswi.
Sebab, pada era digital seperti sekarang, pelajar juga perlu dididik sesuai dengan perkembangannya.
Namun, pembelajaran harus disesuaikan dengan jenjangnya.
Misalnya, untuk SMP, dimulai dengan dasar dasar coding.
”Sayangnya, sarana dan prasarana belum tersedia merata di seluruh sekolah. Sehingga membutuhkan peran pemkab untuk memenuhinya,” kata dia.
Di tempat lain, beberapa sekolah di Kota Batu juga sudah mengimplementasikan pembelajaran AI dan coding.
Seperti dilakukan SMP Muhammadiyah 8 Batu.
Kepala SMP Muhammadiyah 8 Batu Windra Rizqyana mengatakan, pembelajaran itu sudah diterapkan sejak dua tahun terakhir.
Baik di dalam kelas maupun pada pembelajaran esktrakurikuler di sekolah.
”Semuanya diampu oleh guru TIK di masing masing jenjang,” terangnya.
Dia menyebut bila AI membuat pembelajaran lebih menarik bagi siswa.
Sebab, AI banyak dimanfaatkan guru untuk membuat presentasi atau materi ajar.
”Siswa memang lebih terkesan dengan pembelajaran yang terasa baru dan interaktif,” ujarnya.
Untuk pembelajaran coding, Windra menyebut bila saat ini baru diajarkan di ekstrakurikuler saja.
Itu karena coding memerlukan daya pikir yang lebih kompleks.
Namun, sepan jang dua tahun terakhir, banyak siswa yang mengikuti ekstrakurikuler tersebut.
”Bahkan kami juga sudah melahirkan siswa yang berprestasi di ajang coding nasional,” jelasnya.
Itu artinya, animo siswa untuk mempelajari sesuatu yang baru cukup besar.
Karena itu pihaknya optimistis AI dan coding bakal resmi diajarkan sebagai mata pelajaran.
”Memang masih ada kendala pada sarana prasarana yang harus mumpuni,” ujarnya.
Itu karena sekolah perlu menyiapkan laboratorium komputer dengan spesifikasi khusus.
Sekolah juga perlu upgrade setidaknya menjadi smart class yang mendukung pembelajaran IT.
Terpisah, salah seorang guru TIK di SD negeri di Kota Batu Taruna Islami mengatakan jika pembelajaran coding sebenarnya tidak begitu rumit.
”Kalau jenjang SD memang lebih ke pengenalan berpikir komputasional dulu,” jelasnya.
Dirinya menilai, ketakutan para pendidik tentang munculnya AI dan coding karena dinilai terlalu rumit.
Padahal, coding yang dimaksud bukan coding yang menggunakan source code rumit dalam bahasa pemrograman. Namun coding di tingkat paling dasar.
”Kalau saya dalam mengajar TIK disisipi dengan metode blockly,” ujarnya.
Coding sejenis itu diaplikasikan dalam bentuk mencocokkan gambar, pengenalan pola, algoritma, dan sebagainya.
Karena itu, penerapannya tidak serumit yang dibayangkan sejumlah guru. Dia menambahkan, kemampuan mengajarkan hal semacam itu cukup tricky bagi guru yang belum pernah mengerti sebelumnya. Apalagi, di jenjang SD, karena belum banyak guru lulusan informatika.
”Akhirnya jadi PR juga bagi sekolah untuk mencari SDM yang bisa mengajar itu,” tutur dia. (mel/yun/ori/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana