alexametrics
22.1 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Mengulik Satanic Finance, Buku Terduga Teroris yang Disita Densus 88

RADAR MALANG – Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 telah mengamankan beberapa barang bukti milik terduga teroris berinisial BS di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Selasa (2/3) kemarin. Selain sederet senjata tajam, Densus 88 juga menyita puluhan buku jihad, salah satunya buku berjudul ‘Satanic Finance’.

“Jadi benar pada pada hari ini Selasa (2/3) kami terima informasi dari Densus 88 Mabes Polri melakukan kegiatan kembali di wilayah Jawa Timur yaitu Malang, Surabaya, dan daerah Bojonegoro,” ujar Kabid Humas Polda Jatim Komisaris Besar Polisi Gatot Repli Handoko.

Buku karangan Riawan Amin yang membahas tentang praktek kotor yang dilakukan oleh para setan yang ingin mendominasi sektor ekonomi yang berkonsentrasi pada ekonomi keuangan dunia.

Setan yang disebut pada buku tersebut adalah mereka yang ingin menghancurkan ekonomi dunia, menggencarkan kemiskinan yang merujuk pada tindak kriminal yang memudarkan sisi kemanusiaan, serta membawa manusia terjerumus ke neraka.

Pada bab pertama buku tersebut membahas tentang ‘The Three Pillars of Evil’ diilustrasikan dengan dua ekor tikus yang awalnya hidup sejahtera, harmonis, dan rukun. Namun, keduanya berakhir miskin akibat dari sistem ekonomi yang buruk dari para setan.

Diawali dengan sistem penukaran uang kertas yang diciptakan tanpa didukung dengan logam mulia. Ketika uang sudah melebihi jumlah barang maka terjadilah inflasi besar dan harga barang jasa terus meningkat sampai menimbulkan kemiskinan.

Berlanjut pada syarat cadangan wajib yang mengatur setiap bank untuk menyimpan sebagian kecil dana yang disetorkan sebagai cadangan untuk memenuhi kondisi normal permintaan deposan untuk menarik depositonya.

Ada tiga konsekuensi utama berlakunya bunga inilah yang disebut ‘The Three Pillars of Evil’. Pertama bunga akan terus tumbuh meski sudah mencapai titik jenuh. Kedua, bunga mendorong persaingan, dan ketiga cenderung menyejahterakan golongan minoritas.

Masuk bab kedua yang membahas secara gamblang tentang hutang yang berasal dari individu maupun negara. Dalam dunia setan, hutang merupakan cara paling mudah untuk menjerumuskan manusia ke dalam dosa.

Hutang mayoritas dipengaruhi oleh gaya hidup konsumtif, padahal barang yang dibeli merupakan barang tersier. Parahnya lagi, dunia kini mengenalkan sistem kartu kredit yang berfungsi untuk menggandakan uang.

Hutang mendorong manusia untuk menjual segala asetnya ketika sudah terlilit dan tidak sanggup membayar. Inilah produk unggulan setan yang biasa terlihat dimanapun dan semakin jelas di dunia pemerintahan.

Pada bab ketiga menjelaskan bagaimana mata uang Dolar bisa melakukan eksploitasi. Inilah yang dilakukan oleh penguasa untuk mendapatkan semua keuntungan tanpa harus melakukan apa-apa.

Kemudian belanjut pada pengubahan mata uang kertas Dolar menjadi sebuah aset yang berharga dan dijadikan sebagai alat kekacauan, kemiskinan, eksploitasi, dan memperlancar peperangan.

Dan disitulah awal mula konflik yang terjadi, dimana hanya Amerika Serikat yang memiliki kewenangan untuk mencetak Dolar. Kenetralan mata uang ini pun dipertanyakan sebab semua barang atau jasa bisa ditukar dengan Dolar.

Bab keempat menjelaskan bagaimana bank beroperasi dengan uang kertas menggantikan Dinar dan Dirham. Sebab kedua uang tersebut merupakan logam mulia yang diciptakan untuk mengukur nilai dan harga.

Dinar dan Dirham diciptakan dari dua logam yang sangat bernilai yakni dari emas dan perak sebagai alat tukar yang universal. Di mata setan, keduanya merupakan alat yang akan merusak ‘The Three Pillars of Evil’.

Disebutkan, ketika pemerintah telah mengatakan bahwa uang tak bisa lagi menggantikan logam, di sinilah bank semakin menjadi-jadi secara otomatis logam tersebut tak akan bisa terbayar dengan uang.

Pada bab kelima, muncul sebutan ‘El Libertador’ yaitu perlawanan dengan menyerukan sistem baru untuk merobohkan dominasi sistem bunga yang merupakan salah satu pilar setan.

Di sinilah mulai muncul istilah ‘syariah’, para setan tak habis ide untuk mulai mempengaruhi pemerintah. Dengan berdirinya bank syariah suku bunga (interest) tak lagi membawa riba, pengaruh kuat ini yang mempersulit setan untuk mendapat untung.

Penulis : M. Ubaidillah

RADAR MALANG – Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 telah mengamankan beberapa barang bukti milik terduga teroris berinisial BS di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Selasa (2/3) kemarin. Selain sederet senjata tajam, Densus 88 juga menyita puluhan buku jihad, salah satunya buku berjudul ‘Satanic Finance’.

“Jadi benar pada pada hari ini Selasa (2/3) kami terima informasi dari Densus 88 Mabes Polri melakukan kegiatan kembali di wilayah Jawa Timur yaitu Malang, Surabaya, dan daerah Bojonegoro,” ujar Kabid Humas Polda Jatim Komisaris Besar Polisi Gatot Repli Handoko.

Buku karangan Riawan Amin yang membahas tentang praktek kotor yang dilakukan oleh para setan yang ingin mendominasi sektor ekonomi yang berkonsentrasi pada ekonomi keuangan dunia.

Setan yang disebut pada buku tersebut adalah mereka yang ingin menghancurkan ekonomi dunia, menggencarkan kemiskinan yang merujuk pada tindak kriminal yang memudarkan sisi kemanusiaan, serta membawa manusia terjerumus ke neraka.

Pada bab pertama buku tersebut membahas tentang ‘The Three Pillars of Evil’ diilustrasikan dengan dua ekor tikus yang awalnya hidup sejahtera, harmonis, dan rukun. Namun, keduanya berakhir miskin akibat dari sistem ekonomi yang buruk dari para setan.

Diawali dengan sistem penukaran uang kertas yang diciptakan tanpa didukung dengan logam mulia. Ketika uang sudah melebihi jumlah barang maka terjadilah inflasi besar dan harga barang jasa terus meningkat sampai menimbulkan kemiskinan.

Berlanjut pada syarat cadangan wajib yang mengatur setiap bank untuk menyimpan sebagian kecil dana yang disetorkan sebagai cadangan untuk memenuhi kondisi normal permintaan deposan untuk menarik depositonya.

Ada tiga konsekuensi utama berlakunya bunga inilah yang disebut ‘The Three Pillars of Evil’. Pertama bunga akan terus tumbuh meski sudah mencapai titik jenuh. Kedua, bunga mendorong persaingan, dan ketiga cenderung menyejahterakan golongan minoritas.

Masuk bab kedua yang membahas secara gamblang tentang hutang yang berasal dari individu maupun negara. Dalam dunia setan, hutang merupakan cara paling mudah untuk menjerumuskan manusia ke dalam dosa.

Hutang mayoritas dipengaruhi oleh gaya hidup konsumtif, padahal barang yang dibeli merupakan barang tersier. Parahnya lagi, dunia kini mengenalkan sistem kartu kredit yang berfungsi untuk menggandakan uang.

Hutang mendorong manusia untuk menjual segala asetnya ketika sudah terlilit dan tidak sanggup membayar. Inilah produk unggulan setan yang biasa terlihat dimanapun dan semakin jelas di dunia pemerintahan.

Pada bab ketiga menjelaskan bagaimana mata uang Dolar bisa melakukan eksploitasi. Inilah yang dilakukan oleh penguasa untuk mendapatkan semua keuntungan tanpa harus melakukan apa-apa.

Kemudian belanjut pada pengubahan mata uang kertas Dolar menjadi sebuah aset yang berharga dan dijadikan sebagai alat kekacauan, kemiskinan, eksploitasi, dan memperlancar peperangan.

Dan disitulah awal mula konflik yang terjadi, dimana hanya Amerika Serikat yang memiliki kewenangan untuk mencetak Dolar. Kenetralan mata uang ini pun dipertanyakan sebab semua barang atau jasa bisa ditukar dengan Dolar.

Bab keempat menjelaskan bagaimana bank beroperasi dengan uang kertas menggantikan Dinar dan Dirham. Sebab kedua uang tersebut merupakan logam mulia yang diciptakan untuk mengukur nilai dan harga.

Dinar dan Dirham diciptakan dari dua logam yang sangat bernilai yakni dari emas dan perak sebagai alat tukar yang universal. Di mata setan, keduanya merupakan alat yang akan merusak ‘The Three Pillars of Evil’.

Disebutkan, ketika pemerintah telah mengatakan bahwa uang tak bisa lagi menggantikan logam, di sinilah bank semakin menjadi-jadi secara otomatis logam tersebut tak akan bisa terbayar dengan uang.

Pada bab kelima, muncul sebutan ‘El Libertador’ yaitu perlawanan dengan menyerukan sistem baru untuk merobohkan dominasi sistem bunga yang merupakan salah satu pilar setan.

Di sinilah mulai muncul istilah ‘syariah’, para setan tak habis ide untuk mulai mempengaruhi pemerintah. Dengan berdirinya bank syariah suku bunga (interest) tak lagi membawa riba, pengaruh kuat ini yang mempersulit setan untuk mendapat untung.

Penulis : M. Ubaidillah

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/