alexametrics
23.5 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Dua Skema Pengelolaan Wisata Wendit

PAKIS – Ada wacana baru terkait pengelolaan Wisata Air Wendit. Setelah hampir mati suri akibat pandemi dua tahun belakangan ini, kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang menyiapkan dua skema pengelolaan wisata di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang itu.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kabupaten Malang Dr Made Arya Wedanthara mengatakan, ada kemungkinan wisata yang identik dengan sumber mata air itu bakal di take over oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemkab Malang.

Tapi bukan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Jasa Yasa yang mengelola, melainkan Perumda Tirta Kanjuruhan (sebelumnya disebut PDAM). “Untuk Wendit memang ada beberapa skema yang kami siapkan. Bisa dengan swasta (investor) atau BUMD,” kata Made, kemarin.

”Arah kami, kalau memang masih ada peluang, BUMD seperti Perumda Tirta Kanjuruhan yang mengelola,” tambah pejabat eselon II B itu.

Alasan Made memercayakan kepada Perumda Tirta Kanjuruhan karema selama ini sudah sumber mata air Wendit. Utamanya dalam hal penyediaan air bersih, baik untuk warga Kabupaten Malang maupun Kota Malang. “Selain mengelola air, mereka (Perumda Tirta Kanjuruhan) juga bisa menjaga kelestarian lingkungannya. Sekaligus punya wisata yang juga basic-nya air. Itu yang menjadi pertimbangan kami,” terang Made.

Meski demikian, ada beberapa tahap yang tetap akan dilakukan ketika pengelolaan wisata air tersebut sudah berprogres, misalnya terkait lelang. “Kalau harus dilelang ya tetap akan kami jalankan. Tapi kalau dari segi pemanfaatan, menurut kami lebih baik difokuskan pada BUMD saja,” kata dia.

Yang menjadi point plus, kata Made, pemerintah tidak perlu repot menyewa aset daerah. “Karena nanti (jika dikelola investor) sewanya juga tetap masuk Perumda Tirta Kanjuruhan. Jadi kenapa tidak langsung saja mereka yang mengelola sekalian wisatanya,” beber Made.

Untuk merealisasikannya, diperlukan perubahan regulasi. Sebab sejak dilepas statusnya sebagai BUMD, Wisata Air Wendit berstatus sebagai UPTD di bawah Disparbud Kabupaten Malang.

Dari aspek kunjungan, bapak tiga anak itu menyebut bahwa sumbangsih Wendit pada pendapatan daerah nihil alias nol rupiah. “Karena kondisi pandemi, sehingga selama hampir dua tahun ini tutup. Kalau pun buka, masyarakat juga sudah nggak begitu minat,” terangnya.

Maju mundurnya calon investor ini juga dirasa berdampak signifikan oleh pengelola. Koordinator dan Pengawas Wisata Air Wendit Herry Suprianto menambahkan, kunjungan wisatawan relatif minim. “Kalau akhir pekan maksimal 200 sampai 300 pengunjung. Padahal dulu bisa 3 ribu sampai 5 ribu pengunjung,” kata Herry saat dijumpai di Wendit kemarin.(iik/dan)

PAKIS – Ada wacana baru terkait pengelolaan Wisata Air Wendit. Setelah hampir mati suri akibat pandemi dua tahun belakangan ini, kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang menyiapkan dua skema pengelolaan wisata di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang itu.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kabupaten Malang Dr Made Arya Wedanthara mengatakan, ada kemungkinan wisata yang identik dengan sumber mata air itu bakal di take over oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemkab Malang.

Tapi bukan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Jasa Yasa yang mengelola, melainkan Perumda Tirta Kanjuruhan (sebelumnya disebut PDAM). “Untuk Wendit memang ada beberapa skema yang kami siapkan. Bisa dengan swasta (investor) atau BUMD,” kata Made, kemarin.

”Arah kami, kalau memang masih ada peluang, BUMD seperti Perumda Tirta Kanjuruhan yang mengelola,” tambah pejabat eselon II B itu.

Alasan Made memercayakan kepada Perumda Tirta Kanjuruhan karema selama ini sudah sumber mata air Wendit. Utamanya dalam hal penyediaan air bersih, baik untuk warga Kabupaten Malang maupun Kota Malang. “Selain mengelola air, mereka (Perumda Tirta Kanjuruhan) juga bisa menjaga kelestarian lingkungannya. Sekaligus punya wisata yang juga basic-nya air. Itu yang menjadi pertimbangan kami,” terang Made.

Meski demikian, ada beberapa tahap yang tetap akan dilakukan ketika pengelolaan wisata air tersebut sudah berprogres, misalnya terkait lelang. “Kalau harus dilelang ya tetap akan kami jalankan. Tapi kalau dari segi pemanfaatan, menurut kami lebih baik difokuskan pada BUMD saja,” kata dia.

Yang menjadi point plus, kata Made, pemerintah tidak perlu repot menyewa aset daerah. “Karena nanti (jika dikelola investor) sewanya juga tetap masuk Perumda Tirta Kanjuruhan. Jadi kenapa tidak langsung saja mereka yang mengelola sekalian wisatanya,” beber Made.

Untuk merealisasikannya, diperlukan perubahan regulasi. Sebab sejak dilepas statusnya sebagai BUMD, Wisata Air Wendit berstatus sebagai UPTD di bawah Disparbud Kabupaten Malang.

Dari aspek kunjungan, bapak tiga anak itu menyebut bahwa sumbangsih Wendit pada pendapatan daerah nihil alias nol rupiah. “Karena kondisi pandemi, sehingga selama hampir dua tahun ini tutup. Kalau pun buka, masyarakat juga sudah nggak begitu minat,” terangnya.

Maju mundurnya calon investor ini juga dirasa berdampak signifikan oleh pengelola. Koordinator dan Pengawas Wisata Air Wendit Herry Suprianto menambahkan, kunjungan wisatawan relatif minim. “Kalau akhir pekan maksimal 200 sampai 300 pengunjung. Padahal dulu bisa 3 ribu sampai 5 ribu pengunjung,” kata Herry saat dijumpai di Wendit kemarin.(iik/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/